Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Mei 2012

Anak Pintar atau Anak Bahagia


Catatan di Tengah Hiruk Pikuk UN
Oleh Haidar Bagir
Sumber: http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=plong&id=43
 
Setiap orang tua yang mendapatkan pertanyaan ini, cepat atau lambat akan menjawab: “Anak bahagia.” Tapi, apakah benar anak pintar tak mesti bahagia? Jawabannya, ya. Anak pintar belum tentu bahagia. Bahkan, anak pintar yang tidak memiliki karakter-karakter tertentu, bisa diduga pasti tidak bahagia. Ya, anak bahagia belum tentu pintar. Anak yang memiliki karakter-karakter tertentu, meski tidak pintar, disuga pasti bahagia. Karakter-karakter itu terkait dengan kemampuan menghasilkan emosi-emosi positif, yang biasa disebut dengan emotional intelligence (EI atau EQ).
Jangankan kebahagiaan, kesuksesan saja tak selalu ada hubungannya dengan kepintaran. Suatu penelitian di Harvard University, atas mahasiswa kedokteran, hukum, bisnis, dan keguruan menunjukkan bahwa kesuksesan tak ada hubungannya sama sekali dengan kepintaran -sebagimana diukur dengan IQ.
Daniel Goleman menemukan: “… Kecerdasan emosional kita menentukan potensi kita untuk belajar keterampilan praktis... Kompetensi emosional kita menunjukkan berapa banyak potensi kita yang telah diaplikasikan menjadi kemampuan yang bisa dipakai saat bekerja.” Clifton dan Rath percaya bahwa emosi positif merupakan kebutuhan penting sehari-hari untuk kelangsungan hidup, dan untuk hidup bahagia.
Tapi, jangan khawatir. Jika dibarengi dengan kepemilikan karakter-karakter tertentu, kepintaran membantu kebahagiaan. Orang pintar yang memiliki karakter-karakter tertentu itu masih punya peluang bahagia lebih besar dibanding yang kurang pintar.
Masalahnya, mendorong anak untuk pintar, dengan cara-cara yang tidak bijaksana (push parenting atau push teaching), bisa menyebabkan anak kehilangan peluang untuk memiliki karakter-karakter yang mendukung kebahagiaan. Kenapa? Karena cara-cara yang tidak bijaksana– menekan, menuntut secara berlebihan, membebani anak dengan kegiatan belajar sehingga merampas waktu luang mereka – demi mengejar kepintaran adalah bertentangan dengan cara-cara untuk mengembangkan karakter yang mendukung kebahagiaan.
Menurut Daniel Goleman lagi, karakter-karakter itu adalah :
     Self Control: Kemampuan untuk mengelola emosi dan impuls yang mengganggu, secara efektif.
     Trustworthiness: Kejujuran dan integritas.
     Conscientiousness: Keteguhan dan tanggung jawab dalam memenuhi kewajiban.
     Adaptability: Fleksibilitas dalam menagani perubahan dan tantangan.
     Innovation: Keterbukaan terhadap ide-ide, pendekatan, dan informasi baru.
Sedangkan menurut psikologi positif (positive psychology), karakter-krakter itu adalah :
   Wisdom and Knowledge: Kreativitas, rasa ingin tahu, keterbukaan pikiran, cinta belajar, kejrnihan perspektif  (dalam melihat segala hal), inovasi.
      Courage: Keberanian, ketekunan, integritas, vitalitas.
      Humanity: Cinta, kebaikan, kecerdasan sosial.
      Justice: Kewarganegaraan, keadilan, kepemimpinan.
      Temperance: Rasa maaf dan kemurahan hati, kerendahan hati, kebijaksanaan, kontrol diri.
  Transcendence: Apresiasi terhadap keindahan dan keluhurnrasa syukur, harapan, humor, spiritualitas.
Sayangnya, terkadang kita harus memilih antara mendorong anak untuk pintar dan mendorong anak untuk memiliki karakter-karakter yang dapat menentukan kebahagiaan mereka. Kita memang perlu waktu banyak untuk menanamkan karakter-karakter ini sampai ia menjadi habit. Lebih dari itu, proses ini membutuhkan penciptaan suasana yang nyaman dan menenteramkan. Bukan tekanan. Sudah pasti suasana seperti ini tak diperoleh dengan terburu-buru dan pemaksaan.   (Sampai di sini kita ingat beban kurikulum di sekolah-sekolah kita yang amat tidak proporsional, dan berbagai jenis penilaian/tes yang tidak tepat-guna)     
Tak kalah pentingnya, kita juga perlu memastikan self esteem (harga diri) anak agar terus terpelihara. Hak ini merupakan syarat utama, bahkan bagian dari tjuan pendidikan untuk menanamkan karakter-karakter ini. Studi dari  Dr. Elizabeth Hurlock menunjukkan pentingnya menerapkan psikologi positif – sebuah aliran psikologi yang percaya bahwa semua manusia berbakat baik dan bahagia -- di sekolah dan keluarga. Mengabaikan atau mengkritik siswa dapat menghambat pendidikan mereka. Emosi positif memungkinkan individu untuk belajar dan bekerja dengan kemampuan mereka yang maksimal.
Dr. Elizabeth Hurlock menyimpulkan hal ini dari studi yang pernah dilakukannya. Ini merupakan studi yang dilakukan terhadap siswa antara kelas empat sampai enam. Studi itu dilakukan untuk melihat bahwa pujian, kritik dan sikap tak acuh guru terhadap kerja siswa bisa berefek pada siswa itu. Untuk percobaan ini sekelompok siswa diminta menyelesaikan soal matematika tertentu dalam beberapa hari. Anak-anak yang mendapat nilai tinggi, dipanggil dan dipuji di depan kelas. Mereka yang dapat nilai buruk, secara terbuka dimarahi di depan kelas. Sedangkan mereka yang dapat nilai sangat buruk, diabaikan. Hasilnya, siswa yang dipuji meningkat dengan 71%, siswa yang dikritik meningkatkan kinerja mereka dengan 19% dan mereka yang diabaikan meningkat sebesar 5%.
Untuk membesarkan anak berkarakter, kita juga perlu memberikan ruang seluas-luasnya untuk mereka untuk berekspresi, dan membuat kesalahan-kesalahan serta belajar darinya. Juga untuk belajar apa yang dia senangi.  Dan untuk bermain-main serta bersosialisasi, agar dapat terus belajar keterampilan sosial. Kita juga perlu memberikan ruang seluas-luasnya bagi mereka untuk aktif dalam berorganisasi, untuk punya waktu cukup menjalani hobinya, untuk belajar agama dan spiritualitas, untuk dilibatkan dalam aktivitas-aktivitas menolong orang lain, dan untuk dibawa ke tempat orang-orang yang kurang beruntung agar punya rasa syukur dan untuk belajar seni serta mengapresiasi keindahan
Nah, untungnya, emosi positif dapat menular. Sehingga, memiliki orang tua, anggota keluarga, teman, guru, murid, atau siapa saja di dekatnya yang mengemvangkan emosi positif dapat membantu siswa untuk menjadi positif dan bekerja dengan kemampuan mereka yang terbaik. Sebaliknya, jika ada satu saja yang negatif, hal itu dapat merusak seluruh suasana positif dalam suatu lingkungan.
Kesimpulan yang lain, menurut Clifton dan Rath, 99 dari 100 orang lebih suka berada di sekitar orang positif.Mereka percaya bahwa mereka bekerja lebih produktif ketika mereka berada di sekitar orang positif. Memang, seberapa pintar seseorang, hanyalah orang yang memiliki emosi positif yang akan disukai dan dicintai oleh orang lain. Inilah modal utama untuk sukses di mana saja, sekaligus untuk hidup bahagia.
Maka, marilah kita ubah paradigma kita dalam mendidik anak, dan memfokuskan proses pendidikan kepada pemenuhan syarat-syarat untuk bahagia, ketimbang sekadar untuk pintar. Marilah kita menekankan proses pendidikan pada penanaman karakter-karakter positif anak. Mari juga menjadi orang tua yang selalu memfasilitasi suasana yang nyaman bagi anak-anak kita, selalu memelihara harga diri mereka, dan selalu member ruang seluas-luanya bagi anak-anak kita untuk mencoba dan salah. Hanya dari itu semualah, kreativitas bisa lahir. Dan hanya dengan kreativitas, kita bias unggul berharap banyak kebahagiaan hidup menanti anak-anak kita.
Karena, jika bukan kebahagiaan, apalagi yang dicari orang tua untuk anak-anaknya.

Senin, 16 April 2012

Budaya menghakimi dan Menghukumi


Ada satu tulisan  yg ditulis oleh Prof. Rhenald kasali yg diposting di blog Ayah Edi, yang membuat saya tertarik untuk mempostingnya di blog ini. http://ayahkita.blogspot.com/2012/04/budaya-menghakimi-dan-menghukumi-para.html
Selain sebagai pembenaran terhadap apa yg saya lakukan dahulu terhadap anak  saya juga sebagai pencerahan bagi orang tua lain di masa yang akan datang. Saya bercerita sedikit tentang anak saya yg perempuan. Karena ayahnya yg harus pindah tugas ke daerah lain sehingga kami sekeluarga pun mengikuti pindah. Kepindahan ini kemudian mengharuskan anak saya untuk pindah sekolah, yg pada awalnya bersekolah di sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu, kemudian pindah ke sebuah sekolah negeri yang katanya favorite di kota itu. Hari pertama anak saya semangat untuk masuk di sekolah barunya, namun ketika pulang wajahnya sangat sedih dan meminta saya untuk mendampinginya selama di sekolah. Esoknya sayapun mendampinginya, setelah minta idzin kepada gurunya sayapun mendampingi anak saya selama waktu sekolahnya.Singkat kisah selama pindah sekolah di sekolah yg baru anak saya cenderung mengeluh dan tdk suka, terhadap segala hal yg ada di sekolahnya yg baru. Dia sering membandingkannya dg guru dan teman temannya di sekolahnya yg lama. Dan akhirnya puncak dari ketidaksenangannya anak sayapun tdk mau lagi bersekolah. Saya pun kemudian bertanya mengapa dia tak mau bersekolah, katanya  gurunya suka marah dan membentak, temannya tdk ada yg empati dg dirinya...demikianlah akhirnya sayapun memutuskan untuk home schooling untuk anak saya dan tdk menyekolahkannya lagi disekolah tersebut sampai kami pindah kembali ke kota yg lama dan kini anak saya enjoy lagi dg sekolahnya yg lama. Saya mengambil hikmah bahwa sesungguhnya guru dan lingkungan amat mempengaruhi perkembangan jiwa anak anak, sy lebih memilih menyekolahkan anak saya di sebuah sekolah yg memiliki guru dan lingkungan yg ramah terhadap anak-anak ketimbang sekolah yg katanya favorite namun sama sekali tdk ramah terhadap anak anak. Sekolah yg baik menurut saya bukanlah yg memajang piala anak anak yg ratusan jumlah di sekolah namun tak akan dingat lagi oleh para muridnya. Guru yang baik adalah guru yg senantiasa dingat kebaikannya walaupun muridnya sdh tdk bersekolah di sana lagi. Ini lah postingan yg sy ambil dr blog ayah Edy, yang  Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa....Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”“Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.BUDAYA MENGHUKUM Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesiayang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.***Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Adasemacam balas dendam dan kecurigaan.Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.MELAHIRKAN KEHEBATANBisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Jumat, 22 Juli 2011

Agar Anak Tak Menyukai Televisi

Written By: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Direktur Auladi Parenting School

Sudah terlalu bosan kita mendengar keluhan banyak orangtua tentang tayangan-tayangan televisi. Sudah terlalu sering pula kritik terhadap tayangan televisi dilontarkan. Entah berapa kajian dan penelitian yang kerap mengangkat dampak negatif televisi terhadap perilaku anak. Kita menyadari tidak semua acara televisi tidak bermanfaat, tapi jika kita jujur pada diri sendiri dari apa yang kita lihat, kita perhatikan dan kita renungi dari televisi, maka anda akan mendapat kesimpulan: televisi ada manfaatnya, tapi dampak ketidakmanfaatannya jauh lebih banyak dan dahsyat dari manfaatnya.

Jadi, rasanya tak ada lagi alasan untuk tidak mengendalikan anak dari televisi. Bagaimana caranya? Setidaknya ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, meniadakan sama sekali televisi di rumahnya. Kedua, menyediakan televisi dengan teknik PENGENDALIAN.

Mana yang tepat? Bagi saya dua alternatif ini adalah pilihan yang lebih baik, setidaknya dibandingkan dengan membiarkan anak sebebas-bebasnya anak nonton televisi tanpa batas. Karena bagaimana tanpa pembatasan televisi berpotensi menjadi 'musuh' yang tak terlihat yang diundang tak secara sengaja oleh orangtua, merusak anak-anaknya. Tak berlebihan jika ada yang mengatakan upaya orangtua sedari kecil membina anaknya dengan agama, ngaji di TPA hingga memilih sekolah terbaik untuk anak bisa 'berantakan' gara-gara televisi.

Memang ada yang tak setuju jika tiada sama sekali televisi di rumah menyebabkan anak-anak dapat 'menjelajah' rumah tetangga. Tapi alasan ini sebenarnya menjadi alasan yang tak perlu dikhawatirkan sebab sebenarnya sebetah-betahnya anak main nonton televisi di rumah tetangga dapat dipastikan ia tidak dapat betah berjam-jam dan berlama-lama di rumah orang lain dibandingkan di rumah sendiri.

Meniadakan sama sekali televisi di jaman memang seperti sebuah keanehan ketika kita hidup di tengah hutan 'modernisasi'. Tapi sebenarnya ini dapat difahami jika konteks keluarga, ayah, ibu dan seluruh anak dipersiapkan dan dikondisikan dan mengkondisikan diri. Megganti jam televisi di rumah dengan kegiatan-kegiatan bersama orangtua-anak dapat menjadi alternatif pengganti yang mengasyikkan.

Tak sedikit di keluarga-keluarga yang memiliki 'anggota keluarga' yang tak pernah dilahirkan bernama televisi, kebersamaan antaranggota keluarga terutama antar orangtua-anak menjadi semakin berkurang. Orangtua-anak mungkin nonton bareng berdekatan setiap hari, tapi pada dasarnya mereka tidak hadir secara jiwa bersama-sama. Mereka terkonsentrasi untuk menyelami isi televisi dan tidak menyelami perasaan-perasaan anggota keluarga sendiri.

Alasan ketinggalan informasi juga dapat dinafikan dalam keluarga-keluarga yang sudah dipersiapkan dengan ketiadaan televisi ini. Bagi mereka, membaca koran setiap hari pun tidak akan pernah habis. Ribuan bahkan jutaan informasi bisa hadir setiap hari, tapi tak semua informasi selalu berguna untuk dikonsumsi. Saya lihat jika untuk sekadar kebutuhan informasi, setidak-tidaknya TVRI dan Metro TV menghadirkan acara-acara yang sangat aman untuk keluarga. Tapi pertanyaannya, yakinkah kita betah berlama-lama di dengan televisi itu berjam-jam dan tak tergoda untuk memindahkannya pada chanel lain?

Bagaimana mendapat hiburan untuk anak jika tidak ada televisi di rumah? Seorang ayah berkata bahwa bercanda dan bermain dengan seorang anak saat di rumah adalah hiburan yang tak pernah membosankan dan menguntungkan semua pihak: anak dan orangtua sendiri. Anak terstimulasi dan orangtua pun mendapat senyuman dan ketawa sana-sini. Refreshing bukan? Subhanallah, saya tersentuh dengan ikhtiar ini.

Sementara, yang lain kemudian menghadirkan sarana hiburan digital lainnya bernama vcd player atau komputer khusus anak di rumah. Ini juga upaya yang patut diapresiasi. Meski sama-sama produk elektronik dan seperti tidak ada bedanya, sebenarnya keduanya jauh berbeda dari segi pengendalian. Semua orangtua dapat mengontrol isi komputer/VCD Player tapi hampir semua orangtua pada saat yang bersamaan tidak dapat mengontrol isi televisi. Bahkan, pada acara untuk anak sekalipun yang judulnya kadang-kadang diselipkan kata 'pendidikan' iklannya justru jauh dari kesan mendidik anak-anak itu sendiri.

Sekali lagi, meniadakan televisi dapat menjadi alternatif lebih baik daripada membebaskan anak-anak sebebas-bebasnya tanpa batasan nonton televisi. Program meniadakan televisi di rumah ini akan berlangsung efektif jika orangtua dapat 'proaktif' mengelola kegiatan-kegiatan alternatif di rumah dan mempersiapkan mental jauh hari seluruh anggota keluarga di rumah.

Jika Anda menganggap meniadakan televisi sebagai hal yang mustahil alias uthopia, meski saya tidak menganggapnya demikian, maka alternatif lain selain meniadakan televisi adalah menghadirkan televisi dengan PENGENDALIAN. Metode pengendalian dapat ditempuh dengan beberapa tahapan dan upaya. Insya Allah jika upaya ini dilakukan dengan penuh kesungguhan dan konsistensi insya Allah anak-anak Anda bisa tak menyukai televisi dan bukan hanya sekadar dipaksa jauh dari televisi.

Pertama, BUAT ANAK SUKA MEMBACA. Ada banyak bukti anak yang suka membaca ternyata tidak menyukai televisi. Jika pun ada yang suka membaca dan suka nonton televisi, sebenarnya jika diamati lebih mendalam, kesukaan membacanya sekadar kesukaan insidental yang tak begitu mengakar. Anak-anak yang hanya membaca buku sepekan sekali jelas tidaklah dapat disebut anak yang suka membaca karena ketika seorang anak suka membaca maka sungguh anak ini akan 'tak betah' jika ia 3 hari saja tidak membaca buku.

Membuat anak suka membaca insya Allah pekerjaan tak terlalu sulit. Tak perlu kursus dan tak perlu jadi orangtua hebat untuk membuat anak suka membaca. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan, kemauan untuk menyediakan waktu 15 menit sebelum tidur dari 24 jam hidup kita untuk anak. Lakukan 15 menit ritual sebelum tidur yang berharga, untuk menginstallkan program-program positif ke dalam otak anak. Bacakan buku ini sejak ia bayi, buku dengan gambar penuh warna yang akan merangsang jutaan sel syarafnya bekerja. Sebelum tidurnya, setidaknya ketiga anak saya, saat mulai usia 1,5 tahun mereka sudah membawa buku ke kasurnya sebelum tidur untuk dibacakan cerita. "Bah... citaaaaa. Abah... cita ni.....".

Kedua, buatlah JAM BOLEH NONTON TELEVISI. Ingat, jangan pernah membaliknya dengan strategi JAM TAK BOLEH NONTON TELEVISI. Sebagian orangtua terjebak karena ingin membatasi anak dengan televisi caranya adalah membuat jam tak boleh nonton televisi, biasanya antara maghrib dan isya.Jika seperti ini caranya maka anak kita akan beranggapan hanya maghrib sampai isya yang tak boleh nonton televisi maka yang lainnya bebas nonton televisi.

Madonna yang 'seksi' itu ternyata juga membatasi anaknya dari televisi. Apatah lagi seharusnya sebagian kita yang 'mengerti' dan mengagungkan budi pekerti. Mengapa Madonna yang selebriti dunia saja membatasi anaknya dari televisi? Tiada lain dan tiada bukan pasti alasannya karena kesadaran akan dampak negatif yang dahsyat dari televisi.

Berapa lama waktu JAM BOLEH nonton televisi? Terserah Anda, bergantung kajian dan kesepakatan Anda dengan anak. Anak juga dapat mengajukan 'proposal' pada orangtua disertai dengan argumen-argumennya. 'Proposal' yang berisi jam berapa saja ia ingin nonton dan apakah tayangannya aman untuk mereka?

Jika Anda menanyakannya pada saya, saya akan menjawabnya maksimal 2 jam. Maksimal loh ya, bukan minimal. Syukur-syukur bisa 1 jam. Dengan 2 jam setidak-tidaknya anak dapat menonton 2 jenis tayangan televisi yang mereka sukai. Boleh berturut-turut, misalnya 2 jam di sore setelah pulang bermain dari pulang sekolah atau terputus 1 jam setelah pulang lelah bersekolah dan 1 jam di sore hari. Anda dapat memutuskan terputus sejam 2x atau 2 jam sekaligus setelah Anda yakin betul dengan tayangan-tayangan televisi di jam-jam yang ia pilih. Tapi sejujurnya, saya merekomendasikan Anda: JANGAN PERNAH DURASI MENONTON TV ANAK anda melebihi DURASI Anda BERSAMA Anak. Bersama anak loh ya, bukan hanya sekadar di dekat anak.

Jika anak menawar, merajuk, merengek dan menangis saat televisi harus dimatikan karena sudah 2 jam, maka ISTIQOMAHLAH. Pegang teguhlah. Jangan pernah tergoda dengan godaan tangisan anak sehingga anda melanggar aturan anda sendiri. Ini bisa berbahaya, anak akhirnya dapat menganggap orangtuanya hanya bicara pepesan kosong dan tidak dipercaya. Membuat aturan tapi buktinya bisa diruntuhkan.

Ketiga, SIMPAN TELEVISI DI TEMPAT YANG TAK NYAMAN. Bagaimana tak betah berlama-lama di depan televisi jika televisinya saja sudah mahal. Suaranya menggelegar pula. Tempat duduknya? Wahh sofa empuk modern minimalis yang nyaman di mata. Lengkap dengan sajian snack pula!

Coba kita balik dengan alternatif-alternatif ini: simpan televisi di komputer dengan memakai tv tuner atau simpan televisi di bawah tangga atau simpan di dekat kompor atau simpan di dekat meja yang sempit. Ihhh seperti bercanda. Tapi ini dijamin tokcer! Insya Allah anak Anda takkan betah berlama-lama.

Keempat, BANTU ANAK MEMBUAT KEGIATAN MANDIRI SAAT ANDA TENGAH SIBUK. Sebagian orangtua mengalami kesulitan saat menjalani kesibukan di rumah dengan urusan rumah tangga dan sekaligus ngurus anak. Akhirnya, televisi lagi-lagi menjadi jalan untuk mengalihkan perhatian anak agar tidak menganggu kegiatan orangtua dengan urusan lainnya (masak, nyuci, beres-beres) di rumah. Daripada anak rewel dan menganggu ya simpan di depan tv lagi akhirnya.

Untuk sebagian besar anak, bahkan orang dewasa sekalipun, tidak melakukan kegiatan sama sekali dan hanya menunggu orangtuanya, tentu saja adalah hal yang membosankan. Maka kerewelan menjadi hal yang tak terhindarkan. Bagi anak-anak di atas usia 7 tahun, mereka dapat saja secara mandiri mencari kegiatannya sendiri, tapi sebagian agak kesulitan untuk anak-anak di bawah 7 tahun. Karena itu membantu anak untuk membuat kegiatan mandiri menjadi salah satu solusi.

Insya Allah orangtua dapat membantu menciptakan 1001 jenis kegiatan mandiri untuk anak selain menyimpan anak di depan televisi. Saya hanya meyebutkan beberapa diantaranya dan saya yakin Anda dapat menemukan ribuan lainnya: 1. Mewarnai mainan anak 2. Menggambar/membuat tato di kaki... 3. Menggunting daun 4. Menempel-nempel 5. Main beras/pasir 6. Menyusun bangunan dari buku2/casing cd/kaset 7.menggulung2 kertas 8.Same Action (program aksi mirip: ibu memasak beneran, anak masak mainan, ibu nyuci piring benaran, anak nyuci piring mainan). 9. Menyimpan 20 barang tersembunyi dan anak mencarinya, jika ketemu ibu kasih hadiah special 10.water game (pake mangkok, sendok, sedotan) dan buaaaaaaaaaanyaaaaaaak deh lainnya!

Kelima, SEDIAKAN WAKTU BERSAMA ANAK. Ketika bersama anak, maka anda tidak hanya berada di dekat anak. Tak sedikit orangtua merasa 'aman' karena telah menyediakan waktu di dekat anak dengan menjadi ibu rumah tangga misalnya. Maaf, jangan salah kaprah saya selalu mengatakan kepada ribuan orangtua yang mengikuti program saya: jangan bangga dulu Anda memilih jadi ibu rumah tangga seolah menyediakan waktu 24 jam tapi tidak satu jam pun ternyata bersama anak.

Bersama anak itu artinya anda tidak bertiga dengan koran, tidak berempat dengan televisi, tidak berlima dengan masakan dan tidak bertujuh dengan cucian. Saat bersama anak, Anda benar-benar hadir bersama anak, bicara dengan anak dan bukan sekadar bicara pada anak. Kadang menjadi 'peserta', kadang menjadi 'panitia' dari acara yang Anda selenggarakan bersama anak di rumah. Kadang tertawa bersama, sesekali boleh menangis mengenang cerita.

Karena hanya di dekat anak, lebih banyak orangtua yang sering BICARA KEPADA ANAK daripada BICARA DENGAN ANAK dan sebagian orangtua akhirnya ketika megasuh anak mengalami kelelahan mental yang luar biasa: CAPEK DEH..... karena itu tak sedikit ibu rumah tangga yang seperti terlihat kelelahan dan stress jadi ibu rumah tangga. Bukankah anak itu anugerah? Bukankah Anda yang memilih berinteraksi lebih sering dengan sumber anugerah maka anda seharusnya salah satu orang yang paling bahagia?

Menjadi orangtua terbaik bukan berarti kita harus menyediakan waktu 24 jam hidup kita hanya untuk urusan anak. Insya Allah anak-anak kita pun ketika mereka semakin tumbuh menjadi remaja, menjadi dewasa dan seterusnya tak butuh waktu kita selama-lamanya. Mereka pun butuh waktu dengan teman-temannya, seperti kita juga berhak melakukan kegiatan-kegiatan sendiri tanpa anak. Anda hanya diminta menyediakan waktu bersama anak. Jika Anda menyediakannya, maka sungguh saat anak mendekati, orangtua akan merasakan kesejukan, ketenangan, keriangan di lubuk hatinya dan anak benar-benar menjadi cahaya mata (qurrotu'aini) dan bukan penganggu orangtua.

Bagi saya, satu jam sehari bagi para ayah dan ibu yang bekerja atau 2-4 jam sehari bagi yang ibu bekerja sudah cukup. Inilah yang hilang dari sebagian anak jaman kita hari ini. Tak sedikit anak menjadi 'yatim piatu' di saat orangtuanya sebenarnya masih lengkap. Mereka bertemu setiap hari dengan orangtua, tapi sebagian hanya bertemu 'say hallo' semata. Sebagaian orangtua bertemu dengan anak-anaknya bahkan bersama di depan televisi. Sebagian mereka menangis. Ya, menagis, tetapi bukan menangis karena menyelami isi hati anak-anaknya sendiri, tapi menangis karena isi acara televisi. (*)

Kamis, 09 Juni 2011

sungguh semua anak mau belajar

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
email. inspirasipspa@yahoo.com

Asal metodenya tepat, ketahuilah semua anak mau belajar. Sebagian orangtua mengatakan anaknya begitu malas sekali untuk membuka buku pelajaran. Harus disuruh-suruh terus mengerjakan PR jika ada PR. Seperti cerita berikut ini:

"Assalamu'alaikum. Abah saya mau tanya, putra saya yg pertama sekarang sudah kelas 3, tapi sejak beberapa bulan ini kadang-kadang mulai agak malas untuk belajar, harus diingatkan dulu kecuali kalau ada PR. Apa saya yang salah mendidiknya? Menurut Abah bagamana caranya supaya anak mau belajar tanpa disuruh?  Terima kasih Abah."

Anak yang malas ngerjain PR belum tentu malas belajar. PR itu sendiri sebenarnya tidak tepat diberikan anak-anak kelas 1-3 karena konsep berpikir mereka yang masih ekploratif bukan akademik. Fase kelas 1-3  fase transisi. Coba tanya pada diri kita sendiri, apakah waktu kita sekolah dulu menyukai PR? berapa banyak dari kita yang senang jika dikasi PR? Senang loh ya bukan rajin mengerjakan PR? Adakah diantara kita yang mengharapkan dikasi PR?  Adakah diantara kita yang hobby mengerjakan PR.

Sebagian kita memang ada yang dari kecil rajin mengerjakan PR. Tapi rajin mengerjakan PR bukan berarti kita begitu menyenanginya bukan?

Karena itu mari paradigmanya kita rubah. Semua anak mau belajar asal diberikan metode yang tepat. UNDANG ANAK BELAJAR, bukan SURUH ANAK BELAJAR!

Tidak bisa dipungkiri, ada anak istimewa yang mau belajar sendiri meski tak disuruh. Tetapi meski mereka mau belajar sendiri tanpa diminta orangtuanya sekalipun, yang ideal semua anak SD saat belajar itu sebenarnya ditemani, dibimbing, bukan disuruh-suruh. Inilah fungsi kita sebagai orangtua. Mencari nafkah bagi abah adalah kewajiban. Tapi mencari nafkah tidak menggugurkan kewajiban abah yang lain ketika punya anak: mendidik anak!

Karena itu meski mungkin kadang lelah setelah seharian bekerja. Menyempatkan waktu untuk menemani dan membimbing anak belajar juga tak boleh dilepaskan.

Sebenarnya anak-anak itu secara alamiah senang belajar. Dan jika metodenya tepat, bahkan yang bergembira dengan belajar, bukan hanya anak, tapi abah yang menemaninya pun mendapatkan banyak kegembiraan.

Misalnya, saat hari ini anak abah yang kelas 2 SD (salma) belajar tentang AIR (sains). Worksheet (buku pelajaran anak) anak abah bisa jadi bahan seru untuk belajar.

Abah mulai dari bercerita tentang air. Kita boleh namakan air itu dengan sebutan Ara, Aira, Al-Water. Sebut saja, "ada setetes air bernama al-water."

"Ia kadang diam, kadang bergerak! Saat di danau dan kolam, al-water senangnya diam. Tapi saat di sungai al water senangnnya bergerak."

"Awal water klo bergerak senangnya itu bergerak (mengalir) dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah!"

"Menurut kamu, bisakah al water bergerak dari tempat yang rendah ke tinggi?"

Dan seterusnya, bahkan saat semalam belajar ini, subuh tadi salma meminta lagi untuk belajar. Ia benar-benar ketagihan belajar! karena ini membuatnya PENASARAN! membuatnya ingin tahu lebih banyak!

Apalagi ketika abah memperlihatkan percobaan dengan gelas tentang sifat-sifat air, memperlihatkan bola dunia yang ternyata bagian air jauh lebih banyak darpada bagian daratan dst.

JAdi, tak ada lagi istilah anak tidak senang belajar! Apalagi divonis malas belajar! yang ada adalah orangtua ynag hanya nyuruh-nyuruh belajar! Tapi tidak mendampingi belajar!

Tak ada lagi anak yang ogah-ogahan belajar, yang ada adalah kita yang menggunakan metode belajar 'akademik' yang sesuai dengan otak dewasa , dipaksakan dengan otak anak-anak.

Apakah harus ditemani terus belajar?! Tidak! Tapi fase SD adalah fase untuk anak pengenalan belajar akdemik. Fase ini adalah fase dimana anak dilatih untuk menyukai belajar akdemik. Insya Allah pada waktunya nanti (mulai SMP) anak-anak karena sudah terlatih tidak usah lagi ditemani pun sudah terlatih bagaimana menggali bahan ajar sehingga menarik minat dia terus bereksplorasi.

Selasa, 28 Desember 2010

Masalah Umum Anak di prasekolah

Selama masa awal sekolah, anak menghadapi lingkungan sosial baru dan sejumlah tantangan sosial yang berbeda dengan yang ia alami sebelum itu. Di rumah biasanya ia berada dalam suasana yang mengandaikan bahwa ia pasti dianggap sebagai anggota dan diterima oleh kelompok tersebut. Ini memberinya rasa aman yang wajar. Di rumah tentu saja ia masih harus menyesuaikan diri dengan orang tua, kakak serta adiknya. Tetapi keadaan di rumah lain dengan tantangan dan interaksi yang dihadapinya sewaktu berhubungan dengan 25 atau 30 teman kelas. Karena kondisi baru ini, perbedaan yang berkaitan dengan jenis kelamin dan umur akan diperjelas dan beberapa masalah akan timbul dalam kehidupan anak.

Perbedaan di kalangan anak yang mulai sekolah

Perbedaan jenis kelamin

Pada waktu mulai bersekolah anak perempuan tampak lebih matang daripada anak lelaki – dan memang demikianlah adanya karena selama masa ini mereka lebih cepat matang. Secara jasmaniah dan emosional anak perempuan lebih cepat mapan dan lebih siap mengerjakan tugas-tugas simbolik dan abstrak.

Sinta dapat menulis namanya dengan huruf cetak secara benar ketika masuk taman kanak-kanak. Azis yang mungkin sebaya hanya mengenal huruf pertama namanya. Ini tak berarti bahwa Sinta lebih cerdas daripada Azis. Ini semata-mata berarti bahwa seseorang menyempatkan diri untuk mengajar Sinta dan bahwa Sinta mungkin ingin sekali belajar. Sebaliknya, Azis mungkin mengetahui banyak hal lain. Teman-teman yang sekelas yang dapat menulis namanya dan guru yang suka membantu dapat mendorongnya belajar. Ia pun akan terdorong untuk berbagi pengetahuan dengan anak lain.

Anak lelaki memang mempunyai rasa ingin tahu intelektual yang besar, namun mereka sering kali lebih memusatkannya pada bidang jasmani, biologi dan mekanika. Mereka senang membongkar barang – seperti misalnya lampu senter, jam atau radio tua – untuk mengetahui bagian dalam serta cara kerjanya. Mereka menemukan dan menyelidiki apa saja dengan cara merombak. Besar kemungkinannya bahwa mereka akan berjalan dengan kaki basah di dapur dan bertanya, “Ke mana air mengalir setelah masuk pipa saluran?”

Ini tidak berarti bahwa anak perempuan setelahnya tidak menunjukkan minat semacam itu. Banyak yang demikian. Dan banyak pula anak perempuan yang menjadi ilmuwati.


Perbedaan umur

Betapa pun cerdasnya seorang anak, akan berbeda sekali bila umurnya kurang dari lima atau hampir enam tahun ketika masuk taman kanak-kanak. Anak yang lebih muda kurang matang dan kurang berpengalaman jika dibandingkan dengan teman kelasnya. Maka sering kali keadaannya kurang menguntungkan pada hari pertama masuk sekolah.

Sebagai misal, tanggal 1 Juli adalah tanggal terakhir penerimaan murid di sebuah sekolah. Ini berarti bahwa anak yang berumur lima tahun pada tanggal 2 Juli tahun lalu duduk di kelas yang sama dengan anak  yang berumur lima tahun pada tanggal 1 Juli tahun itu. Anak yang masuk taman kanak-kanak pada umur 69 bulan jelas lebih beruntung daripada temannya yang berumur 57 bulan. Anak yang besar lebih selaras, lebih mampu menguasai dorongan hati dan lebih mampu memusatkan perhatian pada tugas belajar. Jika anak yang muda itu lelaki, ia mungkin jauh lebih sulit bersaing dengan teman-temannya di kelas.

Bagaimanapun kemampuan intelektualnya, banyak anak taman kanak-kanak tidak dapat menjembatani kesenjangan kematangan umur mereka dengan teman-teman satu kelas yang lebih tua dan lebih matang. Mereka pun tak dapat menyesuaikan diri dengan jadwal belajar yang berlaku di kebanyakan sekolah. Meskipun guru dapat membantu anak yang paling muda dan paling belum matang, bantuan itu mungkin hanya bersifat sementara. Ujian sebenarnya ditemukan di kelas satu ketika kebanyakan sekolah menuntut anak belajar membaca. Seorang anak lelaki dengan sedih berkata, “Perutku selalu sakit sebelum ke sekolah. Tetapi aku berangkat juga. Perutku tambah sakit karena aku tak dapat mengikuti pelajaran. Dan semua orang tahu kalau aku tak dapat mengikutinya. Sungguh tidak menyenangkan.”

Guru sering kali sudah dapat menduga masalah ini. Ia meminta agar anak itu mengulang di taman kanak-kanak atau kelas lain supaya dapat “mengejar” teman-temannya yang lebih tua. Sayangnya, banyak orang tua yang sepakat dengan saran guru tersebut tetap juga menuntut agar anaknya dinaikkan kelas. (Minne P. Berson, Ed D.| Yuk-Jadi Orangtua Shalih)

Sabtu, 25 Desember 2010

Mengenali Gaya Belajar Anak Anda

MENGENALI GAYA BELAJAR ANAK
Oleh Ike Sugianto, Psi.(Psikolog anak) : 
6 Kunci sukses Orang Tua dlm mendidik anak :
1. Memahami gaya belajar anak
2. Memahami tahap perkembngn anak
3. Melejitkan potensi kecerdasan anak
4. Kenyamanan & Kegembiraan anak
5. Keteladanan bg anak
6. kekuatan doa bagi anak
Bahasan ini berbicara bagaimana memahami Gaya belajar anak kita.Sudahkah Anda mengenali gaya belajar anak di rumah? Siapa tahu selama ini kita salah menuduhnya malas belajar. Meski bersekolah di sekolah yang sama dan duduk di kelas yang sama, gaya belajar setiap anak ternyata tidak pernah sama. Perbedaan itu bahkan ada pada anak-anak dari satu keluarga, seperti beda dengan kakak, adik atau saudara kembar sekalipun.
Contohnya saat mengikuti pelajaran di kelas, menurut pakar psikologi, ada murid yang begitu tekun menyimak meski si guru menyampaikan materi pelajaran tak ubahnya seperti ceramah selama berjam-jam. Ada yang terkesan hanya memperhatikan sepintas lalu, meski sebetulnya mereka membuat catatan-catatan kecil di bukunya. Namun jangan ditanya berapa banyak anak yang merasa bosan dengan pendekatan belajar yang menempatkan murid sebagai pendengar setia.
Secara keseluruhan, ada anak yang lebih mudah menangkap isi pelajaran jika disertai praktek. Siswa seperti ini lebih suka berkutat di laboratorium mengamati dan mempelajari berbagai hal nyata ketimbang mendengar penjelasan si guru. Sedangkan temannya yang lain mungkin lebih tertarik mengikuti pelajaran yang disertai berbagai aspek gerak. Contohnya, guru yang menerangkan materi pelajaran kesenian sambil sesekali diselingi nyanyian dan tepuk tangan.
Tidak hanya itu. Ada anak yang harus bersemedi dan tutup pintu kamar rapat-rapat supaya bisa konsentrasi belajar. Akan tetapi cukup banyak yang mengaku justru terbuka pikirannya bila belajar sambil mendengarkan musik, entah yang mengalun merdu atau malah ingar-bingar. Sementara sebagian lainnya merasa perlu untuk mengubah materi pelajaran menjadi komik atau corat-coret yang gampang “dibaca”.
KONTRIBUSI ORANG TUA 
Apa pun gaya belajar yang dipilih pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu agar yang bersangkutan bisa menangkap materi pelajaran dengan sebaik-baiknya dan memberi hasil optimal. Bukankah masing-masing pelajaran juga disampaikan oleh orang yang berbeda dengan karakter mengajar yang berbeda pula.
Itulah mengapa, perlu menggarisbawahi agar setiap orang tua turun tangan mengamati gaya belajar masing-masing anak. Dengan memahami hal itu, sebetulnya orang tua sudah memberi kontribusi besar dalam keberhasilan belajar anaknya karena si anak jadi mudah menangkap materi pelajaran.
Buktinya, ketidakpahaman orang tua dan guru terhadap gaya belajar anak kerap menimbulkan kesalahpahaman. Ada guru yang tidak senang melihat muridnya asyik bikin coretan-coretan selagi di kelas. Atau ada juga guru yang langsung menegur anak yang terlihat tak bisa diam saat sedang diajar.
Padahal, perilaku corat-coret saat belajar tak mesti berarti ia enggan belajar. Bisa jadi, ia justru tengah berusaha menangkap materi pelajaran lewat corat-coretnya tadi. Tidak sedikit anak yang cepat ngerti kalau materi pelajarannya disampaikan lewat gambar atau ilustrasi.
Demikian pula dengan anak-anak yang terlihat aktif bergerak ke sana kemari selama di kelas. Anak seperti ini boleh jadi merupakan tipe aktif yang selalu kelebihan energi. Ia menyukai aktivitas fisik dan mudah bosan pada omongan/penjelasan panjang lebar.
MASUK TIPE YANG MANA ANAK ANDA?  
Ada 3 tipe gaya belajar yang biasa dijumpai:
1.     Visual Learner  
Gaya belajar visual (visual learner) menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar si anak paham.
Ciri-ciri anak yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum ia memahaminya.
Konkretnya, yang bersangkutan lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar. Selain itu, ia memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, disamping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. Hanya saja biasanya ia memiliki kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif terhadap suara, sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah menginterpretasikan kata atau ucapan.
Untuk mendukung gaya belajar ini, ada bbbrp pendekatan yang bisa dipakai yaitu caranya gunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi/materi pelajaran. Perangkat grafis tersebut bisa berupa film, slide, ilustrasi, coretan atau kartu-kartu gambar berseri yang dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan.
2.     Auditory Learner  
Gaya belajar ini mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya. Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah mendengarnya lebih dulu. Mereka yang memiliki gaya belajar ini umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk tulisan, selain memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Untuk membantu anak-anak seperti ini, orang tua bisa membekali anaknya dengan tape untuk merekam semua materi pelajaran yang diajarkan di sekolah. Selain itu, keterlibatan anak dalam diskusi juga sangat cocok untuk anak seperti ini. Bantuan lain yang bisa diberikan adalah mencoba membacakan informasi, kemudian meringkasnya dalam bentuk lisan dan direkam untuk selanjutnya diperdengarkan dan dipahami. Langkah terakhir adalah melakukan review secara verbal dengan teman atau pengajar.
3.     Kinesthetic/Tactile Learner  
Gaya belajar ini mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya.
Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.
Karakter berikutnya dicontohkan sebagai orang yang tak tahan duduk manis berlama-lama mendengarkan penyampaian pelajaran. Tak heran kalau individu yang memiliki gaya belajar ini merasa bisa belajar lebih baik kalau prosesnya disertai kegiatan fisik.
Kelebihannya, mereka memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim disamping kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability). Tak jarang, orang yang cenderung memiliki karakter ini lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk kemudian belajar mengucapkannya atau memahami fakta.
Nah, mereka yang memiliki karakteristik-karakteristik di atas dianjurkan untuk belajar melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model peraga, semisal bekerja di lab atau belajar yang membolehkannya bermain. Cara sederhana yang juga bisa ditempuh adalah secara berkala mengalokasikan waktu untuk sejenak beristirahat di tengah waktu belajarnya.
Hanya saja dalam kenyataannya, pengelompokan ketiga gaya belajar ini tidaklah sederhana. Terbukti, pada beberapa anak ditemukan kombinasi antara satu gaya belajar dengan gaya belajar lainnya. Contohnya adalah anak-anak yang gemar membuat gambar/ilustrasi selagi belajar, tapi juga sibuk merekam pelajaran gurunya. Kendati begitu, “Pasti ada gaya belajar yang dominan dan subdominan. Untuk mengetahui mana yang dominan dan mana yang subdominan, harus dilakukan observasi menyeluruh.”
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH  
Kapan gaya belajar ini mulai dimiliki anak? “Sebenarnya, gaya belajar anak dipengaruhi oleh faktor bawaan atau sudah dari sananya.” Ada anak-anak yang memang memiliki fisik kuat dan prima sehingga cenderung memiliki gaya belajar kinestetik. Atau ada juga anak yang memiliki rasa seni tinggi sehingga gaya belajar visual lebih melekat dalam dirinya.
Jika salah satu indra kurang berfungsi secara maksimal, maka umumnya indra lain akan menggantikannya. Jika penglihatan seorang anak kurang berfungsi, maka indra pendengarannya lebih menonjol sehingga ia lebih peka terhadap suara atau bunyi-bunyian. Contohnya, para penyandang tunanetra biasanya memiliki indra pendengaran yang sangat tajam.
Selain itu, pola asuh juga memegang peran penting dalam kemunculan gaya belajar seseorang. Maksudnya, gaya belajar ditentukan oleh sejauh mana orang tua melakukan stimulasi terhadap masing-masing indra anaknya. Anak yang sejak kecil terbiasa dibacakan dongeng, boleh jadi akan terbiasa untuk mengasah kemampuan pendengarannya. Ia juga bisa cepat mencerna ucapan sang pendongeng. Akibatnya, anak akan cenderung menjadi seorang auditory learner dalam gaya belajarnya. Sementara anak seorang pelukis yang mayoritas waktunya lebih tercurah untuk mengamati detail-detail gambar orang tuanya biasanya akan menjadi seseorang dengan tipe belajar visual. Nah, bagaimana dengan anak Anda?

KENALI CIRI-CIRINYA 
Ciri-ciri dari masing-masing gaya belajar.
  • Auditory Learner, Cirinya :  
   -  Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok  atau kelas.
   -  Mengenal banyak sekali lagu atau iklan TV, bahkan dapat menirukannya secara tepat dan komplet.
   -  Cenderung banyak omong.
   -  Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.
  -  Kurang cakap dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.
-    Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, seperti hadirnya anak baru, adanya papan    pengumuman di pojok kelas dan sebagainya.
  • Visual Learner, Cirinya : 
 -  Senantiasa berusaha melihat bibir guru yang sedang mengajar.
 -  Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya anak akan
 -  Melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak.
 -  Cenderung menggunakan gerakan tubuh (untuk mengekspresikan dan menggantikan kata-kata) saat mengungkapkan  sesuatu.
 -  Tak suka bicara di depan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain.
 -  Biasanya kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
 -  Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan.
 -  Biasanya dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa merasa terganggu.
  • Kinesthetic/Tactile Learner, Cirinya :
  -  Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya.
  -  Amat sulit untuk berdiam diri/duduk manis.
  -  Suka mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya  sedemikian aktif
  -  Memiliki koordinasi tubuh yang baik.
  -  Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar.
  -  Mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika, peta, dan sebagainya) dirasa amat sulit oleh anak dengan gaya belajar ini.
 -  Cenderung terlihat “agak tertinggal” dibanding teman sebayanya. Padahal hal ini disebabkan oleh tidak cocoknya gaya  belajar anak dengan metode pengajaran yang selama ini lazim diterapkan di sekolah-sekolah.


Ibu Penjaga Moral Bangsa

"Bunda adalah yang terhebat di dunia
sebab ia melahirkan kehidupan
dan memberi nyawa pada kata cinta."

Abdurahman Faiz (Nadya: Kisah dari Negeri yang Menggigil)

Ibu, dengan segala makna di dalamnya. Ia tidak sekadar menjadi istri dari seorang suami. Tetapi ibu merupakan cahaya bagi sebuah keluarga. Penerang jalan bagi anak-anaknya dan mitra kerja yang mendukung sang suami. Ibu, takkan pernah bisa diungkap dengan satu kata. Bahkan beribu kata juga tidak akan mampu mengungkap peran dan jasanya.

Penjaga Moral Anak

Lembaga sosial yang bernama keluarga, tentunya ditopang oleh unsur yang berperan sebagai seorang ayah dan seorang Ibu. Keluarga tidak akan menjadi kokoh dan kuat manakala salah satu unsurnya timpang. Tumbuh kembang sebuah keluarga yang sehat, baik secara jasmani dan rohani mestilah melibatkan semua unsur. Salah satu unsur yang sangat berperan adalah unsur yang bernama ibu.

Ibu, berkontribusi pada penciptaan atmosfer yang kondusif. Hilangnya peran seorang ibu tentunya berpengaruh pada atmosfer kedamaian sebuah keluarga. Sosok ibu mewarnai kebahagiaan. Atmosfer yang kondusif juga sangat menentukan optimalisasi perkembangan pribadi, moral, kemampuan bersosialisasi, penyesuaian diri, kecerdasan, kreativitas juga peningkatan kapasitas diri seorang anak. Tanpa ibu mustahil ada kesuksesan bagi seorang anak manusia.

Penat dan lelah hilang seketika manakala mendengar coletahan sang anak. Tak ada lagi letih ketika melihat senyum sang buah hati. Dengan ikatan emosional yang sangat erat, keberadaan seorang ibu tidak dapat dipisahkan dari seorang anak. Itulah mengapa juga, ibu mempunyai peranan yang sangat besar dalam pembentukan fisik dan jiwa seorang anak.

Menurut sebuah studi mengenai cara pengasuhan orangtua terutama ibu ternyata berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan fisik dan mental anak. Terbukti dari penelitian terbaru yang dilakukan oleh Professor Ali Khomsan Guru Besar IPB menyimpulkan, semakin baik pola pengasuhan ibu, semakin baik pula kualitas tumbuh kembang si kecil.

Studi yang berlangsung selama 2009-2010 di sembilan provinsi dengan 2.334 responden. Dari sini diketahui, pengasuhan mayoritas anak di Indonesia dilakukan ibu. Hasilnya, dari 80 persen anak yang diasuh baik, 78 persen di antaranya berada dalam status gizi normal atau sehat (vivanews 15/12/10).

Lihatlah, kualitas tumbuh kembang seorang anak berada dalam genggaman seorang ibu. Di tengah gempuran teknologi dan informasi, ibu menjadi benteng yang bisa memfilter. Walau memang tidak sepenuhnya terbentengi, tetapi ibu (dan ayah)tentunya bisa melindungi anak dari hal-hal negatif. Membuat pagar tinggi dan mengurung sang anak tidak akan menyelamatkan anak dari hempasan gelombang teknologi. Tetapi dengan kenyamanan dari seorang ibu, arahan bijak, kepercayaan dan perlindungan akan membuat sang anak lepas dari badai negatif teknologi.

Tugas seorang ibu adalah menanamkan agama yang kuat bagi anaknya. Tanpa itu, akhlak dan moral seorang anak akan tercerai berai. Mengikat anak dengan keimanan kepada pencipta-Nya memberikan modal yang besar bagi anak menghadapi hidup. Perang pemikiran yang berkembang saat ini, sangat membuka peluang terjerembabnya akhlak dan moral seorang anak. Sang Ibu memastikan sang anak mampu mengarungi hidup dengan penuh kekuatan. Memastikan hak-hak anak tidak terabaikan, itulah fungsi ibu.

Pada usia emas, seorang anak sangat dekat dengan ibunya. Ibulah yang hampir 24 jam bersamanya. Tentunya keberadaan seorang ibu akan mewarnai sosok anak seperti apa. Jika ibunya baik dalam mendidik, membekali sang anak dengan berbagai 'senjata' akhlak dan moral tentunya anak dapat melangkah dengan penuh kepastian.

Peran Peningkatan Generasi


Anak merupakan anugerah yang diberikan Allah Yang Maha Pencipta yang menjadi amanah bagi sebuah keluarga. Tidak hanya amanah yang dititipkan kepada keluarga an sich tetapi juga kepada bangsa ini. Titipan Tuhan ini tentunya harus dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, anak harus di didik, diperlakukan dengan baik, dihargai dan dicintai sepenuh jiwa.

Keberadaan seorang anak adalah sebagai penerus peradaban dan eksistensi kemanusiaan. Yang terbaik bagi anak (best interest of the child), dalam semua tindakan yang menyangkut anak. Kepentingan terbaik bagi anak menjadi pertimbangan bagi seorang ibu. Memberikan yang terbaik merupakan keberlanjutan bagi hidup sang anak.

Pada kenyataannya, ada banyak persoalan yang melingkari masa depan generasi penerus ini. Salah satunya mengenai pelanggaran hak anak. Persoalan pelanggaran hak anak di negara ini ibarat gunung es. Tampak di permukaan hanyalah sedikit dari fakta yang sebenarnya terjadi. Komnas perlindungan anak dalam catatan akhir tahun 2009 menyebutkan bahwa kasus pelanggaran hak anak yang dilaporkan tidak saja naik secara kuantitas melainkan semakin kompleks jenis dan modus pelanggarannya. Apalagi komitmen negara belum nyata, walau sudah ada UU No 23 tahun 2002 yang menegaskan bahwa hak anak adalah bagian dari asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orangtua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara. Pada kenyataannya belum efektif.

Berbagai masalah penyelenggaraan perlindungan anak kita temui. Dari soal eksploitasi anak dibidang kerja, dimana hasil survey Pekerja Anak di Indonesia yang dilakukan BPS (Badan Pusat Statistik) bekerjasama dengan ILO (International Labour Organization) menunjukan jumlah pekerja anak mencapai 1,7 juta anak. Anak mestinya bermain tetapi dipaksa bekerja layaknya orang dewasa. Belum lagi anak yang menjadi korban pornografi dan tayangan media yang tidak proanak, begitu banyak. Persoalan pemenuhan hak  pendidikan, yang masih menyisakan pekerjaan rumah, masalah pemenuhan kesehatan yang terkait dengan gizi buruk dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, peran keluarga yang dikomandani oleh seorang ibu dan ayahlah salah satu solusi. Tidak bisa sepenuhnya bergantung pada pemerintah. Perlu ada sinergisitas berbagai pihak. Entah itu pemerintah yang direpresentasikan oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Lembaga Swadaya Masyarakat atau Komnas Perempuan.

Memang tidak mudah tapi pasti bisa. Mengingat persoalan ibu/ perempuan dan anak seperti benang kusut. Kesungguhan pemerintah dan masyarakat dari berbagai elemen menjadi ujung tombak keberhasilan program yang menyelesaikan masalah. Momen hari Ibu bisa menjadi refleksi sampai sejauhmana peran seorang ibu dalam memberikan 'nafas' bagi kehidupan sang anak. Nafas yang bisa memaknai hidup si anak lebih baik. Ibu sebagai 'madrasah' kehidupan. Selamanya.

*) Herlini Amran, MA adalah anggota Komisi VIII DPR RI dari FPKS Dapil Kepri.


Senin, 13 Desember 2010

ajarilah anakmu sastra karena dapat mengubah anak pengecut menjadi pemberani

sebagaimana ritual setiap hari, diwaktu malam hari anak-anak minta diceritakan sebuah atau 2 buah atau bahkan berbuah-buah (saking banyaknya) kisah sebelum mereka tidur atau sebenarnya sampai mereka tidur....sambil search kisah-kisah menarik di internet -buku dongengnya sudah selesai dibacakan semua dan sudah berulang-ulang dibacakan- akhirnya dapatlah sebuah blog yg berjudul cerita anak, lebih banyak berkisah tentang abu nawas dan rajanya yaitu Harun al-rasyid yaitu kisah 1001 malam, yang membuat saya tertarik karena prolog yg diberikan oleh situs tersebut sangat menggugah perasaan saya...prolognya berbunyi sbb: "Ajarilah anakmu sastra karena sastra dapat mengubah anak yang pengecut manjadi pemberani...woww. Sebagai orang dengan basic pendidikan non sastra kata ini sangat menggelitik karena sampai saat ini bagi sebagian orang "sastra" dipandang sebagai suatu ilmu yg "rendah" dan kurang dihargai. Orang tua lebih cenderung memprioritaskan anaknya belajar berhitung dan sains ketimbang belajar puisi dan prosa. Padahal ilmu yg dipandang rendah tersebut kini telah menjadi penghasil uang yang berlimpah ruah. Misalnya saja siapa orang yg mengenal profesor yang ahli dibidang sains kecuali para mahasiswanya yg pernah diajarin oleh profesor itu, tapi coba tanya siapa penyanyi paling populer saat ini banyak pilihan mulai dari rock (khusus indonesia ya) andra n the backbone (benar gak ejanya habisnya kurang ngefans sih) terus yg romantis2 gitu dech macam ungu, peterpan dll. mereka lebih dikenal ketimbang prof tadi yg pintar luar biasa. Intinya bahwa sebenarnya sastra pun perlu kita ajarkan kepada anak kita,  bukan semata-mata sebagai maisyah (penghasilan) bagi mereka tapi untuk melatih jiwa-jiwa mereka.  Bukankah Al-Qur'an sebagian besar berupa kisah orang-orang terdahulu dan bagaimana  kisah orang-orang yang akan datang....Ini menunjukkan bahwa Islam menekankan pentingnya sastra (sejarah-kisah) supaya dapat mengambil pelajaran (hikmah) Karena hikmah itu adalah sesungguhnya milik kaum muslimin, dimanapun dia berada maka orang mukmin  berhak mengambilnya Dengan sastra pun kita bisa mengasah athifiah (kelembutan) anak-anak kita supaya lebih peka perasaannya, sehingga tidak perlu dengan kekerasan u menegur mereka cukup dengan pandangan mata dan kata-kata mereka sudah mengikutinya. Dikemudian hari dengan kelembutan hati,  dapat menjadikan anak-anak kita mampu   mengarungi luasnya lautan kehidupan yg bertabur kesenangan dan kesulitan ini dengan penuh keberanian....dengan idzin Allah azza wa jalla insya allah

Senin, 06 Desember 2010

Menghindari Kesalahan Motivasi

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Kalau boleh, saya ingin mengatakan bahwa setiap ibu mendambakan anak-anaknya menjadi manusia yang berguna sesuai harapan orangtua.

Naluri setiap ibu menyayangi dan mendidik anak-anaknya agar kelak tidak saja berhasil bagi dirinya sendiri, tetapi sekaligus membahagiakan orangtua, tetangga dan masyarakat.

Keberhasilan anak dalam meniti hidupnya adalah keberhasilan orangtua, terutama ibu. Karena perjalanan anak banyak ditentukan oleh pendidikan yang diberikan oleh ibu selama masa-masa perkembangan.

Didorong oleh rasa sayangnya kepada anak, seorang ibu banyak tampil memotivasi anak. Tindakan ini bagus. Anak yang berhasil, seringkali lahir justru bukan dari banyaknya fasilitas yang dimiliki. Lebih penting dari itu, motivasi tinggilah yang banyak memberi sumbangan pada semangat anak demi berusaha dan menyikapi “kesulitan-kesulitan“ yang dialami.

Tetapi…

Ada tetapinya!

Keinginan ibu untuk memotivasi anak tidak jarang menghadapi benturan karena kesalahan-kesalahan “kecil”. Tindakan memotivasi justru menjadi bumerang. Alhasil, kemauan berprestasi anak malah lemah dan prestasinya rendah.

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan ketika memotivasi anak, yaitu:

1. Membuat Anak Merasa Bersalah

Sebagian ibu menganggap bahwa dengan menimbulkan rasa bersalah, anak akan terpacu untuk memperbaiki diri. Anak akan bersemangat untuk meraih apa yang diharapkan oleh orangtua. Tetapi kenyataannya seringkali justru sebaliknya. Anak menjadi rendah diri. Tidak mempunyai percaya diri. Dalam jangka panjang, ini melemahkan kemampuan anak dalam menyesuaikan diri maupun dalam mengembangkan kecakapan intelektual dan keterampilan kerja.

“Motivasi” yang justru menimbulkan rasa bersalah pada anak, misalnya, “Kamu sayang sama Mama, nggak? Sayang, nggak?”

“Sayang, Ma,” kata Reza. Selebihnya Reza hanya diam.

“Makanya, kalau sayang sama Mama, belajar yang baik,” kata Mama.

Rasa bersalah juga muncul ketika ibu mengatakan, “Ibu tiap hari kerja keras untuk kamu. Kalau kamu kasihan sama Ibu, kamu harus belajar. Kamu harus mendapat ranking satu. Lihat itu, Bapak tiap hari pulang sore. Cari duit itu sulit.”

2. Menjadikan Anak Merasa Anda Tidak Menganggapnya Cukup Pandai

Dody pulang sekolah. Begitu tiba, ibu langsung menanyai tentang pelajaran apa yang diterimanya tadi. Tak lupa menanyakan ulangan.

Ini dia awal kesulitan Dody. Hari itu ada ulangan Matematika. Dia mendapat nilai 7.

Sebenarnya nilai yang bagus untuk Matematika. Tapi Dody tahu, kalau mengatakan yang sebenarnya, ia akan menghadapi risiko diomeli ibu. Tapi kalau berbohong, Dody ingat itu mendatangkan dosa.

Akhirnya Dody menunjukkan kertas hasil ulangan. Seperti diduga, ibunya segera berkomentar, “Aduh Dody. Masak berhitung begini kamu nggak bisa sih? Ini kan mudah, toh! Coba lihat itu Mas Iwan, pintar dia.”

Dody kecewa. Ia sudah mendapat nilai lebih tinggi dari kebanyakan temannya, tapi tetap tidak mendapatkan penghargaan dari orangtua. Ibu menganggapnya tidak cukup pandai.

Mental anak sangat terpukul. Ungkapan ibu semacam ini dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri. Pada gilirannya, anak mudah merasa putus asa.

Anak juga merasa dirinya bodoh. Karena merasa bodoh, ia cenderung tidak mau belajar. Ia banyak melakukan hal-hal yang kurang meningkatkan kecerdasan. Sehingga, akhirnya ia mendapati benar-benar bodoh di sekolah. Inilah yang disebut self-fulfiling prophecy (nubuwah yang dipenuhi sendiri).

Memotivasi dengan bentuk-bentuk ungkapan semacam itu justru bisa membodohkan anak. Ungkapan yang dimaksudkan oleh ibu untuk membangkitkan potensi anak, sebenarnya justru merusak potensi yang besar.

Seharusnya, ibu tetap menunjukkan kehangatan. Bahkan ketika anak mendapat nilai jelek pun, ibu perlu memberikan kehangatan dan penerimaan. Sikap yang demikian akan menimbulkan rasa aman dan perasaan diterima pada diri anak, sehigga ia akan bersemangat untuk mencapai yang lebih di saat berikutnya tanpa perasaan tertekan dan terbebani.

Sementara kalau anak mencapai prestasi yang memuaskan, seperti yang dicapai oleh Dody misalnya, ibu perlu menunjukkan sikap menghargai. Ibu memberikan penghargaan dan pujian yang memadai. Tidak berlebihan, tetapi juga tidak terlalu kikir memuji.

3. Menghancurkan Harga Diri Anak

Anda sangat tidak menyukai kalau keburukan Anda atau hal-hal yang Anda anggap sebagai wilayah pribadi diungkapkan kepada orang lain. Apalagi jika yang mengungkapkan rahasia pribadi Anda itu adalah orang yang paling dekat, suami, misalnya. Rasanya sakit sekali. Ada kekecewaan bercampur amarah. Ada perasaan malu yang amat sangat bercampur dengan kejengkelan.

Kalau Anda saja merasa demikian, apalagi anak Anda yang masih belum memiliki integritas diri yang kukuh? Tapi ada kalanya orangtua menghancurkan harga diri anak dengan maksud menumbuhkan semangat pada diri anak untuk mencapai prestasi terbaik.

“Pokoknya kalau Andi tidak bisa mendapat nilai yang baik, Mama akan cerita sama Ita. Kalau Andi nggak ingin Mama cerita, Andi harus memperbaiki prestasi.”

Atau, “Sudah, kalau Tony nakal terus, nanti Mama bilang sama Papa.”

Ungkapan-ungkapan seperti itu sangat mengganggu harga diri anak. Tetapi yang lebih menghancurkan harga diri adalah kalau ibu benar-benar menceritakan kepada orang lain. Ini yang kadang secara tidak sadar dilakukan oleh ibu. Misalnya ketika ada teman sedang menceritakan anaknya melalui telepon, dengan maksud mengimbangi maupun basa-basi, kadang ibu tanpa sadar menghancurkan diri anak.

“Aduh, Bu. Sama dengan anak saya. Yang nomor tiga itu, Si Pras, itu, aduh… malas sekali kalau disuruh belajar. Sampai jengkel saya kalau menyuruh dia!”

Sikap ibu ini dapat menjadikan dawdling, yaitu sikap negatif anak dengan tidak mau melakukan apa yang diperintahkan orangtua dengan harapan orangtuanya marah. Kalau orangtua marah, ia memperoleh kepuasan (baca Suara Hidayatullah edisi Juni 2007). Pada saat ini, ia mengungkapkan kejengkelannya pada orangtua.

4. Membuat Anak Defensif

Situasi yang memojokkan membuat seseorang harus bersikap bertahan (defensif), tidak menuruti kemauan pihak yang menghendaki berubah. Jika sangat terpaksa, ia akan menurut. Tetapi hanya asal tidak mendapat tekanan. Asal tidak dimarahi. Atau, ia menjadi apatis.

Ibu kadang memotivasi anak dengan cara memojokkan, misalnya, “Kamu pasti nggak sayang sama Mama. Kalau kamu sayang sama Mama, kamu nggak akan malas. Ayo, sekarang belajar.”

5. Mendorong Anak Balas Dendam

Saya pikir, tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya balas dendam. Tetapi ternyata, ada pola-pola komunikasi yang cenderung membuat anak terdorong untuk balas dendam. Misalnya, “Pokoknya kamu harus les Matematika. Ibu nggak mau mempunyai anak yang tidak pandai Matematika. Kalau Bahasa Indonesia , mudah dipelajari. Semua orang bisa menguasai.”

“Tapi, Deka pingin belajar karate, Ma.”

“Nggak. Pokoknya kamu harus les Matematika. Kamu boleh belajar karate, tapi nanti, kalau kamu sudah pandai Matematika,” tegas ibu keras.

Sebenarnya sikap tegas sangat perlu ditegakkan dalam keluarga. Tetapi ketegasan harus berlandaskan aturan yang jelas dan dipahami anak. Ketegasan harus selaras dengan sikap menghargai inisiatif anak.

Seorang ibu bisa mengajukan alternatif sebagai hal yang harus dipilih oleh anak. Tapi ibu harus mendapat menjamin bahwa anak memahami dan menerima penjelasan yang dikemukakan oleh ibu. Lebih dari itu, ibu harus memperhatikan apakah kehendak ibu tidak justru mematikan potensi anak yang sebenarnya sangat besar dan brilian. Inilah!

Karena itu, sikap terbuka dan mau mendengarkan anak, sangat penting untuk dimiliki ibu. Sebaiknya ibu lebih banyak mendampingi dan memberikan kehangatan sehingga anak memiliki percaya diri dan harga diri yang baik.

Ini akan lebih berharga bagi anak. Prestasi anak dapat lebih dipacu, sekalipun kelak anak jauh dari orangtua

Minggu, 05 Desember 2010

manusia terpintar di dunia

Siapakah manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia? Da Vinci? John Stuart Mills? Atau Albert Einstein seperti yang selama ini diperkirakan orang? Ketiganya memang dianggap jenius-jenius besar yang telah memberikan banyak pengaruh terhadap bidangnya masing-masing. Tapi gelar manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia rasanya tetap layak diberikan kepada William James Sidis. Siapakah ia? Mengapa namanya tenggelam dan kurang dikenal walau angka IQnya mencapai kisaran 250–-300?..

Keajaiban Sidis diawali ketika dia bisa makan sendiri dengan menggunakan sendok pada usia 8 bulan. Pada usia belum genap 2 tahun, Sidis sudah menjadikan New York Times sebagai teman sarapan paginya. Semenjak saat itu namanya menjadi langganan headline surat kabar : menulis beberapa buku sebelum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomy dan astronomy. Pada usia 11 tahun Sidis diterima di Universitas Harvard sebagai murid termuda. Harvardpun kemudian terpesona dengan kejeniusannya ketika Sidis memberikan ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan para professor matematika.

Lebih dasyat lagi : Sidis mengerti 200 jenis bahasa di dunia dan bisa menerjamahkannya dengan amat cepat dan mudah. Ia bisa mempelajari sebuah bahasa secara keseluruhan dalam sehari !!!! Keberhasilan William Sidis adalah keberhasilan sang Ayah, Boris Sidis yang seorang Psikolog handal berdarah Yahudi. Boris sendiri juga seorang lulusan Harvard, murid psikolog ternama William James (Demikian ia kemudian memberi nama pada anaknya) Boris memang menjadikan anaknya sebagai contoh untuk sebuah model pendidikan baru sekaligus menyerang sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi kejahatan, kriminalitas dan penyakit. Siapa yang sangka William Sidis kemudian meninggal pada usia yang tergolong muda, 46 tahun - sebuah saat dimana semestinya seorang ilmuwan berada dalam masa produktifnya. Sidis meninggal dalam keadaan menganggur, terasing dan amat miskin. Ironis. Orang kemudian menilai bahwa kehidupan Sidis tidaklah bahagia. Popularitas dan kehebatannya pada bidang matematika membuatnya tersiksa. Beberapa tahun sebelum ia meninggal, Sidis memang sempat mengatakan kepada pers bahwa ia membenci matematika - sesuatu yang selama ini telah melambungkan namanya. Dalam kehidupan sosial, Sidis hanya sedikit memiliki teman. Bahkan ia juga sering diasingkan oleh rekan sekampus. Tidak juga pernah memiliki seorang pacar ataupun istri. Gelar sarjananya tidak pernah selesai, ditinggal begitu saja. Ia kemudian memutuskan hubungan dengan keluarganya, mengembara dalam kerahasiaan, bekerja dengan gaji seadanya, mengasingkan diri. Ia berlari jauh dari kejayaan masa kecilnya yang sebenarnya adalah proyeksi sang ayah. Ia menyadarinya bahwa hidupnya adalah hasil pemolaan orang lain. Namun, kesadaran memang sering datang terlambat.

Mengharukan memang usaha Sidis. Ada keinginan kuat untuk lari dari pengaruh sang Ayah, untuk menjadi diri sendiri. Walau untuk itu Sidis tidak kuasa. Pers dan publik terlanjur menjadikan Sidis sebagai sebuah berita. Kemanapun Sidis bersembunyi, pers pasti bisa mencium. Sidis tidak bisa melepaskan pengaruh sang ayah begitu saja. Sudah terlanjur tertanam sebagai sebuah bom waktu, yang kemudian meledakkan dirinya sendiri.

Sumber: http://alcapone-network.co.cc/