Tampilkan postingan dengan label muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslimah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Desember 2011

Sukses Kerja, Sukses Rumah Tangga ~ Fresh 'n Inspiring

Sukses Kerja, Sukses Rumah Tangga ~ Fresh 'n Inspiring

Setiap insan mendambakan kesuksesan dalam hidupnya. Termasuk sukses kerja dan sukses dalam berumah tangga. Namun, kenyataannya tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan, bukan? Inilah yang menjadi latar belakang diadakannya talkshow yang telah diselenggarakan Rabu (20/12) kemarin di Aula Gedung B DJBC.


Dalam rangka memeriahkan syiar menyambut Tahun Baru islam, DKM mengundang dua narasumber yang begitu romantis yaitu Satria Hadi Lubis (SHL) dan Kingkin Anida yang notabene adalah pasangan suami istri. Jarang-jarang melihat sepasang suami istri satu panggung untuk menjadi narasumber sekaligus.

Dalam atmosfer yang fresh dan santai kedua narasumber menyampaikan materi terkait kesuksesan dalam bekerja dan berumahtangga. Ditambah Om Momod (Moderator,-red) yang mampu memutar jalannya talkshow dengan lebih segar dan menarik. Siapa lagi kalo bukan, the one and only Mr.Ardani.

Talkshow dimulai dengan penjelasan pa SHL terkait defini sukses. Bukan kaya? bukan pangkat? bukan juga popularitas? kali ini saya setuju dengan dosen STAN ini yang juga merupakan trainer life improvement. Sukses dapat diartikan sebagai berikut:
1. Keseimbangan Hidup
2. Bermanfaat Bagi Orang Lain
3. Proses Mencapai Cita-cita Mulia
4. Menikmati Kemenangan-kemenangan
5. Akhir yang Baik

Penekanan makna sukses adalah dalam hal menuju keseimbangan hidup. Keseimbangan internal terkait akal yang cerdas, hati yang hidup dan jasad yang sehat. Sedangkan, keseimbangan eksternal adalah keseimbangan peran dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.

Terkait sukses dalam keluarga Ibu Kingkin Anida menjelaskan JANGAN jadikan keluarga seperti uraian berikut ini:
- Keluarga Kuburan yang kering akan sentuhan spiritual,
- Keluarga Televisi yang kering akan sentuhan intelektual tanpa budaya membaca atau diskusi. Atau dengan kata lain hanya standby di depan TV.
- Keluarga Terminal yang kering dengan sentuhan emosional, rumah hanya sebagai tempat singgah untuk rehat dan tidur saja.
- Keluarga Rumah Sakit yang tidak memperhatikan kesehatan tubuh.

Tetapi, Jadilah layaknya Keluarga Surga seperti yang diajarkan Nabi, "Baiti Jannati" Rumahku Surgaku tempat berbagi kasih sayang juga tempat menempa spiritual, akal dan emosional.

Selama pemaparan, sepasang narasumber ini beberapa kali saling berkomentar terkait rahasia-rahasia diantara mereka berdua (tentunya bukan aib ya). Sempat beberapa momen mereka beradu argumen tentang watak suami begitu sebaliknya uniknya watak istri. Hingga sampailah pada sesi terakhir yaitu, setiap peserta diminta menuliskan surat cinta kepada pasangannya (tentunya suami/istri yang sah ya).

Hebohnya, sang moderator Pak Ardani diminta untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada sang istri yang memang hadir juga sebagai peserta. Dengan wajah tersipu beliau menyampaikan isi hatinya,
"Jujur baru kali ini saya harus mengekspresikan rasa cinta kepada istri dengan kata-kata."
"I love you full"
Sontak audiens tertawa mendengar ekspresi cinta beliau yang singkat namun mendalam

pa Ardani katakan cinta

Tak lupa, salah satu Direktur diadulat untuk maju ke depan guna mengekspresikan rasa cintanya kepada sang istri. Awalnya beliau menolak untuk blak-blakan, namun akhirnya luluh juga. Sang istri yang juga hadir mewakili ibu-ibu dharmawanita tak kuasa untuk berdiri, meski akhirnya maju juga. Jangan tanya ya kata-kata yang diucapkan sang Direktur? Very Romantic sampai sang Istri berkaca-kaca.

salah satu direktur katakan cinta

Jujur, ini acara talkshow kantor yang begitu mengesankan. Alhamdulillah, tidak rugi untuk meluangkan waktu selama dua jam (secarra gratis pula hehe). Terima kasih kepada Pak SHL dan Bu Kingkin Anida serta seluruh panitia yang terlibat guna suksesnya acara ini.

Best Regards
Iswandi Banna
Rawamangun, 21/12/11

Sabtu, 09 Juli 2011

3 trik membaca buku lebih efektif

Pertama, terapkanlah teknik membaca kontemplatif. "Ketika membaca buku, jangan dari awal sampai akhir lewat begitu saja, kemudian lupa apa yang dibacanya,' Bagaimana cara membaca kontemplatif? saat membaca buku, peganglah pensil atau pulpen. Beri catatan pada bagian yang menurut Anda menarik. Catatan itu bisa berupa komentar, ketidaksamaan pendapat atau apa pun.

"Itu kan buku Anda sendiri, tidak masalah jadi penuh coretan. Caranya, pegang buku, pegang pensil dan bolpen, corat coret. Biar saja. Kasih komentar di bagian yang dibaca. Coretan ini akan melatih, mencerdaskan pikiran Anda. Tandai, kasih komentar. Lingkari, kasih tanda seru atau memberi pendapat tentang apa yang Anda baca. Misal, anda tidak suka, tidak sependapat,dan sebagainya. Jangan biarkan buku tetap rapi,
Trik kedua, buatlah mind mapping. Caranya, membuat garis besar isi buku setelah selesai membacanya.

Dan ketiga, berikan catatan pada notes kecil untuk mencatat ide yang muncul dari buku yang Anda baca. "Pengetahuan tidak ada artinya kalau tidak memunculkan ide. Misalnya, bikin catatan-catatan dari baca buku ini (yang dibaca), apa yang Anda dapatkan. Sebuah buku akan berkesan kalau berhasil membuat kita terinspirasi dan membuat kita punya ide untuk melakukan sesuatu," Anthony dio Martin

Kamis, 09 Juni 2011

Menikmati pernikahan

Kepada Suami
jangan beri aku bunga
lalai aku nanti
memandanginya dan menciumi
wanginya
jangan pula kau beri aku
setumpuk busa berwarna biru
sibuk nanti aku
membaca novel seraya menikmati empuknya
tak usah pula kau hadiahi aku
dengan sebatang coklat
yang rasanya memabukkan
karena akan rusak gigiku
dan mencuri waktuku
biarkan aku bercanda dengan mautku
karena aku tak tahu lagi
kapan ia hendak menjemputku
Menjadi istri, dan juga menjadi suami, adalah proses pembelajaran yang terus menerus. Ia tak sekedar membutuhkan naluri, insting atau apapun namanya, tetapi ia membutuhkan banyak hal yang mendukungnya untuk senantiasa siap dalam kondisi belajar. Belajar tentang apapun juga, agar pernikahan  sebagai sebuah tangga pendakian  menjadi pengantar yang mengasyikkan untuk mencapai ridhaNya.
Bukan lagi sebagai sebuah siksaan, rutinitas yang menjenuhkan atau kebosanan yang dipelihara karena tak ada lagi yang lainnya. Tak ada satu orang yang berhak lebih dominan dibanding yang lainnya, atau tak ada yang  boleh merasa terzhalimi oleh pasangannya. Ia adalah bejana bening yang ditentukan warna dan isinya oleh suami dan istri secara bersama-sama.
Itu sebabnya, pernikahan sebagai sebuah ibadah yang “unik”, karena tak semata-mata menyangkut keinginan pribadi, tetapi mesti mengkompilasi, mengkompromi dan menoleransi cita-cita dan harapan, setidaknya, dua orang, dinamai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai nisfud din, setengah agama.
Tak mudah dan tak bisa begitu saja memulas warna pernikahan itu menjadi warna harmonis yang layak dipamerkan di sebuah galeri sebagai al usroh al mitsaliyah, rumah tangga percontohan. Orang–orang di luar mereka memandangnya dengan keinginan untuk meneladaninya, tetangga-tetangga mereka merasa nyaman dengan kehadirannya, anak-anak di sekitarnya menjadikan mereka sebagai guru yang layak didengar. Duhai, alangkah indahnya kotak cantik yang bernama pernikahan itu.
Banyak akhwat, dan mungkin juga ikhwan, membayangkan bahwa pernikahan itu ibarat melewati jalan tol dengan mobil keluaran terbaru dan di pinggir-pinggir jalan dihiasi rumpun-rumpun mawar yang baunya semerbak dan warnanya meneduhkan mata. Mereka tak sepenuhnya salah. Asal mereka tahu, setelah jalan tol itu berlalu, mungkin mereka harus berbelok di jalan becek atau mobilnya ditilang oleh polisi, atau terbentang sungai tanpa jembatan, atau yang lain.
Pernikahan itu, tak hanya wangi seperti di saat walimatul ursy. Mungkin ada kalanya kompor minyak tanah perlu dicabuti sumbunya sehingga bau minyak tanah melekat di antara jari-jari. Atau saat sang bayi pipis dan buang air besar,  ia menjadi belepotan dengannya. Tak masalah sebenarnya, toh setelah itu semuanya mudah dibersihkan. Yang menjadi masalah, bila kesan yang tertanam di benak salah satu di antara mereka adalah kesan ketika pasangannya tak sedang “wangi”. Adakah yang lebih bisa dijadikan hiburan di saat gundah dengan hal ini  bila memori penuh dengan hal yang tak mengenakkan?
Saat marah, saat tak berkenan, saat berkata dengan nada tinggi, saat tak melepas kepergian dengan senyum kerelaan, saat tak menyambut pulang dengan wajah sumringah, saat akhir bulan tak ada lagi beras yang bisa dijadikan bubur untuk mengganjal perut yang lapar, saat rumah berantakan oleh kertas dan sampah makanan. Waduh! Mengapa dia menjadi suamiku? Waduh! Wengapa pula dia menjadi istriku?
Ada yang bercerita, sesungguhnya ia sama sekali tak bermasalah dengan suaminya. Ia menerima dengan cinta yang datang perlahan, ia mendapatkan kecocokan  dan ia dapat tertawa lepas bersamanya. Lalu apa masalahnya? Ia merasa mereka tak saling menulari dalam kebaikan tapi  terkadang  tertular dalam keburukan. Satu tak tilawah yang satu ikut-ikutan. Satu sulit (ini masalah kebiasaan sebenarnya, bukan stempel yang tak bisa diubah!) menghafal Al Qur’an, eh yang lainnya juga.
“Benar-benar defisit hafalan saya, dibandingkan ketika masa gadis dulu!”
Atau kebiasaan buruk lainnya seperti menggigit jari kuku, menaruh handuk sembarangan, lupa meletakkan kunci. Wah…wah…wah… , inilah kenikmatan dunia yang bernama pernikahan!
Betapa kebutuhan untuk menjadi diri sendiri adalah keniscayaan dalam pernikahan. Siapapun dia, dia membutuhkan ruang untuk diterima secara utuh dan  dihargai pemberiannya dengan kelapangan dada. Tidak selamanya diharuskan  ada tadhiyyah dalam masalah- masalah tertentu, apalagi bila masalah itu tak melanggar syar’i. Selera, misalnya. Mengapa ia harus meniadakan keinginannya membeli tahu pong, makanan favoritnya, gara-gara suaminya lebih menyukai tempe mendoan? Mengapa ia harus memaksakan diri kalau itu menyiksanya?
Meski tak ada yang menyalahkannya ketika akhirnya ia bisa “membuang” seleranya dan menggantikannya dengan selera pasangannya. Apalagi bila hal itu berdiri di atas nama cinta. Silakan, bila tak ada yang merasa terkalahkan hanya gara-gara tahu dan tempe! Semua itu masalah pilihan, tak ada yang lebih benar dibanding lainnya.
Pernikahan membutuhkan energi untuk ikhlas memberi sekaligus menerima. Dengan energi keikhlasan inilah sesungguhnya roda pernikahan itu akan menggelinding mulus meski berbagai halangan dari pasir, kerikil, lumpur becek,  sampai jalan berapit jurang akan mudah dilalui. Tak ada yang merasa lebih berharga dan lebih berjasa satu dengan lainnya. Juga tak boleh ada yang menghitung mengeluarkan terlalu banyak bila dibandingkan dengan apa yang dia terima.
Bila ternyata Allah menghadiahi kita dengan pernikahan barakah, kita pun telah dapat mengecap makna sakinah, mawaddah, wa rahmah. Maka sesungguhnya ujian kita akan berbentuk lain.
Aisyah radhiyallahu anha,  istri terkasih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam meriwayatkan sebuah hadits panjang  tentang sebelas perempuan yang saling berjanji untuk jujur dan tidak saling merahasiakan sesuatu pun tentang tingkah laku suaminya. Ada Ummu Zar yang amat disayang oleh suaminya dan diberi berbagai macam pemberian. Meski akhirnya ia dicerai, Ummu Zar tahu, tak ada yang bisa menggantikan Abu Zar dan menyamai pemberiannya.
Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, pria teragung itu, dalam sabdanya kepada Aisyah, “Aku dan engkau ibarat Ummu Zar, tetapi Abu Zar menceraikan Ummu Zar, sedangkan aku tidak menceraikanmu.”
Seringkali, manusia menjadi lupa bila Allah memberinya ujian berupa kenikmatan. Padahal ketika ujian yang datang berupa kesedihan, ketidaknyamanan, masalah yang datang bertubi, ketidakcocokan dengan karakter pasangan atau sedikit kekurangan materi, maka ia akan datang bersimpuh  kepada Allah dengan sepenuh kerendahan hati, mengadu dan mengucurkan air mata agar Allah senantiasa membantunya menyelesaikan problemnya.  Bila yang terjadi sebaliknya, suami sayang istri, tidak perhitungan (baca: tidak pelit) ketika memberi, tak pernah saling bentak, bila marah cepat redanya dan sayangnya bertambah setelah itu, jarang yang menghiba-hiba kepada Allah agar amanah keserasian itu sampai ke surgaNya.
Itu sebabnya saya mengungkap hal ini dalam puisi kecil dan sederhana itu. Bahwa inti pernikahan, menurut saya, sesungguhnya adalah tarbiyah. Seorang suami men-tarbiyah istrinya dan sebaliknya. Meski tak secara formal, mereka paling berhak menjadi murabbi bagi lainnya. Karena mereka adalah dua sosok individu yang dipertemukan dan didekatkan Allah karena rahmatNya. Tidak ada hubungan yang istimewa dan erat sebagaimana hubungan antara suami dan istri. Tidak ada yang bisa menggantikan satu dengan yang lainnya. Pun, tidak ada relasi apapun yang bisa menyamai relasi berumahtangga.
Seorang suami, karena kedekatannya itu menjadi faham betul, kapan sang istri dalam kondisi futur. Begitu pula, sang istrilah yang paling mengerti sudah berapa hari, pekan bahkan bulan, sang suami tak tilawah Al Qur’an di rumahnya. Faktor inilah yang menjadikan tarbiyah berbasis rumah adalah tarbiyah yang efektif. Karena sang pengobat tahu penyakit mana yang mesti diobatinya terlebih dahulu.
Sayangnya, banyak rumah tangga ikhwah, tak seideal (kita berharap:  mungkin sedang menuju ideal), seperti konsep-konsep tarbiyah rumah tangga seperti yang ditulis di banyak buku. Betapa sibuk sang bapak men-tarbiyah sekelilingnya, remaja masjid, mahasiswa di kampus, teman-teman di kantornya atau taklim rutin bapak-bapak pengurus masjid, tetapi saking sibuknya, ia lupa bahwa istri dan anak-anaknya juga membutuhkan sentuhan indah dari lisannya. Bahkan untuk sekedar berbagi cerita.
Seringkali pula sang bapak beralasan, “Apapun yang bapak lakukan itu adalah tarbiyah buat kalian, jadi lihatlah tindakan bapak, perhatikan bagaimana bapak mengambil keputusan atau cara bapak menengahi perselisihan.”
“Inilah cara bapak mentarbiyah kalian. Jadi tak usahlah diformalkan seperti forum yang melingkar itu!”
Begitupun sang ibu. Ia adalah murabbi tangguh bagi mutarabbinya. Teman yang enak diajak berbagi. Empati dengan permasalahan akhwatnya. Mau berkorban menolong kebutuhan saudaranya. Tapi sang ibu seringkali lupa, bila ia membaca doa rabithah, dan menyebut serta membayangkan deretan wajah-wajah sahabatnya, nama sang suami terlupa disebutnya.
Itulah, bila kemudian ada yang mengeluhkan, mengapa rumah tangga dai tak berbeda jauh dengan rumah tangga pada umumnya, barangkali faktor tarbiyah ini tak menemukan titik penting yang bisa menyentuh kebutuhan para penghuninya. Biarlah tarbiyah itu seperti air mengalir, tak usah di-planning-planning. Sehingga tausiyah yang mestinya sarat makna menjadi forum interogasi yang tidak dirindui. Sehingga kata-kata hikmah yang diucapkan adalah kata-kata yang tak mengendap di hati, sekedar masuk telinga kanan keluar ke telinga kiri. Akibatnya, banyak masalah yang mestinya kecil dan segera bisa diatasi, menjadi membesar dan tak tahu lagi kemana mencari ujung kekusutannya.
Ibarat tiang yang saling menopang, suami dan istri adalah dua tonggak tangguh yang saling menguatkan. Ketiadaan salah satunya menjadikan tiang lebih mungkin rapuh. Dan gampang dirobohkan. Sehingga proses  saling mengingatkan dan berharap peningkatan kebaikan bagi yang lainnya adalah keniscayaan. Apatah lagi, kita ini sama–sama manusia dengan segala kekurangan yang melekat erat. Istri mana yang tak ingin dimanja suaminya. Dihadiahi coklat, dipersilakan istirahat, diberi ruang untuk berasyik masyuk merawat diri di salon, dibolehkan sesaat untuk membaca novel kesayangannya dan tak selalu serius memikirkan cucian yang menumpuk di ruang belakang rumahnya. Dan balasannya, ia menjadi lebih cinta kepada suaminya. Tentu sang suami manapun menginginkan istrinya menikmati posisinya sebagai istri dia seorang, agar kepemimpinannya memang benar-benar layak dibanggakan.
Bukankah kata-kata umum mengatakan, seorang lelaki lebih tahan menerima cobaan yang diperuntukkan khusus baginya. Tapi ia bisa lebih tak tahan bila cobaan itu mampir ke istri yang dicintainya, atau anak-anak yang terlahir sebab benihnya. Itu sebabnya, bila sang suami suatu saat merasa lemah, kuatkanlah ia dengan tangan tangguh terulur. Bila kenikmatan dan fasilitas duniawi menggoda, yakinlah bahwa pertolongan Allah jauh lebih kuat bila kita pun tak sanggup untuk menyentuh madu manis sampah dunia.
Jadi, mari meletakkan diri di posisi yang lebih baik dan tertata. Yakinlah, menjadi bagian kecil  dari rumah tangga da’i, adalah kebanggaan dunia akhirat, dan tak mesti menghilangkan sisi kewanitaan atau keinginan-keinginan kecil yang sempat diharapkan. Toh Allah selalu bersama kita, maka nikmatilah!

Memasak itu menyenangkan

Anda tak suka memasak atau tak pernah memasak? Mengapa? Karena memang tak pernah tertarik dengan memasak? Enak tidak enak, yang penting tinggal makan, tidak repot, tidak perlu berkotor-kotor dan berlelah-lelah. Atau karena terlalu sibuk? Lebih baik melakukan pekerjaan lainnya daripada memasak, yang memakan waktu lama, sementara menghabiskannya hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Atau karena merasa tak bisa memasak? Sudah pernah mencoba? Berapa kali mencoba memasak lalu gagal? Atau karena khawatir masakan anda tak enak, hingga keinginan memasak anda urungkan? Daripada dicaci, diprotes, melihat wajah-wajah jadi berubah bentuk ketika memakan masakan anda? Atau karena rasa malas yang begitu kuat membelenggu? Dari berbelanja bahan masakan, menyiapkan lalu memasaknya. Ribet dan bisa ruwet.
Memasak itu menyenangkan dan mengasyikkan. Gembirakan hati sebelum memasak, agar memasak tak dirasakan sebagai beban. Jika perlu, libatkan anggota keluarga untuk memasak. Libatkan juga mereka saat berbelanja. Itu juga akan menjadi ajang rekreasi  keluarga.  Memasak bersama pasangan akan menjadi variasi dalam menjaga  hubungan agar tak membosankan. Saling berbagi cerita ketika memasak. Wah… akan memberikan romansa tersendiri. Anak-anak pun bisa dilibatkan dalam kegiatan memasak. Anak mulai usia tiga tahun sudah cukup mampu diajak turun dapur. Selain melatih gerak motoriknya,  memasak juga dapat dijadikan sebagai sarana  belajar matematika, bahasa, pengetahuan alam dan pengetahuan lainnya. Mereka akan menikmati, karena seperti sedang bermain. Ya, bermain masak-masakan. Bukan hanya anak perempuan yang bisa dilibatkan dalam kegiatan memasak, anak laki-laki pun bisa. Dapur bukan hanya milik perempuan. Gelar Master Chef justru banyak dimiliki oleh laki-laki  . Untuk anak-anak yang beranjak remaja, memasak sebagai sarana mengajarkan mereka mandiri.
Memasak itu seru.  Dari berburu bahan masakan, menyiapkan hingga memasak, terkadang membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Ketika tidak menemukan bahan masakan yang dicari, kreativitas diuji. Jika tak ingin lelah berburu di tempat lain, yang belum tentu ada, harus memikirkan bahan penggantinya. Memilih bahan masakan pun haruslah cermat, agar mendapatkan daging, ikan, sayuran, buah atau bumbu masakan dengan kualitas yang baik. Belum lagi ketika mencoba resep baru, menjadi sebuah  tantangan untuk bisa menghasilkan masakan yang lezat. Tidak jarang untuk mendapatkan hasil yang memuaskan harus mencobanya berkali-kali. Hal tersebut membutuhkan kesabaran dan ketekunan.  Dan sebuah kepuasan ketika berhasil. Apalagi memasak makanan yang membutuhkan ketelitian, ketekunan dan kreativitas tinggi. Menjadi tantangan juga, bagaimana mengolah sisa makanan menjadi makanan baru agar tidak terbuang. Bagaimana dapat menyajikan masakan dengan cepat, sementara waktu sangat terbatas. Seru!
Kehebohan memasak bersama pasangan atau buah hati, merupakan petualangan yang seru. Keributan-keributan kecil di dapur karena perselisihan memasak, riuhnya anak-anak, jangan dianggap sebagai sesuatu yang menyebalkan. Nikmati kebersamaan itu, yang bisa jadi langka. Dan suatu saat anda akan merindukan saat-saat memasak  bersama pasangan atau buah hati.
Memasak itu membahagiakan. Seorang teman saya adalah wanita karir. Hampir tak ada waktu baginya untuk memasak. Sebenarnya ia bisa memasak. Suatu saat, ia sangat ingin memasak untuk keluarganya. Hanya tempe goreng dan sambal yang sempat dibuatnya. Apa kata anak-anaknya? “Ummi, tempe gorengnya enak sekali. Aku mau Ummi memasak lagi untukku.” Hanya tempe goreng. Tapi dilihatnya mata sang anak berbinar-binar. Ia menceritakan kisahnya dengan mata berkaca-kaca. Sejak itu, setiap kali ada waktu luang, ia memasak untuk keluarganya. Bisa memasak untuk orang-orang yang dicintai dan disayangi memberikan kebahagiaan tersendiri. Hilanglah penat kala melihat binar di mata mereka menikmati masakan yang kita buat. Waktu berjam-jam yang dihabiskan untuk berkutat di dapur terbayar.
Memasak sebagai terapi. Memasak sebagai terapi? Ya. Lindsay Lohan, artis terkenal, telah membuktikannya. Untuk mengatasi depresi karena bertumpuknya masalah yang dihadapi, ia sering memasak. “Saya suka memasak. Saya memasak setiap malam. Terkadang saya memasak untuk teman-teman. Saya merasakan kenikmatan tersendiri ketika memasak. Itu merupakan terapi bagi saya,” ungkap Lindsay yang dirilis Femalefirst. Kesibukan memasak akan mengalihkan perhatian dari masalah yang membelenggu. Melihat ekspresi kepuasan di wajah yang menikmati masakan, menghadirkan rasa senang dan bahagia yang dapat mengurangi kesedihan dan kegalauan.
Memasaklah dengan hati. Bagaimanapun kondisi hati, memasaklah dengan hati. Sesederhana apa pun masakan, jika memasaknya dengan hati, akan menghasilkan rasa yang luar biasa. Dan sebaliknya, semewah apa pun masakan, jika memasaknya tidak dengan hati, rasanya akan sangat mengecewakan. Hati yang tenang, riang, apalagi disertai dengan cinta, akan menghadirkan semangat dan membantu untuk dapat konsentrasi memasak. Ya, memasak juga membutuhkan konsentrasi. Jika tidak, dapat terjadi kecelakaan, salah memasukkan bumbu, atau ada yang terlupa tidak dimasukkan.
Memasak bukanlah hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang sulit. Tergantung dari mana melihatnya. Jika ingin menjadi Master Chef memang bukan hal yang mudah. Harus memiliki kemampuan meramu masakan, inovasi, kreatif dan mampu menyajikan masakan dengan cepat. Jika hanya ingin bisa memasak makanan sehari-hari, mudah koq. Merasa tidak punya bakat? Tidak perlu bakat hanya untuk memasak makanan sehari-hari. Dan jangan mudah berputus asa jika mengalami kegagalan. Teruslah mencoba. Ibarat orang yang mengendarai kendaraan, memasak butuh kebiasaan untuk melatih rasa. Semakin sering memasak, akan semakin pandai mengetahui masakan yang kurang bumbu hanya melalui aromanya,semakin tahu trik-trik memasak, juga  akan semakin mahir. Man jadda wa jadda, barang siapa bersunguh-sungguh, maka akan berhasil.
Selamat memasak dengan gembira!

Selasa, 17 Mei 2011

Warisan Kartini

Alhamdulillah bisa nulis lagi, walaupun mungkin temanya udah basi kali yee, maklum dah masuk bulan mei, cuman sayang kalo ide kecil ini terbuang percuma nggak menjadi jejak-jejak sejarah. Awalnya dari jadi moderator di acara seminar memperingati hari kartini, idenya muncul untuk menulis rekaman materi dan diskusi yang terjadi pada saat seminar tersebut, kemudian baca sana, sini lalu  muncullah ide ini
.Kartini,  siapa sih orang Indonesia yang tdk mengenalnya, ketenarannya bahkan melebihi para pahlawan perempuan lainnya seperti cut nyak dien dan  dewi sartika, bahkan anak kecil seperti anakku pun mengenalnya lewat lagu. Bisa jadi faktor  lagu inilah yang turut andil mempepolerkan Kartini
Menyebut Kartini kadang dinterpretasikan dengan kain kebaya, konde dan emansipasi. Bahkan kadang-kadang menurut saya banyak orang memanfaatkan nama Kartini sesuai dengan kepentingannya masing-masing (egois ya) Jika dia ingin diakui keberadaannya sebagai perempuan bekerja mengatakan khan Kartini menyelamatkan kaum perempuan sehingga tidak hanya mengurusi dapur,kasur dan sumur saja atau ada yang mengatakan kita tak butuh laki-laki dech dalam kehidupan ini semuanya bisadi urus oleh perempuan, bahkan berlomba-lomba dan bangga menjadi single parents, perceraian meningkat dan perselingkuhanpun hal yang biasa. naudzubillahi min dzalik, mengapa Allah menciptakan laki-laki jika memang tidak dibutuhkan keberadaannya.sesungguhnya Allah mampu dan berkuasa hanya menciptakan satu jenis manusia saja dan Allah tidak perlu malu dan sungkan karenanya, tetapi Allah menciptakan laki-laki dan perempuan agar mereka bisa saling bekerja sama memakmurkan bumi...itulah hikmah yang hendak di cari oleh Kartini namun sayang dia mati muda ....
Menurut saya warisan yang paling berharga dari Kartini adalah pemikiran perlunya Pendidikan yang berkelanjutan bagi perempuan, pendidikan yang berkelanjutan maksudnya adalah pendidikan yang terus menerus tanpa henti bagi perempuan sebagai upaya meningkatkan kualitas dirinya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya, kita simak surat Kartini kepada sahabatnya Prof Anton dan Nyonya tertanggal 4 oktober 1904 "   Kami di sini memohon diusahakan pengajaran &; pendidikan anak perempuan bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yg besar sekali bagi kaum perempuan agar perempuan lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya, menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama.
Membaca surat tersebut tersirat makna bahwa Kartini memahami dengan benar bahwa sebagai seorang ibu perlu mendapatkan pengajaran dan pendidikan yang layak dalam mengemban tugas mulia dan berat yaitu sebagai pendidik manusia pertama 
Sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya seorang ibu harus mempersiapkan sebaik mungkin dirinya , bukan hanya ketika anaknya lahir sebelum lahirpun pada masa perencanaan dan masa kehamilan seyogyanya sudah menempa diri dg keikhlasan niat, kebaikan akhlak, kekhusyu'an ibadah dan ketrampilan lainnya demi lahirnya anak yang berkualitas. 
Pemikiran semacam ini adalah suatu hal yang baru di masa Kartini, dimana ketika itu  sang ibu mendidik anaknya apa adanya, hanya berdasarkan pengetahuan turun temurun , Kartini ingin mendobrak hal tersebut dia ingin para perempuan dimasanya belajar banyak hal dan menerima perlakuan yang sama dlm pendidikan dan pengajaran. 
Kartini juga memprotes tentang tatacara pengajaran  Al-Qur'an yang menurutnya tidak berimbang. Mereka diwajibkan untuk bisa membaca dan menghafal Alqur'an tanpa tahu apa maknanya. Inilah warisan kedua yang sama pentingnya dengan warisan pertama bahkan menjadi pemicu lahirnya warisan pertama, yaitu sikap kritis terhadap lingkungan., kegelisahan Kartini terhadap pola pengajaran Al-Qur'an yg  tanpa kefahaman , sebagaimana surat yang ia kirimkan kepada sahabatnya Stella tertanggal : 6 november 1899 "bagaimana aku dapat mencintai agamaku bila aku tidak mengerti dan tidak boleh memaknainya, di sini orang diajar membaca al-Qur'an tetapi tidak diajar makna yang dibacanya, sehingga ketika Kartini mengikuti pengajian di rumah Kyai Sholeh dan mendengar makna surah Al-Fathihah ia tertegun, hatinya bergetar dan jiwanya berontak sambil mengucap syukur sedalam-dalamnya kepada Allah karena diberi kesempatan untuk belajar makna surah al fatihah.
Demikianlah bagi Kartini kebangkitan seorang manusia ditandai dengan kebangkitan cara berfikirnya, sehingga salah kaprah bila orang-orang yang mengatasnamakan "pejuang Kartini mendengung-dengungkan persamaan hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki dalam segala hal....jika laki-laki bisa perempuan pun pasti bisa.
Karena sesungguhnya Allah telah menetapkan perempuan dan laki-laki dengan beberapa perbedaan fisik, perasaan dan selerasehingga jika menyamakan keduanya berarti menafikan fitrah penciptaan perempuan dan laki-laki itu sendiri... (dari jenis nama aja sudah dibedakan masa mau di samakan.. kalau sama mengapa Allah menciptakannya berbeda)
Satu hal lagi mengenai keterlibatan kaum perempuan diruang publik sering mengabaikan tugas dan kewajiban di ruang privat, yaitu sebagai ibu dan istri , yang menurut sebagian orang adalah warisan Kartini menurut saya sangat naif karena keterlibatan Kartini diruang publik masih kalah jauh dengan Cut Nya' Dien. Cut Nya' Dien  berada di barisan terdepan dalam memimpin peperangan melawan Belanda....oleh karena itu kalau ingin mencari simbol perempuan perkasa saya kira beliau cocoklah.....
Demikian sekelumit jejak jejak kecil sejarah yang saya torehkan  mengenai Kartini dan perjuangannya, sebenarnya masih banyak lagi perempuan selain  Kartini yang lebih hebat, lebih kuat dan lebih berdaya yang perlu kita eksplorasi. Ada kisah tentang ibunda Khadijah binti khuwailid istri dari Rasulullah SAW yang mulia, profilnya bisa menjadi teladan kita bagaimana menjadi seorang istri yang terbaik bagi suaminya. Adapula kisah tentang Fathimah Azzahra....teladan seorang anak dari ayah yang mulia Muhammada bin Abdullah SAW,  salah satunya salah seorang pejuang Muslimah di mesir bernama Zainab al Ghazali yang profilnya dapat dilihat di label kisah....beliau banyak menginspirasi saya dalam perjuangan menapaki kehidupan ini. Yang jelas saya bangga menjadi perempuan karena dengan menjadi perempuan saya bisa menjadi ibu bagi generasi ini..... 

 


Minggu, 26 Desember 2010

Di balik kerudung

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita mukmin agar mereka mengulurkan atas diri mereka jilbab mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab [33]:59)

Ketika Hayrunnisa Gul, istri dari presiden Turkey, Abdullah Gul ditanya dalam sebuah wawancara dengan majalah Time beberapa waktu yang lalu, kenapa ia mengenakan jilbab, ia mengatakan bahwa ia sangat yakin islam mengenal perbedaan antara sebuah ruang ‘private’ dan ruang ‘public’. Yang satu adalah keizinan dari Yang Maha Kuasa untuk diperlihatkan kepada khalayak dan yang satu lagi adalah previlese yg hanya dimiliki oleh muhrim (baca: suami). Dan ketika media tersebut mencecarnya dengan pertanyaan bahwa begitu banyak kaum feminis dan modernis Turkey menentangnya (ia sebagai satu-satunya istri presiden Turkey yang berjilbab sejak Republic of Turkey di deklarasikan oleh Kemal Ataturk), dengan enteng ia menjawab, “Apa yang membungkus tubuh saya tidak sama dengan apa yang membungkus otak saya!” Jawaban ini adalah sebuah suara protes darinya akan sebuah pemahaman bahwa jilbab adalah identik dengan kebodohan, penindasan perempuan dan pengekangan seksualitas.


Suatu saat di belahan negeri barat yang terkenal sebagai sebuah kota fesyen dunia, penulis berada di belantara billboard yang hampir kesemuanya menampilkan gambar wanita yang (maaf) lebih kepada titik-titik tubuh yang dapat membangkitkan fantasi seksual. Demikian juga wanita yang lalu lalang disekitar penulis, hampir semuanya mengenakan rok mini, celana sangat pendek dan tanktop. Hal ini adalah sebuah kehidupan sehari-hari yang suka atau tidak suka selalu dapat dinikmati di kota-kota di barat dan menyebar mendunia. Semuanya adalah demi falsafah hidup dengan jargon kata “MODE” yang sedang melanda.

Bagi barat, Mode adalah ideologi. Tempat dimana kebebasan menemukan muaranya, tempat dimana bisnis dengan jaminan jutaan dollar dapat terus menangguk keuntungan setiap tahunnya. Dan yang pasti ideologi ini selalu menjadikan tubuh wanita sebagai simbol utama sekaligus pasar utamanya pula. Dimana peran kaum pria? Disadari atau tidak, pria adalah penentu arah kebijaksanaan kemana arah ideologi “mode” ini membahana. Bukankah seorang pria hampir pasti selalu berada dibelakang rumah mode dunia seperti Gucci, Louis Vuitton, Prada dll? Sekaligus pria juga berperan sebagai penikmat dan pengamatnya

Hal inilah yang dapat dipahami, ketika wanita-wanita muslim di Perancis makin banyak yang menggunakan jilbab dalam kehidupan mereka sehari-hari, maka pemerintahnya (dengan dukungan pebisnis mode Perancis) bagaikan kebakaran jenggot sehingga melarang penggunaan kerudung di sekolah dan untuk kemudian melarang penggunaan cadar ditempat-tempat umum. Bukankah Perancis selama ini telah menjadi kiblat mode dunia? Dan yang pasti tidak ingin kehilangan muka sekaligus kehilangan jutaan dollar dari apa yang selama ini telah dinikmati dari binis mode yang mendunia tersebut. Hal ini membawa kepada diciptakannya sebuah perang idelogi untuk membendung penggunaan jilbab dengan memberi stempel pada wanita-wanita muslim yang berjilbab sebagai bentuk kebodohan, pengekangan seksualitas dan penindasan hak-hak kebebasan mereka dalam mengekspresikan diri.

Ada yang amat menarik dari tafsir ayat ke 59 dari surah Al Ahzab diatas. Ayat ini turun pada waktu yang amat kondusif dalam priode Madinah ketika perang Ahzab (Khandak) telah usai (setelah tahun ke-6 H). Priode ini ditandai dengan terusirnya kabilah besar kaum yahudi Madinah dan menjadi sebuah priode yang damai dan tenang. Ayat ini tidaklah turun pada masa priode Mekah yang sangat kacau ataupun diawal-awal priode Madinah yang masih membutuhkan kesabaran dalam membangun sebuah masyarakat yang bermoral dan madani. Dapat kita bayangkan jika penerapan hukum jilbab pada priode Mekah atau di awal priode Madinah akan menjadikannya sebuah keputusan emosional dan jauh dari rasionalitas.

Allah Azza wa Jalla ingin memberi pemahaman kepada kita bahwa jilbab adalah sebuah identitas. Penerapan hukum Jilbab bukan ditentukan dengan dasar emosional dan bukan pula untuk melindungi wanita dari gangguan pria-pria musyrik atau kafir saja tapi lebih kepada identitas yang rasional untuk menyatakan jatidiri dan hak untuk dipandang baik oleh siapapun.

Ayat ini juga tidak seperti ayat-ayat lainnya di dalam Al Quran yang menetapkan hukum dengan mengajak kaum mukmin dengan kata-kata”Ya ayyuhalladzi na ‘amanu” (wahai orang-orang yang beriman) tetapi membebankan hal itu kepada Nabi Saw sebagai pemimpin umat untuk mengajak istri dan anak-anak perempuannya terlebih dahulu untuk menutup diri mereka dengan jilbab dan untuk kemudian mengajak laki-laki mukmin agar melakukan hal yang sama terhadap ‘wanita-wanita’ (tafsir: istri dan anak-anak) mereka. Ini memberi pemahaman kepada kita bahwa ada kondisi psikologis yang harus dimiliki seorang suami/ayah sebelum mengajak istri dan anak-anaknya untuk memakai jilbab. Pria sebagai suami atau ayah harus terlebih dahulu merasakan sebuah kondisi yg kondusif dimana ia sangat menginginkan istri dan anak-anak perempuannya untuk menutup aurat mereka sebagai bentuk ketundukkannya kepada Allah dan mematuhi segala perintah-Nya. Jadi tanggung jawab penerapan jilbab ini sebenarnya ada pada pria (baca: suami atau ayah) bukan pada diri wanita (istri dan anak-anak perempuan).

Seorang teman bercerita ketika ia memutuskan dirinya untuk berjilbab, justru ditentang oleh suaminya sendiri tanpa alasan yang jelas. Yang menyebabkan pada akhirnya mereka sering bertengkar dan membuatnya harus mengalah dengan membuka jilbabnya. Hal ini dapat terjadi karena sang suami belum memahami keadaan dan tanggung jawabnya.

Pada dasarnya ada sebuah keengganan bagi pria untuk melihat istri dan anak-anak perempuannya menutup aurat. Ini lebih disebabkan kepada kondisi kejiwaan. Dalam pikiran seorang pria, wanita adalah sebuah keindahan yang selalu dapat mempengaruhi ‘mood’ sang pria. ‘Mood’ ini bergantung kepada pikiran positif ataupun negatif yang ada dalam benaknya. Ketika pikiran positif yang lebih mendominasi, maka ia lebih melihat pada ‘inner beauty’ sang wanita. Ia tidak lagi memandang apa yang dikenakan ataupun tampilan luar dari wanita yang ada dihadapannya tapi lebih kepada ‘aura’ yang dipancarkan oleh wanita tersebut. 'Inner beauty' yang diwakili oleh kecerdasan, kelembutan dan lain-lain. Tapi jika pikiran negatif yang mendominasi, maka yang selalu muncul adalah tampak luar dari apa yang terlihat dan lebih kepada hubungan nafsu hewani yang berdasar pada hubungan ‘jantan’ dan ‘betina’ yang berpengaruh pada (maaf) fantasi seksualnya.

Al Quran dengan bahasanya yang indah menuturkan ‘AGAR MEREKA MUDAH UNTUK DIKENAL.”

Apa yang menjadikan mereka mudah untuk dikenal......?? Adalah pada dasarnya wanita itu memiliki keindahan dengan segala sifat-sifatnya yang positif seperti kelembutan dan kecerdasan. Allah Azza wa Jalla menginginkan hendaklah sifat-sifat ini yang terpancar dari seorang wanita setiap saat. Jika seorang wanita menutup auratnya, maka aura yang terpancar pada dirinya lebih kepada yang bersifat positif sehingga kesan yang timbul adalah baik. Hal ini berbeda jika wanita menonjolkan sisi sensualitasnya maka bisa jadi yang tercermin adalah penonjolan titik-titik tubuh yang dapat membangkitkan fantasi seksual pria. Karena bisa jadi apa terlihat adalah bagai sebuah aura negatif yang bagi pria dapat dijadikan ‘bahan godaan’. Dalam hal ini Al Quran memakai kata-kata “SEHINGGA MEREKA TIDAK DIGANGGU”

Seorang Feminis berkebangsaan Amerika yang bernama Naomi Wolf yang beragama yahudi dalam sebuah artikelnya di sebuah majalah wanita di Amerika pernah menulis, “Saya mengalaminya sendiri. Saya mengenakan jilbab yang serba menutup tubuh saya (kecuali muka dan tangan) dalam sebuah kunjungan ke pasar tradisional Maroko. Memang, sejumlah kehangatan yang saya peroleh dari setiap padangan yang diarahkan kepada saya mungkin berasal dari rasa takjub menyaksikan seorang wanita barat mengenakan pakaian tertutup seperti itu. Namun begitu saya terus berjalan dipasar, disaat belahan dada saya tertutup, bentuk kaki saya tersamar dan rambut panjang saya tidak berkibar, saya menikmati sebuah perasaan nyaman dan tenteram. Saya merasa merdeka (dari rasa was-was) dalam cara tertentu.”

Wolf melanjutkan: “Banyak perempuan muslim yang saya ajak bicara tidak merasa tertindas oleh cadar dan kerudung. Sebaliknya mereka merasa terbebas dari penindasan kaum pria yang dalam budaya Barat menjadikan perempuan sebagai komoditas seksual. Mereka mengatakan, “Ketika saya mengenakan pakaian ala Barat, pria menatap saya, menjadikan saya sebagai obyek, sehingga saya terpaksa membandingkan diri saya dengan standar model di majalah, yang susah sekali disamai. Dan itu akan semakin sulit ketika anda menjadi semakin tua. Semakin melelahkan untuk berusaha menjadi pajangan yang dinilai indah sepanjang hari. Ketika saya mengenakan kerudung atau cadar, orang memandang saya sebagai individu, bukan obyek. Saya merasa dihargai.”

Dalam pandangan Allah Azza wa Jalla, sebuah masyarakat yang baik itu dimulai dari pribadi-pribadi yang baik. Sehingga pribadi-pribadi yang baik inilah kelak akan membentuk sebuah rumah tangga yang menjadi cikal bakal sebuah masyarakat yang bermoral dan madani. Pakaian bagi seorang muslimah adalah sebuah identitas yang membatasi antara ranah ‘public’ dari ranah ‘private.’ Ketika seksualitas dibiarkan berada dalam wilayah pribadi dan diarahkan dalam cara yang menjadikannya suci, hal ini menyebabkan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Ketika sang suami terjaga dari melihat wanita lain dengan aurat yang terbuka sepanjang hari, maka yang terjadi adalah hasrat dan intensitas yang dahsyat ketika kerudung sang istri dilepaskan di rumah yang mewakili ranah ‘private’. Ketika sexualitas sudah menjadi sebuah komoditas sehari-hari (baca: public) maka apa yang terjadi adalah menurunnya libido dan segala penyakit sexual yang menyertainya.

Dalam sebuah pertemuan dengan para sahabat nya, Rasulullah Saw berpesan, “Sesungguhnya dunia ini indah dan mempesonakan, dan sesungguhnya Allah menyerahkannya kepada kalian. Kemudian Allah akan melihat bagaimana kalian berbuat atas dunia ini. Karena itu berhati-hatilah dalam urusan dunia dan terhadap wanita.” (HR Muslim)

Selasa, 21 Desember 2010

Selamat Hari IBU

Menurut catatan  akhir tahun komnas perlindungan anak,  http://wandahamidah.blogdetik.com/ Pada periode Januari - Desember 2009, Komisi Nasional Perlindungan Anak menerima 102 pengaduan anak hilang dari masyarakat. Sebanyak 22 orang diantaranya raib dari Rumah Sakit, klinik bersalin, dan Puskesmas. Setahun kemudian, bukannya menyusut malah meningkat manjadi 110 kasus. Dari jumlah itu, 26 anak hilang dari lingkungan rumah, sekolah, dan tempat-tempat bermain anak. Bayi yang menjadi sasaran penculikan di Rumah Sakit, Klinik bersalin maupun Puskesmas umumnya adalah bayi-bayi berumur di bawah lima hari.
Dari kasus di atas nampak jelas bahwa anak telah dijadikan sebagai komoditas baik oleh orang tuanya maupun oleh pihak-pihak lain yang tidak bertanggung jawab, yang ingin mengambil keuntungan dari keluguan, kelucuan dan ketidakberdayaan  seorang anak. Bagi orang tua yang belum dikarunia anak, amat berharga bila dapat mengadopsi anak yang lucu dan imut, walaupun asal-asulnya belum diketahui.  itulah sebabnya kasus jual beli anak sangatlah marak di satu sisi ada ibu/keluarga inti yang sebenarnya tidak menginginkan kelahiran anak karena faktor hamil diluar nikah atau karena faktor ekonomi dan di sisi lain ada konsumen yg ingin menimang bayi maka terjadilah jual beli anak. Selain itu faktor ekonomi kerap kali menjadi alasan utama memperkerjakan anak di bawah umur, sehingga bermunculanlah para anjal (anak jalanan) yang kerap meramaikan jalanan kota-kota besar di Indonesia. Dampak negatifnya keluguan mereka rentan terpengaruh premanisme sehingga mereka tumbuh sebagai pribadi yang labil dan tak terdidik. Anak laki-laki kebanyakan jadi germo, pil dan pengedar narkoba, yang perempuan pun tak jauh-jauh banyak terjerumus ke lembah hitam.
Dari hasil diskusi terarah (Focus Group Discussion) yang diadakan Komnas Anak dengan 4.726 anak-anak pelajar Sekolah Menengah Atas di 12 kota besar, pada 2009 lalu, terungkap sejumlah data mengejutkan. Sekitar 21,22% remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi, dengan berbagai alasan. Angka itu tak mengejutkan mengingat  tak kurang dari 93,73% responden mengaku pernah berhubungan seksual dengan teman sebaya, pacar, atau orang lain
Jika tidak dijual atau diaborsi, masih ada satu lagi kemungkinan penderitaan bayi-bayi di negeri ini, yaitu dibuang. Sepanjang tahun 2009-2010, Komnas Anak memantau 824 kasus pembuangan bayi. Sekitar 68% dari bayi yang dibuang itu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Lokasi pembuangannya beragam, mulai bak sampah, halaman atau teras warga masyarakat, sungai, got, dan pembuangan air selokan, rumah ibadah, rumah bersalin, terminal bis sampai stasiun kereta api, halte dan tempat pemakaman umum.
Lolos dari fase rawan saat masih bayi, tidak berarti anak-anak bebas dari kesengsaraan. Ancaman penculikan masih menghantui. Anak bibawah 12 tahun biasanya diculik untuk dijadikan pengemis, pengamen, atau dipaksa bekerja ditempat pelacuran. Sejumlah data mengenai skala kejahatan perdagangan anak yang doperdagangkan per tahun, 30 persen di antaranya adalah perempuan di bawah 18 tahun. Nasib mereka biasanya berakhir di lokasi prostitusi.
Investigasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Pontianak beberapa tahun lalu menemukan ratusan remaja Indonesia terdampar di rumah-rumah pelacuran di perbatasan Brunei Darussalam - Malaysia. Sebuah sindikat perdagangan anak yang terorganisir rapi, menculik anak-anak ini dari Indonesia dan menjual mereka ke cukong-cukong pemilik rumah bordil di sana.
Kekerasan seksual memang salah satu ancaman paling nyata didunia anak. Komnas Anak setiap harinya menerima pengaduan  kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi pada kurun waktu 2010 menunjukkan bahwa pelaku kekerasan justru biasanya orang yang dikenal anak.  Sebagian besar korban adalah anak perempuan berusia 6-15 tahun, meski ada juga satu kasus dimana korbannya masih berusia kurang dari 1 tahun.
Tak tahan dengan kondisi mengenaskan di rumah, tak sedikit anak yang memilih melarikan diri ke jalanan. Pada tahun 2010, ketika pertama kali dilakukan pendataan secara nasional, ditemukan ada sekitar 240.000 anak jalanan di 12 kota besar di Indonesia. Sekitar 5-7% dari mereka, mengaku lari dari rumah karena kekerasan dalam rumah tangga. Setiap tahun, jumlah anak jalanan terus meningkat. Direktorat Jenderal Pelayanan Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial pada 2009 mencatat ada 5,4 juta anak terlantar di seluruh Indonesia.
Itu baru soal kekerasan terhadap anak. Eksploitasi ekonomi atas anak juga masih menjadi masalah besar di Indonesia. Pada tahun 2000, Badan Pusat Statistik menemukan ada 2,1 juta anak di Indonesia yang bekerja pada situasi buruk. Sekitar 50% dari total pekerja anak itu, bekerja sampai 35 jam seminggu.
Data International Labour Organization (ILO) bahkan menunjukkan angka yang lebih banyak. Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang khusus menangani isu perburuhan itu menemukan sekitar 8 juta pekerja di Indonesia berusia di bawah 15 tahun. Umumnya mereka bekerja pada sektor-sektor pekerjaan yang sebenarnya terlarang untuk anak, seperti industri perikanan (umumnya anak dipekerjakan sebagai penjaga jermal-usaha penangkapan iklan di lepas pantai), pertambangan, konstruksi, transportasi, dan industri kimia.

Inilah potret kusam masalah anak di negeri ini. Jika kita para orang tua khususnya ibu masih mengatakan everything is gonna ok maka realitas yang berbicara. Mungkin kita beranggapan anak kita bisa kita didik di rumah-rumah kita dan tak ada efeknya, maka anak kita juga adalah pribadi sosial yang akan bergaul dengan orang lain dan lingkungannya, dan jika tidak ada penguatan dari keluarga terhadap anak kita maka jiwa labilnya akan senantiasa terpengaruh oleh hal-hal negatif yang dia temui di lingkungan sekolah maupun rumahnya.  Ibu sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya memegang peranan penting dalam perkembangan mental anak-anak. Penguatan emosional Quotion (EQ) dan Spiritual Quoation (SQ) menjadi hal yang mutlak diberikan dalam masa perkembangannya terutama pada saat golden  age (0-5 tahun). kasih sayang dan pendampingan yang terus menerus kita berikan sehingga anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan didikan rumah lebih diutamakan dari lingkungan luarnya. Menjadi ibu yang trampil mutlak diperlukan untuk mengatasi problem sosial yang kita hadapi saat ini. Ibu yang tdk hanya sebagai orang yang melahirkan anaknya tetapi bisa pula menjadi sahabat bagi anaknya dalam menjalani kehidupannya dan terutama menjadi teladan yang baik bagi keluarganya. Saya ingin mengutip sebuah hadits Rasulullah tentang bagaimana mendidik anak.
Jika anakmu berusia 1-7 tahun didiklah dengan bermain
Jika anakmu berusia 7-14 tahun didiklah dengan kedisiplinan
Dan jika anakmu  berusia di atas 14 tahun didiklah dengan menjadi sahabatnya.
Pr kita sebagai  ibu masih banyak  semoga dengan bekal keikhlasan dan kasih sayang,  amanah sebagai ibu itu bukan menjadi beban bagi kita bahkan menjadi rahmat karena kita sudah dianugerahi Allah dipanggil oleh anak kita sebagai "IBU"

Selamat Hari Ibu



Catatan kecil ba'da ashar

Jumat, 10 Desember 2010

semangat saja tak cukup

semangat itulah yang tampak dari wajah dan gerak-geriknya, semangat untuk melakukan perubahan dan perbaikan, saya membayangkan begitulah diriku ketika masih seumur dia, penuh idealisme dan ide-ide besar, belum tersentuh yang namanya realita kehidupan, belum merasakan pahit getirnya kehidupan, mungkin seperti itu. semangat yang berangkat dari pengetahuan yang terbatas tentang apa yang dilakoninya, baginya mungkin itulah kebenaran tapi sesungguhnya banyak yang harus dipertimbangkan, terkadang kita tidak hanya bisa mengandalkan idealisme semata, perlu juga dibarengi oleh kondisi waqi'iyah yang ada. Semua dipandang hitam dan putih saja dan tiada warna lain, seperti itulah yang terjadi pada diriku, dengan semakin bertambahnya umur semakin banyak yang harus saya pertimbangkan, mungkin orang akan menilainya sebagai lunturnya idealisme dan cita-cita tapi bagi saya itulah kenyataan yang harus dihadapi. ada masa kita membutuhkan orang yang hanya mengandalkan semangat tapi itu tdk boleh terlalu lama, semangat itu harus pula diisi dengan pemahaman yang menyeluruh sehingga tidak menyimpang dari garis yang sdh ada, Saya mengingat kisah tentang kaum khawarij dimasa Rasulullah saw, mereka sangat kuat dalam beribadah mahdhah tetapi berani menentang Rasululullah dan para shahabat, yaumiannnya sangat sempurna tetapi mengkafirkan sesama muslim. Itu disebabkan pemahaman mereka yang belum syamil tentang Islam. Dan akhirnya kemudian mereka diperangi karena sikap mereka yang sdh menyimpang dari sunnatullah.
Dakwah ini memang membutuhkan waktu yang lama untuk menampakkan hasilnya dan dalam perjalananya butuh kesabaran dan ketekunan dalam menghadapi semua rintangan. Dan proses yang lama itu kadang disertai semangat yang menyala-nyala kadang pula dengan setengah hati, sehingga kalau tidak memahami dengan benar tabiat dakwah maka bisa luntur di tengah jalan. Oleh karena itu perlunya pemahaman yang jelas tentang kearah mana dakwah ini akan kita bawa. kejelasan dari awal itu perlu sehingga jika menjumpai halangan maupun rintangan tdk berhenti di jalan dan tetap tegar memperjuangkannya. sampai akhir hayat. Semangat perlu tapi lebih utama lagi dibarengi dg pemahaman yg menyeluruh tentang tabiat dakwah itu sendiri. Kuncinya adalah belajar dan belajar krn hidup adalah proses, jangan pernah merasa tua untuk belajar dan terus belajar sampai akhir hayat.....

Jumat, 07 Mei 2010

Istriku Bukan Bidadari, Tapi akupun Bukan Malaikat

Alhamdulillah, salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabatnya.

Anda telah berkeluarga? Bagaimana pengalaman Anda selama mengarungi bahtera rumah tangga? Semulus dan seindah yang Anda bayangkan dahulu?

Mungkin saja Anda menjawab, "Tidak."

Akan tetapi, izinkan saya berbeda dengan Anda: "Ya," bahkan lebih indah daripada yang saya bayangkan sebelumnya.

Saudaraku, kehidupan rumah tangga memang penuh dengan dinamika, lika-liku, dan pasang surut. Kadang Anda senang, dan kadang Anda bersedih. Tidak jarang, Anda tersenyum di hadapan pasangan Anda, dan kadang kala Anda cemberut dan bermasam muka.

Bukankah demikian, Saudaraku?

Berbagai tantangan dan tanggung jawab dalam rumah tangga senantiasa menghiasi hari-hari Anda. Semakin lama umur pernikahan Anda, maka semakin berat dan bertambah banyak perjuangan yang harus Anda tunaikan.

Tanggung jawab terhadap putra-putri, pekerjaan, karib kerabat, masyarakat, dan lain sebagainya.

Di antara tanggung jawab yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan Anda ialah tanggung jawab terhadap pasangan hidup Anda.

Sebelum menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai gambaran indah.

Bukankah demikian, Saudaraku?

ŲŖُنْكَŲ­ُ Ų§Ł„ْŁ…َŲ±ْŲ£َŲ©ُ لأَŲ±ْŲØَŲ¹ٍ Ł„ِŁ…َŲ§Ł„ِهَŲ§ وَŁ„ِŲ­َŲ³َŲØِهَŲ§ وَŁ„ِŲ¬َŁ…َŲ§Ł„ِهَŲ§ وَŁ„ِŲÆِŁŠŁ†ِهَŲ§ فَŲ§ŲøْفَŲ±ْ ŲØِŲ°َŲ§ŲŖِ الدِّŁŠŁ†ِ ŲŖَŲ±ِŲØَŲŖْ يَŲÆَاكَ

"Biasanya, seorang wanita dinikahi karena empat pertimbangan: harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, hendaknya engkau lebih memilih wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung." (Muttafaqun 'alaihi)

Al-Qurthubi menjelaskan makna hadits ini dengan berkata, "Empat pertimbangan inilah yang biasanya mendorong seorang lelaki untuk menikahi seorang wanita. Dengan demikian, hadits ini sebatas kabar tentang fakta yang terjadi di masyarakat, dan bukan perintah untuk menjadikannya sebagai pertimbangan. Secara tekstual pun, hadits ini menunjukkan bahwa dibolehkan menikahi seorang wanita dengan keempat pertimbangan itu. Akan tetapi, hendaknya pertimbangan agama lebih didahulukan."

Keterangan al-Qurthubi ini semakna dengan hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Amr al-'Ash radhiyallahu 'anhu, "Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ ŲŖَŲ²َوَّŲ¬ُوا النِّŲ³َŲ§Ų”َ Ł„ِŲ­ُŲ³ْنِهِنَّ فَŲ¹َŲ³َى Ų­ُŲ³ْنُهُنَّ Ų£َنْ يُŲ±ْŲÆِيَهُنَّ وَلاَ ŲŖَŲ²َوَّŲ¬ُŁˆŁ‡ُنَّ Ł„ِŲ£َŁ…ْوَŲ§Ł„ِهِنَّ فَŲ¹َŲ³َى Ų£َŁ…ْوَŲ§Ł„ُهُنَّ Ų£َنْ ŲŖُŲ·ْŲŗِيَهُنَّ وَŁ„َكِنْ ŲŖَŲ²َوَّŲ¬ُŁˆŁ‡ُنَّ Ų¹َŁ„َى الدِّŁŠŁ†ِ وَŁ„َŲ£َŁ…َŲ©ٌ Ų®َŲ±ْŁ…َŲ§Ų”ُ Ų³َوْŲÆَŲ§Ų”ُ Ų°َŲ§ŲŖُ ŲÆِŁŠŁ†ٍ Ų£َفْŲ¶َŁ„ُ

'Janganlah engkau menikahi wanita hanya karena kecantikan parasnya, karena bisa saja parasnya yang cantik menjadikannya sengsara. Jangan pula engkau menikahinya karena harta kekayaannya, karena bisa saja harta kekayaan yang ia miliki menjadikan lupa daratan. Akan tetapi, hendaklah engkau menikahinya karena pertimbangan agamanya. Sungguh, seorang budak wanita berhidung pesek dan berkulit hitam, tetapi ia patuh beragama, lebih utama dibanding mereka semua.'" (Hr. Ibnu Majah; oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadits yang lemah)

Akan tetapi, sekarang, setelah Anda menikah, terwujudkah seluruh impian dan gambaran yang dahulu terlukis dalam lamunan Anda?

Bila benar-benar seluruh impian Anda terwujud pada pasangan hidup Anda, maka saya turut mengucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat. Bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati atau kecewa.

Saudaraku, besarkan hati Anda, karena nasib serupa tidak hanya menimpa Anda seorang, tetapi juga menimpa kebanyakan umat manusia.

Ų¹َنْ Ų£َŲØِى Ł…ُوسَى Ų±َŲ¶ِيَ اللهُ Ų¹َنْهُ Ł‚َŲ§Ł„َ: Ł‚َŲ§Ł„َ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„ُ اللَّهِ ŲµَŁ„َّى اللهُ Ų¹َŁ„َيْهِ وَŲ³َŁ„َّŁ…َ: كَŁ…ُŁ„َ Ł…ِنَ الرِّŲ¬َŲ§Ł„ِ كَŲ«ِيرٌ، وَŁ„َŁ…ْ يَكْŁ…ُŁ„ْ Ł…ِنَ النِّŲ³َŲ§Ų”ِ Ų„ِلاَّ Ų¢Ų³ِيَŲ©ُ Ų§Ł…ْŲ±َŲ£َŲ©ُ فِŲ±ْŲ¹َوْنَ، وَŁ…َŲ±ْيَŁ…ُ ŲØِنْŲŖُ Ų¹ِŁ…ْŲ±َانَ، وَŲ„ِنَّ فَŲ¶ْŁ„َ Ų¹َŲ§Ų¦ِŲ“َŲ©َ Ų¹َŁ„َى النِّŲ³َŲ§Ų”ِ كَفَŲ¶ْŁ„ِ الثَّŲ±ِيدِ Ų¹َŁ„َى Ų³َŲ§Ų¦ِŲ±ِ الطَّŲ¹َŲ§Ł…ِ

Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Banyak lelaki yang berhasil menggapai kesempurnaan, sedangkan tidaklah ada dari wanita yang berhasil menggapainya kecuali Asiyah istri Fir'aun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya, kelebihan Aisyah dibanding wanita lainnya bagaikan kelebihan bubur daging [1] dibanding makanan lainnya." (Muttafaqun 'alaihi)

Saudaraku, berbahagia dan berbanggalah dengan pasangan hidup Anda, karena pasangan hidup Anda adalah wanita terbaik untuk Anda!

Anda tidak percaya? Silakan Anda membuktikannya. Bacalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini, lalu terapkanlah pada istri Anda.

لاَ يَفْŲ±َكْ Ł…ُŲ¤ْŁ…ِنٌ Ł…ُŲ¤ْŁ…ِنَŲ©ً Ų„ِنْ كَŲ±ِهَ Ł…ِنْهَŲ§ Ų®ُŁ„ُŁ‚ًŲ§ Ų±َŲ¶ِيَ Ł…ِنْهَŲ§ Ų¢Ų®َŲ±َ

"Tidak pantas bagi lelaki yang beriman untuk meremehkan wanita yang beriman. Bila ia tidak menyukai satu perangai darinya, pasti ia puas dengan perangainya yang lain." (Hr. Muslim)

Saudaraku, Anda kecewa karena istri Anda kurang pandai memasak? Tidak perlu khawatir, karena ternyata istri Anda adalah penyayang.

Anda kurang puas dengan istri Anda yang kurang pandai mengurus rumah dan kurang sabar? Tidak usah berkecil hati, karena ia begitu cantik rupawan.

Anda berkecil hati karena istri Anda kurang cantik? Segera besarkan hati Anda, karena ternyata istri Anda subur sehingga Anda mendapatkan karunia keturunan yang shalih dan shalihah. Coba Anda bayangkan, betapa besar penderitaan Anda bila Anda menikahi wanita cantik akan tetapi mandul.

Demikianlah seterusnya.

Tidak etis dan tidak manusiawi bila Anda hanya pandai mengorek kekurangan istri, namun Anda tidak mahir dalam menemukan kelebihan-kelebihannya. Buktikan Saudaraku, bahwa Anda benar-benar seorang suami yang berjiwa besar, sehingga Anda peka dan lihai dalam membaca kelebihan pasangan Anda.

Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu peka dan mahir dalam membaca segala hal, termasuk suasana hati istrinya. Aisyah mengisahkan,

Ł‚َŲ§Ł„َ Ł„ِي Ų±َŲ³ُŁˆŁ„ُ اللَّهِ ŲµَŁ„َّى اللهُ Ų¹َŁ„َيْهِ وَ Ų³َŁ„َّŁ…َ: Ų„ِنِّي Ł„َŲ£َŲ¹ْŁ„َŁ…ُ Ų„ِŲ°َŲ§ كُنْŲŖِ Ų¹َنِّي Ų±َŲ§Ų¶ِيَŲ©ً، وَŲ„ِŲ°َŲ§ كُنْŲŖِ Ų¹َŁ„َيَّ ŲŗَŲ¶ْŲØَى . Ł‚َŲ§Ł„َŲŖْ: فَŁ‚ُŁ„ْŲŖُ Ł…ِنْ Ų£َيْنَ ŲŖَŲ¹ْŲ±ِفُ Ų°َŁ„ِكَ، فَŁ‚َŲ§Ł„َ: Ų£َŁ…َّŲ§ Ų„ِŲ°َŲ§ كُنْŲŖِ Ų¹َنِّي Ų±َŲ§Ų¶ِيَŲ©ً فَŲ„ِنَّكِ ŲŖَŁ‚ُŁˆŁ„ِيْنَ لاَ وَŲ±َŲØِّ Ł…ُŲ­َŁ…َّŲÆٍ، وَŲ„ِŲ°َŲ§ كُنْŲŖِ ŲŗَŲ¶ْŲØَى Ł‚ُŁ„ْŲŖِ لاَ وَŲ±َŲØِّ Ų„ِŲØْŲ±َاهِŁŠŁ…َ. Ł‚َŲ§Ł„َŲŖْ: Ł‚ُŁ„ْŲŖُ Ų£َŲ¬َŁ„ْ وَاللَّهِ يَŲ§ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„َ اللَّهِ، Ł…َŲ§ Ų£َهْŲ¬ُŲ±ُ Ų„ِلاَّ Ų§Ų³ْŁ…َكَ

“Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Sungguh, aku mengetahui bila engkau ridha kepadaku, demikian pula bila engkau sedang marah kepadaku.’ Spontan, Aisyah bertanya, ‘Darimana engkau dapat mengetahui hal itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Bila engkau sedang ridha kepadaku, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad. Adapun bila engkau sedang dirundung amarah, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’’ Mendengar penjelasan ini, Aisyah menimpalinya dan berkata, ‘Benar, sungguh demi Allah, wahai Rasulullah, ketika aku marah, tiada yang aku tinggalkan, kecuali namamu saja.’” (Muttafaqun 'alaihi)

Demikianlah teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau begitu peka dengan suasana hati istrinya, sehingga beliau bisa membaca isi hati istrinya dari ucapan sumpahnya. Walaupun Aisyah berusaha untuk menyembunyikan isi hatinya, tetap bermanis muka, senantiasa berada di sanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berbicara seperti biasa, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat menebak suasana hatinya dari perubahan cara bersumpahnya. Luar biasa, perhatian, kejelian, dan kepekaan yang tidak ada bandingnya.

Tidak mengherankan, bila beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(Ų®َيْŲ±ُكُŁ…ْ Ų®َيْŲ±ُكُŁ…ْ Ł„ِŲ£َهْŁ„ِهِ وَŲ£َنَŲ§ Ų®َيْŲ±ُكُŁ…ْ Ł„ِŲ£َهْŁ„ِي

"Orang terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik dalam memperlakukan istrinya, dan aku adalah orang terbaik di antara kalian dalam memperlakukan istriku." (Hr. At-Tirmidzi)

Bagaimana dengan Anda, Saudaraku? Dengan apa Anda dapat mengenali dan meraba suasana hati pasangan Anda?

Saudaraku, tidak ada salahnya bila sejenak Anda kembali memutar lamunan dan gambaran tentang istri ideal dan idaman yang pernah singgah dalam benak Anda. Selanjutnya, bandingkan gambaran istri idaman Anda dengan gambaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kaum wanita berikut ini,

Ų§Ł„ْŁ…َŲ±ْŲ£َŲ©ُ كَالضِّŁ„َŲ¹ِ ، Ų„ِنْ Ų£َŁ‚َŁ…ْŲŖَهَŲ§ كَŲ³َŲ±ْŲŖَهَŲ§، وَŲ„ِنِ Ų§Ų³ْŲŖَŁ…ْŲŖَŲ¹ْŲŖَ ŲØِهَŲ§ Ų§Ų³ْŲŖَŁ…ْŲŖَŲ¹ْŲŖَ ŲØِهَŲ§ وَفِŁŠŁ‡َŲ§ Ų¹ِوَŲ¬ٌ

"Wanita itu bagaikan tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah, dan bila engkau bersenang-senang dengannya, niscaya engkau dapat bersenang-senang dengannya, sedangkan ia adalah bengkok." (Muttafaqun 'alaihi)

Pada riwayat lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ ŲŖَŲ³ْŲŖَŁ‚ِŁŠŁ…ُ Ł„َكَ Ų§Ł„ْŁ…َŲ±ْŲ£َŲ©ُ Ų¹َŁ„َى Ų®َŁ„ِŁŠŁ‚َŲ©ٍ وَŲ§Ų­ِŲÆَŲ©ٍ وَŲ„ِنَّŁ…َŲ§ هِيَ كَالضِّŁ„َŲ¹ُ Ų„ِنْ ŲŖُŁ‚ِŁ…ْهَŲ§ ŲŖَكْŲ³ِŲ±ْهَŲ§ وَŲ„ِنْ ŲŖَŲŖْŲ±ُكْهَŲ§ ŲŖَŲ³ْŲŖَŁ…ْŲŖِŲ¹ْ ŲØِهَŲ§ وَفِŁŠŁ‡َŲ§ Ų¹ِوَŲ¬ٌ

"Tidak mungkin istrimu kuasa bertahan dalam satu keadaan. Sesungguhnya, wanita itu bak tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah. Adapun bila engkau biarkan begitu saja, maka engkau dapat bersenang-senang dengannya, (tetapi hendaklah engkau ingat) ia adalah bengkok.” (Hr. Ahmad)

Nah, sekarang, silakan Anda mengorek memori Anda tentang wanita pendamping hidup Anda. Temukan berbagai kelebihan padanya, dan selanjutnya tersenyumlah, karena ternyata istri Anda memiliki banyak kelebihan.

Lalu, bila pada suatu hari Anda merasa tergoda oleh kecantikan wanita lain, maka ketahuilah bahwa sesuatu yang dimiliki oleh wanita itu ternyata juga telah dimiliki oleh istri Anda. Maka, bergegaslah untuk membuktikan hal ini pada istri Anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ų„ِŲ°َŲ§ Ų±َŲ£َى Ų£َŲ­َŲÆُكُŁ…ُ Ų§Ł…ْŲ±َŲ£َŲ©ً فَŲ£َŲ¹ْŲ¬َŲØَŲŖْهُ فَŁ„ْيَŲ£ْŲŖِ Ų£َهْŁ„َهُ فَŲ„ِنَّ Ł…َŲ¹َهَŲ§ Ł…ِŲ«ْŁ„َ Ų§Ł„َّŲ°ِي Ł…َŲ¹َهَŲ§

"Bila engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu! Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh wanita yang engkau lihat itu." (Hr. At-Tirmidzi)

Demikianlah caranya agar Anda dapat senantiasa puas dan bangga dengan pasangan hidup Anda. Anda selalu dapat merasa bahwa ladang Anda tampak hijau, sehijau ladang tetangga, dan bahkan lebih hijau.

Selamat berbahagia dengan pasangan hidup yang telah Allah karuniakan kepada Anda. Semoga Allah memberkahi bahtera rumah tangga Anda.

Sebaliknya, sebagai calon istri, Anda juga berhak untuk mendambakan pasangan hidup yang tampan, gagah, kaya raya, pandai, berkedudukan tinggi, penuh perhatian, setia, penyantun, dermawan, dan lain sebagainya.

Betapa indahnya gambaran rumah tangga Anda, dan betapa istimewanya pasangan hidup Anda, andai gambaran Anda ini dapat terwujud. Bukankah demikian, Saudariku?

Saudariku, setelah Anda menikah, benarkah seluruh kriteria suami ideal yang pernah menghiasi lamunan Anda ini terwujud pada pasangan hidup Anda?

Bila benar terwujud, maka saya ucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat, dan bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati.

Besarkan hatimu, wahai Saudariku! Percayalah, bahwa pada pasangan hidup Anda ternyata terdapat banyak kelebihan.

Bila selama ini, Saudari ciut hati karena suami Anda miskin harta, maka tidak perlu khawatir, karena ia penuh dengan perhatian dan tanggung jawab.

Bila selama ini, Saudari kecewa karena suami Anda ternyata kurang tampan, maka percayalah bahwa ia setia dan bertanggung jawab.

Andai selama ini, Saudari kurang puas karena suami Anda kurang perhatian dengan urusan dalam rumah, tetapi ia begitu membanggakan dalam urusan luar rumah.

Juga, andai selama ini, sikap suami Anda terhadap Anda kurang simpatik, maka tidak perlu hanyut dalam duka dan kekecawaan, karena ia masih punya jasa baik yang tidak ternilai dengan harta. Ternyata, selama ini, suami Anda telah menjaga kehormatan Anda, menjadi penyebab Anda merasakan kebahagiaan menimang putra-putri Anda.

Saudariku, Anda tidak perlu hanyut dalam kekecewaan karena suatu hal yang ada pada diri suami Anda. Betapa banyak kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Berbahagia dan nikmatilah kedamaian hidup rumah tangga bersamanya.

Berlarut-larut dalam kekecewaan terhadap suatu perangai suami Anda dapat menghancurkan segala keindahan dalam rumah tangga Anda. Bukan hanya hancur di dunia, bahkan berkelanjutan hingga di akhirat kelak.

Saudariku, simaklah peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Agar anda dapat menjadikan bahtera rumah tangga Anda seindah dambaan Anda.

Ų£ُŲ±ِيتُ النَّŲ§Ų±َ فَŲ„ِŲ°َŲ§ Ų£َكْŲ«َŲ±ُ Ų£َهْŁ„ِهَŲ§ النِّŲ³َŲ§Ų”ُ يَكْفُŲ±ْنَ، Ł‚ِŁŠŁ„َ: Ų£َيَكْفُŲ±ْنَ ŲØِاللَّهِ؟ Ł‚َŲ§Ł„َ: يَكْفُŲ±ْنَ Ų§Ł„ْŲ¹َŲ“ِيرَ، وَيَكْفُŲ±ْنَ ال؄ِŲ­ْŲ³َانَ، Ł„َوْ Ų£َŲ­ْŲ³َنْŲŖَ Ų„ِŁ„َى Ų„ِŲ­ْŲÆَاهُنَّ الدَّهْŲ±َ Ų«ُŁ…َّ Ų±َŲ£َŲŖْ Ł…ِنْكَ Ų“َيْŲ¦ًŲ§، Ł‚َŲ§Ł„َŲŖْ: Ł…َŲ§ Ų±َŲ£َيْŲŖُ Ł…ِنْكَ Ų®َيْŲ±ًŲ§ Ł‚َŲ·ُّ

“Aku diberi kesempatan untuk menengok ke dalam neraka, dan ternyata kebanyakan penghuninya ialah para wanita, akibat ulah mereka yang selalu kufur/ingkar.” Spontan, para shahabat bertanya, “Apakah yang engkau maksud adalah mereka kufur/ingkar kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka terbiasa ingkar terhadap perilaku baik, dan ingkar terhadap jasa baik. Andai engkau berbuat baik kepada mereka seumur hidupmu, lalu ia mendapatkan suatu hal padamu, niscaya mereka begitu mudah berkata, ‘Aku tidak pernah mendapatkan kebaikan sedikit pun darimu.’” (Muttafaqun 'alaihi)

Anda mendambakan kebahagian dalam rumah tangga?

Temukanlah bahwa kebahagian hidup dan berumah tangga terletak pada genggaman tangan suami Anda. Pandai-pandailah membawa diri, sehingga suami Anda rela membentangkan kedua telapak tangannya, dan memberikan kebahagian berumah tangga kepada Anda.

Percayalah Saudariku, suami Anda adalah pasangan terbaik untuk Anda.

Ų„ِŲ°َŲ§ ŲµَŁ„َّŲŖِ Ų§Ł„ْŁ…َŲ±ْŲ£َŲ©ُ Ų®َŁ…ْŲ³َهَŲ§ وَŲµَŲ§Ł…َŲŖْ Ų“َهْŲ±َهَŲ§ وَŲ­َفِŲøَŲŖْ فَŲ±ْŲ¬َهَŲ§ وَŲ£َŲ·َŲ§Ų¹َŲŖْ Ų²َوْŲ¬َهَŲ§ Ł‚ِŁŠŁ„َ Ł„َهَŲ§ Ų§ُŲÆْŲ®ُŁ„ِي Ų§Ł„ْŲ¬َنَّŲ©َ Ł…ِنْ Ų£َيِّ Ų£َŲØْوَŲ§ŲØِ Ų§Ł„ْŲ¬َنَّŲ©ِ Ų“ِŲ¦ْŲŖِ

“Bila seorang istri telah mendirikan shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, menjaga kesucian dirinya, dan taat kepada suaminya, niscaya kelak akan dikatakan kepadanya, 'Silakan engkau masuk ke surga dari pintu mana pun yang engkau suka.’” (Hr. Ahmad dan lainnya)

Tidakkah Anda mendambakan termasuk orang-orang mukminah yang mendapatkan kebebasan masuk surga dari pintu yang mana pun?

Kunci Keberhasilan Rumah Tangga

Saudaraku, mungkin selama ini Anda bersama pasangan hidup Anda, terus berusaha mencari pola rumah tangga yang dapat mendatangkan kebahagiaan untuk Anda berdua.

Anda berhasil menemukannya?

Bila Anda berhasil, maka saya ucapkan selamat berbahagia. Adapun bila belum, maka segera temukan kunci keberhasilan rumah tangga Anda pada firman Allah berikut,

وَŁ„َهُنَّ Ł…ِŲ«ْŁ„ُ Ų§Ł„َّŲ°ِي Ų¹َŁ„َيْهِنَّ ŲØِŲ§Ł„ْŁ…َŲ¹ْŲ±ُوفِ وَŁ„ِلرِّŲ¬َŲ§Ł„ِ Ų¹َŁ„َيْهِنَّ ŲÆَŲ±َŲ¬َŲ©ٌ

"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya." (Qs. al-Baqarah: 228)

Hak pasangan Anda setimpal dengan kewajiban yang ia tunaikan kepada Anda. Semakin banyak Anda menuntut hak Anda, maka semakin banyak pula kewajiban yang harus Anda tunaikan untuknya.

Shahabat Abdullah bin 'Abbas memberikan contoh nyata dari aplikasi ayat ini dalam rumah tangganya. Pada suatu hari, beliau berkata, "Sesungguhnya, aku senang untuk berdandan demi istriku, sebagaimana aku pun senang bila istriku berdandan demiku, karena Allah Ta'ala telah berfirman,

وَŁ„َهُنَّ Ł…ِŲ«ْŁ„ُ Ų§Ł„َّŲ°ِي Ų¹َŁ„َيْهِنَّ ŲØِŲ§Ł„ْŁ…َŲ¹ْŲ±ُوفِ

‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf.’

Aku pun tidak ingin menuntut seluruh hakku atas istriku, karena Allah juga telah berfirman,

وَŁ„ِلرِّŲ¬َŲ§Ł„ِ Ų¹َŁ„َيْهِنَّ ŲÆَŲ±َŲ¬َŲ©ٌ

‘Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.’" (Hr. Ibnu Abi Syaibah dan ath-Thabari)

Bagaimana dengan dirimu, wahai saudara dan saudariku? Kapankah Anda berdandan? Ketika sedang berada di rumah atau ketika hendak keluar rumah? Selama ini, sejatinya, untuk siapa Anda berdandan? Benarkah Anda berdandan untuk pasangan Anda, ataukah Anda berdandan dan tampil menawan untuk orang lain?

Saudaraku, bahu-membahu, saling melengkapi kekurangan, dan saling pengertian adalah salah satu prinsip dasar dalam membangun rumah tangga. Tidak layak bagi Anda untuk berperan sebagai penonton setia ketika pasangan Anda sedang mengerjakan pekerjaannya. Usahakan sebisa Anda untuk turut menyelesaikan pekerjaannya. Demikianlah, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan dalam rumah tangga beliau.

Aisyah radhiyallahu 'anha mengisahkan,

كَانَ فِي Ł…ِهْنَŲ©ِ Ų£َهْŁ„ِهِ، فَŲ„ِŲ°َŲ§ Ų³َŁ…ِŲ¹َ الأَŲ°َانَ Ų®َŲ±َŲ¬َ

"Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sebagian pekerjaan istrinya, dan bila beliau mendengar suara azan dikumandangkan, maka beliau bergegas menuju ke mesjid." (Hr. Bukhari)

Constance Gager, ketua studi sekaligus asisten profesor di Montclair State University, Montclair, New Jersey, mengadakan penelitian tentang hubungan perilaku suami-istri dengan keromantisan dalam bercinta. Ia mengelompokkan para suami yang menjadi objek penelitiannya ke dalam dua kelompok.

Kelompok pertama adalah suami-suami yang tidak peduli dan jarang membantu pekerjaan istri. Kelompok kedua adalah suami-suami yang sering turut serta dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga istri.

Hasilnya luar biasa! Suami di kelompok kedua, yaitu yang sering membantu pekerjaan istrinya, terbukti lebih romantis dan lebih sering memadu cinta dengan pasangannya. Hubungan yang harmonis dan indah, begitu kental dalam rumah tangga mereka.

Sejatinya, penemuan ini bukanlah hal baru, karena secara logika, suami yang dengan rendah hati membantu pekerjaan istrinya pastilah lebih dicintai oleh istrinya. Tentunya, ini memiliki hubungan erat dengan keromantisan suami-istri dalam bercinta.

Sebaliknya, istri yang peduli dengan pekerjaan suami, pun akan mengalami hal yang sama.

Nah, bagaimana dengan diri Anda, wahai Saudaraku?

Selamat membuktikan resep manjur ini! Semoga berbahagia, dan hubungan Anda berdua semakin romantis dan harmonis.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi Anda. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Ustadz Arifin Badri, Lc., M.A.

Artikel: www.pengusahamuslim.com

Jumat, 30 April 2010

LUAR BIASA BETAPA BERHARGA MENJADI SEORANG WANITA MUSLIMAH

Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat saja peraturan dibawah ini:
* Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
* Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
* Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
* Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
* Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
* Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
* Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
* Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid Dan nifas yang tak Ada pada lelaki.

Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA".

Pernahkah Kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?

1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.

2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?

3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.

4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.

5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabk an terhadap! 4 wanita, yaitu : Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.

7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita Ingat firman Nya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai Kita ikut / tunduk kepada cara-cara / peraturan buatan mereka. (emansipasi Ala western)

Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan Kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala Hukumnya / peraturannya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan/hukum buatan manusia.

Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum lelaki) berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu.

Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya. (untuk anak laki2 berlaku kaidah yang berbeda).

Berbahagialah wahai para muslimah. Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini. Tunaikan dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya surga menantimu.<Photo 2><Photo 2><Photo 2><Photo 2><Photo 2><Photo 2><Photo 2>

Kamis, 29 April 2010

Terbanglah tinggi

Selembar kertas tergeletak di atas tanah; kotor, berdebu, terinjak-injak orang yang lewat, tidak pernah dipedulikan orang lain. Setiap hari kertas tersebut melihat pesawat terbang melintas di langit. Alangkah beruntungnya dia jika bisa menjadi kapal terbang.

ALLAH tidak adil, katanya. Tubuh pesawat terbang begitu berat, namun pesawat bisa melayang di ketinggian. Mengapa dirinya yang ringan justru tergeletak di atas tanah?

Selembar kertas mengetahui kalau pesawat terbang melayang menggunakan bahan bakar minyak. Ia segera mencari bahan bakar tersebut dan melumuri seluruh tubuhnya. Tapi bukan melayang yang dia dapat, malah semakin lekat teronggok di atas tanah.

Kertas itu cemburu melihat burung-burung terbang di udara. Dia berpikir burung-burung bisa terbang karena bulu-bulunya. Kertas pun menempeli tubuhnya dengan bulu-bulu agar bisa terbang seperti burung. Tapi yang dia dapat hanya tubuhnya yang semakin kotor dan tak bisa terbang sama sekali.

Lalu selembar kertas melihat layang-layang terbang menantang angin. Semakin kuat angin, semakin tinggi laying-layang terbang. Dan yang lebih menakjubkan baginya adalah saat dia menyadari layang-layang itu terbuat dari SELEMBAR KERTAS! Selembar kertas begitu heran. “Apakah yang kau miliki sehingga bisa terbang begitu tinggi?” tanyanya.
Layang-layang menjawab bahwa untuk bisa terbang, hanya diperlukan dua hal: ANGIN dan PENAMPANG.

ALLAH telah menciptakan angin, dan kita adalah penampangnya. Bukan bahan bakar yang membuat kapal terbang melayang di langit. Bukan pula sayap yang membuat burung-burung terbang tinggi di udara. Burung tidak memerlukan bahan bakar, dan kapal terbang tak perlu mengepakkan sayap.

Sayap aerodinamis kapal terbang, kepakan sayap burung, bukanlah syarat mengapa mereka bisa terbang. Tetapi karena ANGIN dan PENAMPANG.

ALLAH telah menciptakan angin, dan kita adalah penampangnya. Bukankah itu sudah cukup untuk membuat kita bisa terbang? Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita dan alam raya ini telah diciptakan dengan begitu sempurna. Begitu menakjubkan. Begitu AMAZING…!

Kita tidak menyadari betapa menakjubkannya ‘penampang’ dalam penciptaan diri kita sehingga kita bisa menangkap angin manapun dalam kehidupan ini, dan dengannya kita terbang meninggi.

Mitos Kecantikan

Kondisi sekarang telah tergambar dengan jelas keadaan kaum perempuan yang mengadopsi jati diri sekuler Barat. Mereka sesungguhnya tidak benar-benar bebas menentukan citra diri sesuai keinginannya, tetapi sebaliknya mereka mendapatkan tekanan untuk hidup sesuai dengan harapan-harapan tertentu, harapan-harapan yang pada hakikatnya hanya merupakan fantasi belaka. Oleh sebab itu, upaya mempercantik diri tidak akan dapat mendatangkan kehormatan bagi perempuan atau membuatnya berharga di tengah-tengah masyarakat.

Andaikata memang benar demikian adanya, maka kita perlu bertanya pada diri kita. Mengapa mitos kecantikan ini terus berkembang dan tersebar luas di kalangan perempuan, baik yang tinggal di sekitar dunia Barat maupun yang tinggal jauh dari dunia Barat? Mengapa semakin banyak perempuan yang tidak menyadari bahwa mereka terus diperdayakan setiap hari? Mengapa citra perempuan Barat yang berdasarkan jati diri dan pandangan hidup yang sekuler itu dijadikan model yang harus ditiru seluruh kaum perempuan di dunia?

Sebagaimana terhadap masalah-masalah lainnya, pandangan hidup kapitalisme buatan manusia menilai persoalan kecantikan ini dari sisi uang dan manfaat. Industri alat-alat kecantikan, kosmetika, fesyen, dan bisnis operasi plastik di dunia Barat didukung oleh perusahaan-perusahaan besar yang memiliki aset jutaan dollar. Demikian pula industri majalah, yang mengiklankan produk-produk tersebut dan mendongkrak citra penampilan perempuan.

Oleh karena itu, segala macam upaya mempercantik diri yang dilakukan kaum perempuan harus tetap dipertahankan agar perusahaan-perusahaan tersebut terus mendapatkan keuntungannya. Berbagai citra dan cita-cita kaum perempuan yang tidak wajar harus terus dipelihara, semata-mata dengan tujuan agar pendapatan perusahaan-perusahaan itu terus bertambah, seiring dengan semakin besarnya dana yang dikeluarkan kaum perempuan untuk mendapatkan bentuk penampilan fisik yang diinginkan, yang terus berubah dari waktu ke waktu. Naomi Wolf menyatakan dalam bukunya “The Beauty Myth”, “Perekonomian yang bergantung pada perbudakan harus mampu menampilkan citra budak yang dapat “melegitimasi” lembaga perbudakan itu sendiri.”

Mitos kecantikan semacam itu harus disembunyikan sejauh mungkin dari pandangan publik agar dollar dan poundsterling yang diharapkan terus mengalir masuk. Dengan demikian, citra perempuan Barat terus dijadikan idola perempuan seluruh dunia untuk memuaskan nafsu sejumlah pimpinan dan pemilik perusahaan yang serakah. Seorang pakar ekonomi, John Kenneth Galbraith memberikan komentar tentang upaya mempercantik diri sebagai berikut, “Kita dipaksa oleh ilmu sosiologi populer, berbagai majalah, dan kisah-kisah fiksi untuk menyembunyikan fakta bahwa kaum perempun dalam kedudukannya sebagai konsumen memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan masyarakat industri kita … Perilaku yang penting bagi perkembangan ekonomi itu telah berubah menjadi sebuah nilai yang utama di tengah-tengah masyarakat.”

Sebagaimana dijelaskan di muka, industri kecantikan di Inggris berhasil meraup pendapatan hingga 8,9 miliar poundsterling setiap tahunnya. Industri fesyen dunia mampu menghasilkan pemasukan total sebesar 1.500 miliar dollar AS setahunnya; sedangkan industri produk-produk diet di AS dapat meraup 74 miliar dollar setiap tahunnya (Time Magazine, 1988). Sebuah bisnis bedah kosmetik di AS dapat dengan sangat mudah meraup pendapatan 1 juta dollar AS setahun. Ketika kontestan dari India berhasil memenangkan kontes kecantikan Miss World selama dua tahun berturut-turut, seorang anggota organisasi perempuan di India berkomentar bahwa hal itu bukan disebabkan karena kecantikan Miss India yang luar biasa, tetapi lebih disebabkan karena perusahaan-perusahaan kosmetika internasional ingin menembus pasar India.

Selain dari itu, media televisi dan majalah juga berhasil meraup pendapatan jutaan dollar dari iklan produk-produk perusahaan kecantikan tersebut, dengan jalan menampilkan citra “Wanita Cantik” yang semestinya menggunakan atau memakai produk-produk mereka. Berbagai industri kosmetika dan alat-alat perawatan tubuh mengeluarkan dana untuk kepentingan iklan yang jumlahnya lebih besar daripada jenis-jenis industri lainnya. Pernah terjadi, satu edisi majalah kecantikan Harper’s and Queen berhasil meraih pendapatan senilai 100.000 poundsterling dari iklan perusahaan-perusahaan kosmetika. Tidak mengherankan bila kemudian ada seorang penulis majalah “Cover Up” yang mengatakan, “Para editor (bagian) kosmetik sangat jarang dapat menulis fakta tentang kosmetika secara bebas,” karena para pemasang iklan membutuhkan suatu promosi dari pihak editor sebagai suatu prasyarat pemasangan iklan.

Setelah memahami permasalahan ini, akankah kaum perempuan yang berpikiran maju mau menelan mentah-mentah berbagai kebohongan dan tipu muslihat yang melingkupi citra perempuan Barat, atau sebaliknya mereka harus berpikir secara hati-hati mengenai jati diri dan citra yang tepat untuk dijadikan pegangan bagi mereka dalam mengarungi kehidupan?

aku makin cantik hari ini

Tahukah engkau, aku makin cantik hari ini! Sungguh, aku makin cantik! Lebih cantik dari kemarin, dari kemarinnya lagi, dan dari kemarin-kemarinnya lagi. Coba lihat, dahiku tidak berkerut-kerut oleh pikiran dan kepedihan seperti beberapa hari yang lalu. Bibirku tidak mengerucut oleh kejengkelan dan kemarahan seperti kemarin.

Mukaku tidak lagi tertekuk penuh beban dan BeTe-an seperti waktu-waktu yang lewat. Tubuhku tidak lagi lesu karena keputusasaan dan kehilangan harapan. Sungguh, aku makin cantik hari ini! Coba perhatikan, mataku bersinar-sinar oleh kegembiraan. Bibirku merekah lebar oleh senyum ketulusan. Pipiku merona merah oleh semangat pengharapan. Urat-urat wajahku santai memancarkan aura kepasrahan. Dan semuanya menjadikan wajahku berseri-seri. Sungguh, cantiknya aku hari ini!

Sudah sepekan aku banyak tertawa, menari dan menyanyi, menikmati hidup ini dan tidak membiarkan permasalahan mempengaruhi suasana hati. Ah, cantiknya diriku karenanya. Sudah sepekan aku berusaha banyak menyapa dan memaafkan semua saudara. Dan itu telah membuatku lebih cantik hari ini. Sudah seminggu aku berusaha lebih banyak berderma pada sesama. Kini aku merasakan cantik sebagai balasannya. Sudah seperempat bulan aku berusaha lebih mensyukuri setiap karunia Ilahi. Dan kini kurasakan Allah menambahi nikmat itu dengan menjadikanku cantik sekali. Bahagianya aku karenanya! Dan bahagia itu, kurasakan kian membuatku cantik saja.

Ada kalanya kita membenci diri kita sendiri. Ada kalanya kita tidak menyukai apa yang kita lakukan. Ada kalanya kita melakukan kesalahan. Ada kalanya kita terpuruk dalam kepedihan. Ada kalanya kita tenggelam dalam kesedihan. Ada kalanya kita tak mengerti mengapa hidup berjalan tidak seperti yang kita bayangkan. Ada kalanya perjalanan menjadi demikian berat kita rasakan. Hingga sikap kita pun terbawa oleh perasaan. Hingga kita mengambil langkah tanpa pertimbangan. Tindakan yang dilakukan pun merupakan reaksi spontan. Akibatnya yang tertinggal kemudian hanya penyesalan dan keterpurukan yang semakin dalam. Dan tahukah dikau? Semua itu akan menyebabkan penampilan dan tampang kita menjadi makin buruk saja. Maka berbahagialah ketika kita bisa melewati masa-masa seperti itu dengan elegan. Saat kita bisa menahan diri terhadapa sesuatu yang sangat kita inginkan. Saat kita bisa menghadapi segala permasalahan dengan tenang.

Saat kita berhasil menaklukkan musibah dan hambatan penyebab kesedihan. Hidup tidaklah berjalan

PERAN MUSLIMAH STRATEGIS DAN KONTRIBUTIF

Peran sahabiyyah di zaman rasulullah sangat banyak dan beragam. Sementara sekarang ada pemikiran yang mengerucutkan peran muslimah itu menjadi dua poin ekstrim ibu bekerja dan ibu rumahtangga. Bagaimana sebenarnya?
Peran muslimah, sesungguhnya bukan sekedar pelengkap, pemanis, atau sekedar peran di belakang layar. Dari siroh kita belajar bahwa mereka juga menjalankan peran-peran strategis.
Dalam perencanaan penempatan pasukan, misalnya, muslimah ditempatkan pada tempat yang sesuai dengan fitrahnya, di belakang.. Namun, pada saat-saat genting, Rasul tidak melarang muslimah untuk mengambil peran-peran penting, bahkan meski itu mengambil tempatnya para sahabat. Contoh, Nasibah Al- Mazniyyah, Srikandi Perang Uhud. Di saat genting, Umar, dan bahkan Abu Bakar minggir ketika mendengar kabar Rasulullah telah mati. Meeka tidak punya semangat lagi untuk berjihad, karena mereka pikir, siapa lagi yang mau dibela? Saat itu Rasul pingsan. Saat tersadar, ia tidak melihat kehadiran orang lain kecuali Nasibah. Kemudian Rasulullah mempersilakannya meminta kepadanya, ''Ya Nasibah, salmi, salmi/ mintalah , mintalah''. Kemudian Nasibah meminta ''Ya Allah jadikanlah aku sebagai temannya di surga''. Rasullah langsung memohon kepada Allah '' Ya Allah jadikanlah Nasibah ini menjadi temanku di surga,''
Nasibah berperan langsung, bahkan dalam perang fisik. Tadinya ia memegang dua pedang. Tapi, setelah ia kehilangan sebelah tangannya, ia memberikan salah satu pedangnya kepada anaknya.
Dalam peperangan itu, Nasibah kehilangan suami, anak, dan sebagian anggota badannya. Dalam kondisi genting seperti itu, Rasulullah tidak mengatakan ''Nasibah, ngapain kamu di sini?'' Tidak. Jadi, meski sebelumnya ia berada di deretan pasukan belakang, saat itu Nasibah berperan sebagai pendamping rasul karena tidak ada yang melakukannya.
Bagaimana kerjasama yang dibangun oleh para sahabiyat sehingga mereka mampu menjalankan peranan yang beraneka ragam?
Pada masa itu, muslimah itu adalah obyek sekaligus subyek. Seperti yang dikatakan Rasulullah an-nisaai saqoo iqurrijal, wanita itu saudara kandungnya laki-laki. Namanya saudara kandung, ya harus tolong menolong.
Bentuk realisasi tolong-menolongnya bagaimana?
Ada penjelasan dalam buku alakhwatul mukminah, karangan Munir Gadhban. Saat Ja'far Aththoyyar meninggal, para muslimah menjalankan aksi untuk meringankan beban keluarganya, terutama istrinya, AsmaĆ¢€™ binti Umais. Tidak ada aktivitas masak saat itu di rumah Asma karena para sahabiyat telah memasakannya di rumah mereka masing-masing.
Aplikasinya zaman sekarang, kita harus saling membantu saat akhwat yang lain membutuhkan kita. Sebagaimana kita mengetahui bahwa suksesnya dakwahnya rasul sangat didukung oleh kerjasama para sahabiyat. Bila suami-suami para sahabiyat lain sedang berjihad, mereka saling tolong-menolong. Padahal perginya para sahabat itu bukan cuma berbilang hari, tapi berbilang bulan. Dan hal itu kan tidak mudah. Saat suami tidak ada di rumah, para sahabiyat kan harus menjalankan peran ibu sekaligus ayah, yang antara lain adalah sebagai penyangga ekonomi.Lalu, bagaimana kaitannya dengan muslimah sekarang yang menjalani peran profesionalnya?
Peran profesional muslimah adalah peran kontributif. Peran utamanya adalah di rumah. Ketika dia ke luar rumah dan menjalankan peran sesuai dengan kapasitasnya secara jujur, sesungguhnya ia tengah ikut bersama kaum pria untuk membangun bangsa ini. Meski demikian perlu diingat, bahwa kalau mau dilihat secara jumlah atau prosentasenya, sebenarnya wanita yang dikaruniai peran kontributif itu jumlahnya lebih kecil daripada "wanita rata-rata"
Ketika seorang muslimah memiliki potensi dan kesempatan untuk menjalani peran publik, maka ia harus menjalaninya dengan baik. Ia harus didukung oleh keluarganya, juga oleh masyarakat (negara). Keluarga harus merelakan waktu dan tenaga muslimah ini tidak hanya untuk keluarga, tapi juga untuk menjalankan amanah profesi. Muslimah itu juga harus menjalaninya profesinya secara amanah, sejujur-jujurnya. Caranya adalah dengan mencari cara yang efektif dan efisien untuk berperan optimal.
Keluarga, tetangga, dan kerabat pun seharusnya mendukung dengan cara bekerjasama. Misalnya, tetangga bisa terlibat dengan pengasuhan anaknya. Bukan mencemooh.
Pemerintah juga berkewajiban menyediakan Tempat Penitipan Anak (TPA) karena menggunakan tenaga dan pikiran ibu2. Idealnya, setiap instansi itu kan punya.
Kita memang perlu menciptakan dunia yang ramah bagi muslimah, ramah untuk peran reproduksi wanita.
Sekarang ini muslimah kita yang menjalankan amanah publik menjadi penuh perasaan bersalah. Tidak ada dukungan dari keluarga, dari tempat bekerja, dari pemerintah. Bahkan, sedihnya sesama muslimah pun tidak bekerjasama, tapi malah mencemooh. Akibatnya, muslimah yang bekerja di luar rumah tidak optimal karena tidak ada daya dukung.
Bagaimana dengan muslimah yang masih membuat dikotomi peran secara ekstrim? Apa yang dapat dilakukan untuk menjembatani keduanya?
Muslimah harus jujur melaksanakan potensinya. Ketika dia punya potensi publik, ia harus menjalankan peranan publiknya tanpa mengabaikan peranannya yang utama, sebagai ibu dan istri. Ketika dia tidak memiliki kapasitas publik, maka ia harus berupaya optimal menjalankan peranan utamanya itu.
Idealnya, keduanya dapat membangun kerjasama nyata. Bukan saling mencemooh, atau merasa diri paling shalihat diantara yang lain.

Dikutip dari ceramah ibu yoyoh yusroh