Senin, 17 Mei 2010

5 hal penting dalam mendidik anak

Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.

Hal pertama Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak. Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju ke Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.

Gusti Allah Yang Maha Mencipta Berkata dalam KitabNya:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)

Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.

Kedua, setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai memahami anak-anakmu. Ada dua hal yang perlu kau amati:

Pertama, amati sifat-sifat khasnya masing-masing. Tidak ada dua manusia yang sama serupa seluruhnya. Tiap manusia unik. Pahami keunikan masing-masing, dan hormati keunikan pemberian Allah SWT.

Yang kedua, Bunda, fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Allah SWT mengkodratkan segala sesuatu sesuai tahapan atau prosesnya.
Anak-anak yang merupakan amanah pada kita ini, juga dibesarkan dengan tahapan-tahapan.

Tahapan sebelum kelahirannya merupakan alam arwah. Di tahap ini kita mulai mendidiknya dengan kita sendiri menjalankan ibadah, amal ketaatan pada Allah dan juga dengan selalu menjaga hati dan badan kita secara prima. Itulah kebaikan-kebaikan dan pendidikan pertama kita pada buah hati kita.

Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:

1. Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
2. Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
3. Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.

Ketiga tahapan pendidikan ini mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Begitulah kita coba memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya.

Hal ketiga adalah memilih metode pendidikan. Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.

Yang pertama adalah melalui Keteladanan atau Qudwah, yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah, yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh, yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh, sedangkan yang terakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi atau Uqubah.

Bunda, jangan tinggalkan satu-pun dari ke lima metode tersebut, meskipun yang terpenting adalah Keteladanan (sebagai metode yang paling efektif).

Setelah bicara Metode, ke empat adalah Isi Pendidikan itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT.
Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah: (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq (3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5) Pendidikan Sosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7) Pendidikan Kejenisan (sexual education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.

Ke lima, kira-kira gambaran pribadi seperti apakah yang kita harapkan akan muncul pada diri anak-anak kita setelah hal-hal di atas kita lakukan? Mudah-mudahan seperti yang ada dalam sepuluh poin target pendidikan Islam ini:
Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain.

Insya Allah, Dia Akan Mengganjar kita dengan pahala terbaik, sesuai jerih payah kita, dan Semoga kita kelak bersama dikumpulkan di Negeri Abadi. Amin. Wallahua’lam, (SAN)

Sabtu, 15 Mei 2010

Ingin dikenang seperti apa kita oleh anak kita

Dalam acara tujuh hari wafatnya Gus Dur, Innayah Wahid membacakan puisi yang membuat terharu jamaah yang hadir. Puisi berjudul “Karena Ayahku” itu ditulis untuk ayahnya, Gus Dur. “Kalau aku jadi orang dermawan, itu karena Ayahku yang mengajarkan. Kalau aku jadi orang toleran, itu karena Ayahku yang menjadi panutan. Kalau aku jadi orang beriman, itu karena Ayahku yang menjadi imam. Kalau aku jadi orang rendah hati, itu karena ayahku yang menginspirasi. Kalau aku jadi orang cinta kasih, itu karena ayahku memberi tanpa pamrih. Kalau aku bikin puisi ini, itu karena ayahku yang rendah hati.”

Pada hari yang sama, ada berita lain yang sangat kontras. Seorang pria Italia meludahi jenazah ibunya yang dimakamkan di Swiss. Rupanya, sewaktu kecil ia sering dipukuli ibunya. Itu membuatnya dendam sampai ia dewasa kini.

Kita, para orang tua, ingin dikenang seperti apa oleh anak kita nanti? Saat kita telah tiada. Saat kita meninggalkan mereka. Apakah kita ingin dibacakan puisi indah, atau di-”hadiahi “ ludah? Menjadi kenangan indah atau memori pahit yang dibalas sumpah serapah? Kita perlu sejenak berpikir mengenai masa itu.

...dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang dilakukannya untuk hari esok (QS. Al-Hasyr : 18)

Apa yang kita lakukan hari ini untuk anak kita, apa yang kita perbuat hari ini terhadap anak kita, akan lebih tepat jika telah sejalan dengan hasil masa mendatang yang kita inginkan. Orientasi masa depan. Dengan perspektif kesadaran anak-anak kita, nanti. Bukan sekarang.

Saat kita menginginkannya menjadi anak yang pintar, kita lantas memaksanya untuk terus dan terus belajar. Saat kita menginginkan anak kita menjadi penurut, kita mengancamnya dan membuat dia takut. Saat kita menginginkan anak kita menjadi pemberani, kita justru merenggut hal yang paling dibutuhkannya nanti: rasa percaya diri. Kita memang bisa memaksanya sekarang. Ia takkan melawan. Namun perasaannya yang terpendam bisa menggelegak keluar ketika sudah tak bisa tertahan dan ada kesempatan. Banyak kasus ini akan diluapkan saat orangtua tiada. Seperti cerita kedua di atas.

Memulai dari tujuan akhir. Demikian salah satu kebiasaan efektif yang dikemukakan Stephen R. Covey dalam buku The Seven Habits of Highly Effective People. Bahwa apa yang kita perbuat harus menuju tujuan akhir. Bahwa apa yang kita lakukan pada anak kita, apa yang kita perbuat untuk anak kita, perlu kita bawa dalam bingkai: “Bagaimana menurutnya saat besar nanti, atau kita telah tiada?”

Ini akan mendorong kita memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih sayang. Membuat kita mendidik mereka dengan penuh cinta. Mengarahkan kita untuk berbuat yang terbaik baginya; bukan bagi kita.

Namun, lebih dari itu, jika kita berbuat banyak terhadap anak kita hanya dalam kerangka “apa yang akan kita dapatkan dari mereka” “bagaimana mereka mengenang kita” kita akan merugi. Mengapa? Sebab ada masa yang jauh lebih panjang dari sekedar “menuai kenangan”. Dan, saat kita meninggal kita tidak lagi membutuhkan pujian. Iya, bukan? Yang kita butuhkan adalah pahala dari Allah atas kerja-kerja membesarkan dan mendidik anak-anak kita. Yang kita butuhkan adalah amal jariyah saat segala amal telah terputus bersamaan dengan putusnya hubungan kita dengan dunia. Ini hanya dapat kita raih jika kita membesarkan dan mendidik anak kita dengan orientasi yang benar. Niat yang benar. Lillaahi ta’ala. Bahwa mereka amanah Allah, dan karenanya kita menunaikan amanah itu dengan sebaik-baiknya.

Maka sikap terbaik kita akan berbuah hal terbaik juga: anak-anak mengenang kita dengan indah, sekaligus mereka menjadi pahala jariyah. [Muchlisin]