Senin, 10 Mei 2010

Antusiasme

Pernahkah bayi Anda sakit? Apa yang terjadi padanya? Ya, dia akan rewel jika sakitnya sudah benar-benar sangat mengganggu. Lebih-lebih pada malam hari ketika kantuknya datang dan mata tak kunjung bisa terpejam. Tetapi begitu dia mulai sedikit sehat (belum sehat betul), rasa sakit yang mendera tak dirasakannya lagi. Ia bermain-main dengan gembira. Tertawa renyah, berlari-lari, dan berceloteh. Padahal badannya masih panas, nafasnya masih tersengal, dan batuknya belum sepenuhnya reda.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari anak-anak kita yang lucu itu? Fokus dan antusiasme. Pada saat perhatian kita fokus pada satu hal, kita cenderung tidak peka terhadap hal-hal lain sekalipun itu sebenarnya kurang nyaman bagi diri kita. Rasa sakit kita "menghilang" karena hampir seluruh energi kita mengarah pada sesuatu yang menjadi fokus kita. Semakin kuat fokus kita, semakin besar perhatian kita, serta semakin tinggi kepekaan kita terhadap hal tersebut. Pada saat yang sama kita cenderung "mengabaikan" hal-hal lain.

Ketika fokus perhatian saya terhadap pendidikan anak sangat kuat, membaca buku sejarah atau politik pun memantik insight (semacam "aha", "oya", "ya") tentang pendidikan anak. Saya menulis buku Salahnya Kodok misalnya, bukan karena membaca buku-buku psikologi anak. Tetapi saya membaca tentang Jepang, Amerika, dan Israel; bagaimana mereka menanamkan sikap politik. Saya tercenung sejenak, lalu melihat ada yang keliru pada kita saat anak terjatuh. Bukan mengajarinya memahami apa yang terjadi, apa konsekuensinya dan tindakan apa yang perlu dilakukan untuk masa-masa berikutnya. Tetapi kita menyalahkan sekeliling dan bila perlu melakukan tindakan naif untuk mencari pembenaran.

"Hush, itu ayamnya yang nakal." Kita hibur anak sembari melemparkan sandal kita ke arah ayam di seberang sana, atau kita salahkan lantai yang tak bersalah, dan jadilah anak kita belajar menjadi pengecut. Anak terhibur, tetapi kehilangan kesempatan belajar. Anak segera reda tangisnya, tetapi kehilangan daya tahan menghadapi tantangan. Ia belajar melemahkan dirinya sendiri karena orangtua mengajarkannya demikian. Ia tidak belajar memahami tindakannya dan mengendalikan sekeliling. Ia hanya belajar mengendalikan orangtua dan menyalahkan sekeliling. Dan inilah tragedi yang kita tanam sendiri pada jiwa anak-anak kita!

Kembali ke fokus. Kuatnya fokus membuat otak kita semakin cemerlang. Kita mengingat dengan baik bukan karena menghafal, tetapi karena fokus yang kuat memberi sinyal pada otak bahwa informasi itu berharga. Dan Anda tahu, ada dua hal yang membuat otak kita mengingat dengan lebih baik: perhatian dan makna. Sesuatu bisa memiliki makna yang bagi kita karena berhubungan erat dengan kepentingan kita. Ketika Anda bermusuhan dengan seseorang, Anda lebih mudah mengingat informasi tentang keburukannya. Anda juga lebih cepat melihat hubungan antara sebuah peristiwa dengan kesalahan atau keburukan orang yang sangat tidak Anda sukai.

Bermakna tidaknya informasi bisa juga berkait dengan nilai-nilai ideologis yang mempengaruhi jiwa kita. Lebih-lebih jika nilai itu benar-benar telah menjadi daya penggerak (driving force) bagi hidup kita, maka tingkat kepekaan kita akan meningkat dan segala hal yang berkaitan semakin bermakna.

Itu sebabnya, kita perlu menggerakkan anak-anak kita dengan tujuan yang sifatnya ideologis. Kita berusaha agar agama menjadi daya penggerak bagi hidupnya, sehingga membentuk reason for being "semacam alasan untuk bertindak" bagi anak-anak kita. Sesungguhnya, motivasi itu berkait erat dengan apa yang menggerakkan kita untuk bertindak, apa yang ingin kita capai, dan cita-cita besar yang ingin kita raih.

Dalam keadaan termotivasi (motivated), fokus kita akan semakin kuat. Dan kita baru saja melihat bahwa kuatnya ingatan kita berkait erat dengan perhatian dan makna.

Penjelasan ini memahamkan kita mengapa anak-anak generasi salafush-shalih sangat cemerlang otaknya. Anak-anak itu fokusnya terjaga dan motivasinya menyala-nyala karena agama. Persoalannya, apakah kita sudah cukup layak untuk menjadi orangtua? Orangtua yang tidak sekedar lebih tua umurnya daripada anak!

Lalu apa yang melemahkan fokus? Hadiah dan gengsi. Kita perlu memberi hadiah pada anak untuk menunjukkan rasa sayang kita. Bukan untuk "menggaji" perbuatan baiknya, sebab ini akan melemahkan. Kita bisa memberi mereka iming-iming, tetapi bukan sesuatu yang bisa diraih hanya dengan satu perbuatan, saat ini juga, sekarang juga. Kita bangun mimpi mereka tentang surga, sembari membangun harapan kita sendiri untuk bisa meraih surga. Tetapi surga tidak bisa Anda raih seketika. Anda harus mati dulu. Itu pun tidak cukup untuk memastikan kita masuk surga. Mati bukan jalan masuk surga. Harus ada amal shalih. Itu pun tak cukup. Amal shalihnya harus yang diridhai, sebagaimana diamanahkan dalam surat Al-Ahqaaf ayat 15.

Mengenai gengsi, pada awalnya anak tidak pusing-pusing dengan baju apa yang ia pakai. Mahal atau tidak, bermerek atau tidak, anak tidak peduli. Kitalah yang mengajari mereka untuk malu memakai baju hadiah, sehingga pikiran yang seharusnya fokus pada keunggulan, jadi terpecah karena penampilan.

Tentu saja anak-anak harus berpakaian pantas. Tapi yang harus kita ajarkan adalah alasan mendasar di balik itu. Jadi, ada tujuan di balik tindakan.

Astaghirullahal adzim. Rasanya saya belum pantas menjadi orangtua untuk anak-anak saya. Banyak sekali kekurangan yang masih melekat pada diri saya.

Antusiasme

Kekuatan lain anak kita adalah antusiasme yang menyala. Secara sederhana, antusiasme adalah perasaan yang kuat, rasa senang, kegairahan dan semangat terhadap sesuatu. Ketika anak belajar berjalan, ia benar-benar merasa senang dengan proses belajar berjalan yang ia lakukan. Tidak peduli berapa kali dia jatuh, tak peduli lecet-lecet lututnya. Mungkin ia menangis sesaat sebagai reaksi terhadap rasa sakit di badan, tetapi ia segera kembali belajar berjalan dengan sungguh-sungguh, penuh semangat dan senang. Karena antusias, anak belajar dengan mudah apa yang sulit dipelajari. Karena antusiasme yang tinggi pula, anak tetap bersemangat ketika harus berkali-kali jatuh dan gagal. Ia tidak putus asa.

Setiap anak lahir dengan antusiasme yang sangat tinggi. Ia selalu tergerak untuk belajar dan belajar. Ia melakukan berbagai hal yang membantunya segera mampu melakukan berbagai aktivitas yang semula tidak mungkin ia lakukan.

Berbekal antusiasme yang sangat tinggi, anak melakukan proses belajar dengan sangat cepat. Salah satunya, dalam keadaan antusias, otak memproses informasi dan pengalaman dengan lebih baik. Jika Anda belajar dalam keadaan sangat bergairah, Anda akan lebih mudah mengingat sekaligus memahami apa yang Anda pelajari. Belajar terasa menyenangkan bukan karena materi pelajarannya yang mengajak kita bersenang-senang, tetapi perasaan kita yang kuat membuat apa pun yang kita pelajari 'sekalipun sulit' terasa menyenangkan.

Dari sini kita bisa memahami mengapa ada TK (Taman Kanak-kanak) yang sengaja tidak mengajarkan menyanyi. TK model ini menyelenggarakan kegiatan belajar yang menyenangkan dengan terutama membangun kedekatan emosi antara guru dan anak, merangsang antusiasme anak untuk belajar, mengobarkan motivasi yang kuat dan membangun karakter yang kuat. Guru merancang model kegiatan yang terasa alamiah, spontan, menyenangkan dan antusias. Dengan demikian, tidak adanya menyanyi bukan membuat anak tertekan. Karena prinsip pokok pembelajaran usia dini adalah menyenangkan. Jika menyanyi tidak menyenangkan bagi anak, mereka tidak boleh dipaksa untuk menyanyi. Bukankah anak bisa mengalami proses belajar yang menyenangkan dan penuh gairah hanya jika antusiasme anak menyala-nyala?

TK tanpa nyanyi ini sudah ada di beberapa negara. Salah satu keunggulan yang menonjol dari TK model ini adalah pembangunan karakter pada anak.

Saya ingin berbicara lebih lanjut tentang TK yang berkembang pertama kali di Austria ini. Tetapi kali ini bukan kesempatan yang tepat. Kali ini saya hanya ingin mengajak Anda untuk melihat betapa besarnya kekuatan yang bernama antusiasme. Tugas kitalah untuk menjaganya dan mengarahkan pada aktivitas yang terbaik. Salah satunya dengan membangun kekuatan motivasi saat anak-anak berada di jenjang TK dan SD.

Secara keseluruhan, fokus dan antusiasme pada orang-orang dewasa bisa kita temukan pada mereka yang ikhlas dan istiqamah. Karena ikhlas, mereka bersungguh-sungguh dan melakukan kegiatan serta amal shalih secara total.

Energi keikhlasan itulah yang perlu kita bangun pada anak di tahap awal kehidupannya di sekolah. Wallahu a'am bish-shawab.

Sabtu, 08 Mei 2010

Mentarbiyah dengan cinta

DR. Maisarah Thahir berkata: Sarana tarbiyah dengan cinta, atau bahasa cinta, atau abcd cinta, ada delapan:

1. Kosa kata cinta

2. Pandang mata cinta

3. Suapan cinta

4. Sentuhan cinta

5. Selimut cinta

6. Pelukan cinta

7. Ciuman cinta

8. Senyum cinta

Pertama: Kosa kata cinta

Berapa kosa kata cinta kita ucapkan kepada anak-anak kita?

Dalam sebuah kajian dikatakan: seorang anak dari bayi sampai ABG telah mendengar tidak kurang dari 16 ribu kosa kata buruk, namun, ia hanya mendengar ratusan kosa kata baik!

Image yang tergambar dalam pikiran seorang anak tentang dirinya merupakan salah satu hasil dari omongan yang didengarnya, seakan sebuah kosa kata adalah sebuah kuas di tangan seorang pelukis, bisa jadi ia melukiskannya dengan warna hitam, bisa juga melukiskannya dengan berbagai warna indah. Jadi, kosa kata-kosa kata yang ingin kita ucapkan kepada anak-anak kita, harus yang baik, kalau tidak baik, jangan kita ucapkan.

Sebagian orang tua, sebagian kosa katanya (merendahkan, menjelek-jelekkan, merendahkan ciptaan Allah), akibatnya terhadap anak adalah (mengurung diri, permusuhan, ketakutan, tidak percaya diri).

Kedua: pandang mata cinta

Jadikan kedua matamu tepat pada kedua mata anakmu, disertai senyuman, dan bergumamlah dengan suara tidak terdengar: “aku mencintaimu wahai si fulan”, 3 atau 5 atau 10 kali, jika hal itu disikapi oleh anakmu celaan, atau merasa aneh, dan ia berkata: “apa yang kamu lakukan wahai ayahku”, maka jawablah: “aku rindu kepadamu wahai fulan”. Jadi, pandangan mata, dan cara ini, mempunyai dampak dan hasil yang luar biasa.

Ketiga: Suapan cinta

Cara ini tidak bisa dilakukan kecuali seluruh anggota keluarga berkumpul di satu meja makan. [nasihat: janganlah menempatkan tv di ruang makan], agar terjadi interaksi dan pertukaran pandangan mata. Dan saat menikmati santapan makan, hendaklah orang tua berusaha menyuapkan beberapa suap ke mulut anaknya [dengan catatan, anak kelas V atau VI SD ke atas, pasti merasa bahwa cara ini tidak bisa mereka terima], jika sang anak menolak menerima suapan itu di mulutnya, maka letakkan pada sendok atau piringnya. Hendaklah saat menyuapi disertai dengan pandangan mata cinta diiringi senyuman, kosa kata indah dan suara pelan: “demi Allah wahai anakku, saya sangat ingin menyuapimu dengan suapan ini, ini adalah kurir cintaku wahai sayangku”, setelah ini, pasti dia mau menerimanya.

Keempat: Sentuhan cinta

DR. Maisarah berkata: saya naihatkan agar orang tua memperbanyak sentuhan terhadap anaknya. Bukan sebuah kebijakan jika seorang ayah berbicara dengan anaknya pada dua kursi yang berbeda. Sebaiknya sang anak ada di sampingnya, dan hendaklah tangan sang ayah menempel di bahu anaknya (tangan kana nada di bahu kanan). Kemudian DR. Maisarah menjelaskan cara nabi SAW menghadapi lawan bicaranya: “Nabi Muhammad SAW menempelkan kedua lututnya dengan lutut lawan bicaranya, dan meletakkan kedua tangan beliau di atas kedua paha lawan bicaranya, dan posisi menghadap secara penuh”. Sekarang terbukti bahwa sekedar sentuhan seseorang merasa dicintai dan kehangatan hubungan meningkat ke puncak tertinggi. Karenanya, jika hendak berbicara dengan sang anak, atau hendak menasihatinya, janganlah duduk berjauhan, sebab, dengan begini, terpaksa harus bersuara keras, dan [suara keras membuat sang anak lari] dan jika sang anak itu laki-laki, maka peganglah bagian pahanya, dan jika sang anak perempuan, maka peganglah bahunya, dan peganglah tangannya dengan penuh kasih saying, letakkan kepala sang anak pada bahu sang ayah, agar ia merasa dekat, aman, dan tersayang, sambil katakana: “Aku bersamamu, aku akan memohonkan pengampunan untukmu jika kamu bersalah”.

Kelima: selimut cinta

Hendaklah setiap malam seorang ayah atau ibu melakukannya, jika sang anak telah tidur, maka datangilah ia dan ciumlah, niscaya dia akan merasakan kehadiranmu, karena jenggot wajahmu yang biasa engkau bercanda dengannya, jika ia membuka satu matanya sedangkan yang lainnya masih meram dan ia berkata: “engkau datang wahai ayahku?”

Maka katakan kepadanya: “Betul, aku datang wahai sayangku!”. Dan selimutilah dia

Dalam pemandangan ini, sang anak akan berada dalam kondisi setengah sadar antara tidur dan tidak, dan pemandangan tadi akan tetanam dalam pikirannya, dan saat ia terbangun pada esok harinya, ia akan teringat bahwa semalam ayahnya datang dan melakukan ini dan itu.

Dengan perbuatan seperti ini, menjadi dekatlah jarak antara orang tua dan anak dan kita wajib dekat dengan anak dengan pisik dan hati kita.

Keenam: Dekapan cinta

Janganlah kalian pelit dengan dekapan terhadap anak. Sebab, keperluan anak kepada dekapan sama dengan keperluannya kepada makanan, minuman dan udara, setiap kali ada yang terkonsumsi, niscaya diperlukan yang lainnya.

Ketujuh: ciuman cinta

Rasulullah SAW mencium salah seorang cucunya; Hasan atau Husain. Perbuatan ini terlihat oleh al-Aqra’ bin Habis, maka ia berkata: “Apakah engkau mencium anak-anak kecil?!! Demi Allah, saya mempunyai sepuluh anak, tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka!! Maka Rasulullah SAW bersabda: “Kalau saja aku mempunyai kemampuan untuk mencabut kasih sayang dari dalam hatimu”

Wahai para orang tua, ciuman kepada anak merupakan satu ekspresi kasih sayang, betul, kasih sayang yang menjadi focus ajaran Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan bahwa ia merupakan rahasian ketertarikan manusia kepada suatu keyakinan, dan jika kasih sayang ini hilang dari perilaku kita terhadap anak-anak kita, berarti kita telah menjauhkan mereka dari kita, baik kita sebagai perseorangan maupun kita sebagai para da’i, da’i Islam.

Kedelapan: Senyum cinta

Inilah sarana-sarana cinta, siapa yang menerapkannya, niscaya mendapatkan cinta dari mereka yang berinteraksi dengannya.

Sebagian orang tua saat dinasihati demikian berkomentar: “Kami tidak terbiasa”.

Subhanallah!! Adakah kebiasaan itu Qur’an yang turun dari langit yang kita tidak bisa merubahnya!!

Sarana-sarana ini ibarat air, dengannya tanaman cinta akan tumbuh di dalam hati. Dan jika kita ingin dibaiki oleh anak kita, baikilah anak kita, dan sayangilah mereka.

Perlu diketahui bahwa cinta tidak sama dengan tutup mata atau membiarkan kesalahan.