Senin, 07 Juni 2010

Pola Asuh Orang Keturunan

Written By:
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Pendiri Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA)

Seorang Ibu bertanya “Abah, mau tanya nih pola asuh seperti apa si yang diterapkan teman-teman kita orang tionghoa pada anak-anaknya? Apa yang seperti PSPA terapkan? Keliatan banget anak-anak mereka cerdas-cerdas sejak kecil. Di sekolah pun mereka selalu juara, apapun bisa mereka kuasai. Lain banget sama anak-anak kita ini. Padahal urusan anak semua diserahkan kepada pembantu. Mereka sibuk mencari uang dari pagi sampai malam”.

Silahkan pelajari dengan seksama, tak ada stereotype rendah yang saya kemukakan di tulisan ini. Tulisan ini saya buat untuk menanggapi pertanyaan dan sekaligus pernyataan seorang Bunda tadi. Tulisan ini juga tidak bermaksud mengungkap sejarah tionghoa di Indonesia tetapi bermaksud menyinggung pola asuh yang diterapkan oleh orang tionghoa di Indonesia.

Ayah Ibu, sebenarnya bagaimana seseorang dapat menjadi cerdas, pintar, juara, sukses, kaya dan bahkan bahagia tidak ada hubungannya dengan latar belakang kesukuan atau etnis mereka. Kondisi-kondisi pendukungnyalah yang akan membuat seseorang dapat seperti yang disebutkan tadi atau tidak.

Pertanyaan dan juga pernyataan ibu ini sebenarnya hanya generalisasi. Pada kenyataannya, tidak semua orang tionghoa dan keturunannya termasuk yang di Indonesia seperti yang dikatakan ibu tadi. Tidak semua anak-anak keturunan juara sejak kecil atau cerdas (akademik) sejak kecil, tidak semua mereka bisa menguasai banyak hal.

Singkatnya, menjadi sukses, lepas dari ukuran suksesnya (kekayaan, intelektual, jabatan, kedudukan), menjadi cerdas (intelektual, emosional, spiritual), menjadi bahagia tidak ada hubungannya dengan sukunya apa atau etnisnya apa. Mau dia orang Tionghoa kek, Melayu, India, Jepang, Korea, Spanyol, Prancis, Inggris, Amerika atau Batak, Aceh, Jawa, Papua, Sunda, semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk menuju ke arah yang saya bicarakan tersebut.

Jika pun sebagian kita melihat teman-teman kita yang keturunan terlihat sebagiannya sukses, sebenarnya hanya penilaian sekilas. Tidak semua dari mereka seperti yang kita kira. Jika pun ya, bukanlah karena etnis mereka yang membuat mereka seperti tersebut. Kondisi-kondisi pendukungnyalah yang membuat sebagian teman-teman kita yang keturunanan ini hadir di sekitar kita seperti terlihat kaya, sukses, cerdas, juara atau apapun hal positif yang disebutkan tadi. Kondisi pedukung ini bisa berbentuk karakter sebagian mereka yang memang baik dan kondisi lingkungan yang membuat mereka harus ‘survive’ lebih baik.

Saya katakan sebagian karena memang pada kenyataannya tidak semuanya seperti itu. Sebagai contoh saat saya SMA dan kuliah, memang saya memiliki beberapa teman keturunan yang prestasi akademik menonjol, tetapi lebih banyak yang sebenarnya biasa-biasa saja. Memang sebagian yang juara orang Olimpiade sains, matematika dan seterusnya adalah anak-anak keturunan Tionghoa. Tetapi dari orang-orang Jawa, bahkan Papua pun pernah ada bukan?

Di Bandung, saat saya berbelanja ke sebuah toko yang orang keturunan banyak yang menjadi pedagang di sana, saya pernah mendapati seorang ibu keturunan berusia 40 tahunan berjualan gorengan, hanya menenteng plastik keliling dari satu toko ke toko lainnya dengan beralaskan sendal jepit dan baju sederhana. Saya dapat memastikan bahwa ibu ini adalah orang keturunan dari penampilan fisik dan juga setelah memperhatikan beliau berinteraksi dengan teman-teman keturunan yang lainnya yang sesekali menggunakan bahasa mandarin.

Atau jika mau lebih ‘kelihatan’ silahkan bermain-main ke daerah Kalimantan Barat seperti Singkawang. Kita akan mendapati bukan hanya satu dua tapi banyak dari mereka yang dari segi ekonomi, pendidikan, dan lain-lain seperti orang Indonesia kebanyakan. Beberapa mereka juga adalah petani miskin.

Atau mungin Anda pernah mendengar istilah orang Cina Benteng (Chiben)? Cina Benteng adalah sebutan untuk orang-orang Tionghoa yang tinggal di daerah Tangerang. Orang Tionghoa yang disebut Cina Benteng ini secara ekonomi sebagiannya hidup pas-pasan sebagai petani, peternak, nelayan, buruh kecil dan pedagang kecil. Mereka bahkan juga pernah menghadapi penggusuran.



Potret kehidupan masyarakat Chiben

Jadi, sekali lagi, tidak semua teman-teman kita Tionghoa seperti yang kita kira: semuanya kaya, semuanya cerdas, semuanya juara. Mereka adalah manusia biasa, seperti kita yang bisa sukses atau tidak sukses, bukan karena ditentukan matanya sipit atau tidak, kulit kuning atau hitam, tetapi karena perilaku positif yang membuat siapapun dapat menuju kea rah tersebut dan perilaku itu dibentuk oleh gabungan banyak hal: kemauan, kesempatan, kemampuan, karakter positif dan banyak kondisi-kondisi pendukung lainnya.

Memang, kita akui, sebagian mereka setelah dewasa ternyata menjadi pedagang-pedagang hebat. Tapi, banyak dari kita pun juga yang bisa menjelma menjadi pedagang hebat. Orang-orang keturunan Arab, sebagian adalah pedagang hebat di bidang meubeul. Orang-orang keturunan India sebagian adalah pedagang hebat di bidang tekstil. Jika pun teman-teman kita yang Tionghoa lebih banyak yang jadi pedagang hebat dan sebagian besar orang-orang terkaya di Indonesia adalah orang keturunan Tionghoa, sekali lagi bukanlah karena Tionghoanya, itu pun tidak datang dengan sendirinya.

Tentu ada banyak jawaban untuk menanggapi hal tersebut, silahkan Anda tambahkan sendiri. Setidaknya menurut subyektivitas saya beberapa diantara: Pertama, kenapa sebagian anak-anak keturunan etnis Tionghoa bisa menjadi kaya raya? karena mereka mewarisi bisnis orang tuanya, mulai dari yang trilyunan sampai yang kelas kelontong, yang telah berjalan bertahun-tahun dan tak perlu merintis sebuah bisnis dari nol lagi.

Kedua, leluhur-leluhur mereka yang datang ke Indonesia dan juga yang ada di belahan dunia lainnya adalah orang-orang ‘perantau’ yang menyebrang lautan dan bahkan samudera. Menyitir teori Mestakung (semesta mendukung)-nya, Prof. Yohanes Surya, mereka dalam kondisi yang dipaksa ‘susah’, tapi akibat susah itulah mereka kemudian memiliki kekuatan mental yang terbina dengan baik.

Itu sebabnya mungkin negara-negara maju sebagian besar adalah negara yang berada di dunia belahan Utara. Hanya sedikit yang secara geografis berada di belahan tengah (khatulistiwa) atau selatan.

Orang-orang yang hidup negeri-negeri di belahan utara berada di wilayah dengan 4 musim, untuk sekedar bertahan hidup saja alam mengharuskan mereka berjuang lebih keras dibanding orang yg hidupnya disekitar katulistiwa (saya ingat dengan gambaran ini sedikitnya misalnya bisa dilihat dari Film Oshin).

Disekitar katulistiwa, pohon hijau 365 hari setahun, menghasilkan bermacam macam buah silih berganti. Untuk mendapatkan ikan dari sungai dan laut tidak sesulit ditempat yg sedang mengalami musim dingin. Mudahnya hidup disekitar katulistiwa menyebabkan penghuninya tidak perlu berjuang keras untuk hidup, tidak perlu memikirkan bagaimana menyimpan makanan ketika tanah tertutup es, menyebabkan mereka jadi tidak setangguh orang yg hidup ditempat dengan 4 musim.

Bayangkan, kentang sebagai bahan makanan pokok disana, kalau digali dimusim dingin, sudah menggalinya susah, kentangnya juga sekeras batu! Seharusnya, orang-orang di belahan Khatulistiwa dengan kekayaan alamnya, bisa lebih makmur dari belahan dunia lainnya, tapi lagi-lagi dari belahan lainnya. Tapi lagi-lagi akibat dari karakter yang tak dibina, membuat mereka akhirnya hanya jadi ‘pasar’ untuk negera-negara lainnya.

Ketiga, posisi mereka yang minoritas di Indonesi atau di Negara-negara lainnya di luar China, mampu membangkitkan premordialisme yang tinggi. Ini juga terjadi dengan etnis lainnya. Tak sedikit saat saya berjumpa dengan sesama orang Sunda di daerah lain, perasaan seperti ‘bersaudara’ begitu saja tumbuh. Jika perantau Sunda ini bertemu lagi dengan perantau sunda lainnya, akhirnya primodialisme positif ini membentuk ikatan-ikatan lainnya: saling membantu, saling memberikan akses dan lainnya.

Begitu juga dengan orang-orang Tionghoa di Indonesia, tidak lepas dari kesamaan mereka yang mewarisi tradisi budaya super yaitu Cina. Ini kemudian dikaitkan dengan sifat-sifat tradisi budaya itu untuk bersikap hemat, kerja keras, mengutamakan pendidikan, persatuan dan saling membantu, bahkan ditekankan kembali Confucianisme sebagai etos pengikat orang-orang Tionghoa yang asalnya memang dari Cina.

Mungkin bedanya dengan etnis lainnya yang merantau, orang-orang Tionghoa ikatan primordial mereka lebih terlembagakan. Bahkan tak berlebihan jika kemajuan ekonomi Negara China hari ini juga adalah akibat kontribusi orang-orang China perantauan. Mari kita kutip artikel dari Indonesianvoices.com:

Menurut kajian Sterling, yang dituangkan dalam bukunya ‘Lords of the Rims’, pada tahun 1990 ada 55 juta orang Cina Perantauan atau “China Overseas”. Mereka umumnya berasal dari Cina Selatan (pesisir). Jumlah mereka ini hanya 4 persen dari total bangsa Cina Daratan 1,2 milyar. Namun jika seluruh kekuatan ekonominya digabung dengan lintas batas-batas negara, maka seluruh nilai kekayaan Cina Perantauan berjumlah AS $ 450 milyar. Angka ini adalah 35 persen lebih besar dari jumlah GNP negeri Cina tahun 1990!

Para taipan bisnis Cina Perantauan berandil besar membentuk semacam kongsi bisnis yang melewati batas-batas negara namun saling menjalin usaha bisnis yang saling menyokong antar sesamanya. Jalinan sistem finansial kaum Cina Perantauan ini terbentang di pusat-pusat keuangan dunia di seputar wilayah Samudera Pasifik mulai dari Vancouver Canada, Los Angeles USA, Hong Kong, Taipei, Singapore sampai dengan negara ASEAN termasuk Indonesia.Sederetan nama tersohor di antara pebisnis kaya raya seperti Li Ka Shing di Hongkong dan Lim Soei Liong di Indonesia sempat pernah menjadi peringkat atas orang terkaya tidak hanya di Asia Pasifik namun di dunia pada dekade 1990-an.

Sekali lagi, bedanya dengan etnis lainnya, ikatan primordial orang Tionghoa ini lebih terlembagakan. Misalnya pada Agustus 1991 Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew pernahh mengadakan Konvensi Cina Sedunia di Singapura untuk mengumpulkan pengusaha-pengusaha Cina Perantauan dari seluruh dunia. Konvensi ini dihadiri 800 pengusaha besar Cina yang datang dari 30 negara termasuk dari Indonesia.

Konvensi ini bertujuan untuk “membentuk jaringan kerja sama ekonomi masyarakat bisnis internasional Cina untuk memanfaatkan berbagai peluang bisnis”.Pertemuan ini mampu membangkitkan premordialisme para pengusaha Cina bahwa keberhasilan mereka dalam bidang ekonomi tidak lepas dari kesamaan mereka yang mewarisi tradisi budaya super yaitu Cina.

Konvensi ini kemudian disusul dengan konvensi serupa yang diadakan di Hongkong pada bulan November 1993 yang dihadiri 1000 pengusaha besar Cina dari seluruh dunia. Indonesia diwakili 40 konglomerat non-keturunan Cina. Jauh sebelum itu, pemerintah Cina pada tahun 1949 mendirikan Departemen Komisi Tionghoa Perantauan dan memberikan 30 kursi di Kongres Rakyat Cina untuk wakil-wakil Tionghoa Perantauan termasuk wakil-wakil dari Indonesia. (Baca lebih lengkap di sini:http://indonesianvoices.com/index.php?option=com_content&view=article&id=10 6:mengapa-para-touke-china-sukses-berdagang-di-berbagai-penjuru-dunia&catid=1:latest-news&Itemid=50).

Orang-orang Tionghoa kebanyakan di Indonesia mungkin juga tak memahami hal ini. Tetapi, bahwa ikatan primordial mereka tak sengaja kemudian menjadi salah satu ‘kekuatan’ mereka, bagi saya benar adanya. Tapi sekali lagi, bukan karena Tionghoanya, tetapi karena memang sesuatu yang wajar saja saat kita di perantauan lalu bertemu dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang sama kemudian terjadi hubungan dan ikatan lebih sesamanya. Seperti orang-orang keturunan Yahudi di banyak belahan dunia yang membentuk banyak jaringan internasional untuk menyokong Negara mereka. Pertanyaannya, kenapa kita tidak mengikutinya? Silahkan Anda cari sendiri jawabannya.
Keempat, mereka dan anak-anaknya mereka latih untuk berinvestasi dan bisnis (dagang) dari kecil. Ini juga sebenarnya ‘dipaksa’ oleh kondisi. Waktu jaman Orde Baru, karena ketakutan terhadap ideologi komunis (China), pemerintah yang didukung oleh negara-negara Barat (ideologi kaplitas) kemudian dan membuat aturan-aturan yang cenderung diskriminatif terhadap orang-orang Tionghoa. Coba berapa banyak dari orang Tionghoa di Indonesia yang menjadi PNS? Lurah? Camat? Tertutup sudah!

Tetapi ini justru menjadi kekuatan tersembunyi yang positif buat mereka. Akibatnya, orangtua-orangtua etnis Tionghoa dari kecil benar-benar mendidik anak-anaknya untuk menjadi pedagang karena itu satu-satunya pilihan baik. Jadi PNS tidak bisa, jadi tentara tidak bisa ya jadi pedagang!

Saya masih ingat dengan sebuah cerita dari orangtua saya, jika orang Tionghoa punya toko, kasarnya, jika si empunya mau barang di toko dia pun harus membelinya atau setidaknya mencatatnya. Tidak sembarangan seperti orang kita yang punya warung yang seenaknya main ambil.

Orangtua-orangtua ini menempa anaknya dari kecil dengan ketekunan, kerja keras dan juga dari segi keuangan gemar menyimpang uang (untuk kemudian investasi). Saya terbengong-bengong saat saya punya adik kelas SMA, yang orang keturunan Tionghoa, punya banyak rekening di Bank dan dia hapal di luar kepala nomor rekeningnya.

Atau saya juga masih ingat dengan sebuah cerita di sebuah tempat di Senen, Jakarta. Ada orang Tionghoa punya toko kain. Di sebelahnya persis ada pak Haji yg juga buka toko kain. Setelah dua tahun, bisnis si Tionghoa makin maju, dan si pak Haji sebelah akhirnya bangkrut.

Ternyata bukan karena si Tionghoa main curang atau guna-guna si pak haji. Ternyata itu karena yang Tionghoa, walaupun sudah untung, uangnya di simpan dan ditabung saja, untuk mengembangkan bisnisnya lagi. Dan dia dan istrinya makan telor ceplok saja Sedangkan si pak haji baru untung sedikit sudah makan besar di restoran karena gengsi sama keluarga nya.

Silahkan diambil pelajaran baik dari teman-teman kita yang Tionghoa ini. Anda sendiri yang akan mengambil kesimpulan. Jadi apa yang bisa kita terapkan untuk anak-anak kita?

Kamis, 03 Juni 2010

Demi Palestin Sultan Abdul Hamid II mengorbankan semuanya....

“Anakku, ayah melihat orang-orang di sini sudah mulai memuji paras cantikmu. Maka mulai hari ini ayah ingin kamu sudah mengenakan hijab dengan sempurna, karena kamu sudah menjadi wanita dewasa sekarang.” Untaian kata penuh kasih sayang itu dituturkan dengan suara lembut oleh Sultan Abdul Hamid II kepada anaknya Aishah saat mereka tengah melintas di depan Masjid Hamidiye Yildiz yang terletak tidak jauh dari pintu masuk istananya.

Di depan masjid ini, terlalu banyak kisah yang memilukan hati menimpa diri dan keluarga Sultan. Percobaan pembunuhan dengan meletakkan bom di dalam kereta kuda Sultan. Pengeboman itu terjadi berselang beberapa saat usai shalat Jumat. Allah masih menghendaki Sultan Abdul Hamid tetap bertakhta memimpin umat. Upaya menghabisi nyawa orang nomor satu di dunia Islam itu kandas.
Di depan istana ini, Sultan sering melaksanakan shalat dan keluar menyapa rakyat yang selalu dekat di hatinya.

Di situ juga, Sultan sesekali menunggang kuda ditemani anaknya Aishah, sambil menitahkan arti penting menegakkan syariah bagi muslimah. Sejak saat itu anaknya mutahajibah (berhijab) sempurna, ini menandakan putrinya Aishah Osmanoğlu telah memasuki usia aqil baligh.

Istana Yildiz yang terbuat dari kayu ini adalah tempat tinggal pilihan Sultan Abdul Hamid II, setelah beliau meninggalkan segala bentuk kemewahan kaum keluarganya yang sebelum ini di Istana Dolmabahçe.

Sultan Abdul Hamid II, lahir pada hari Rabu, 21 September 1842. Dengan nama lengkap Abdul Hamid Khan II bin Abdul Majid Khan. Sultan adalah putra Abdul Majid dari istri kedua beliau. Ibunya meninggal saat Abdul Hamid berusia 7 tahun. Sultan menguasai bahasa Turki, Arab, dan Persia. Senang membaca dan bersyair.

Sebelumnya kekhalifahan dipimpim pamannya yaitu Abdul Aziz yang berkuasa cukup lama. Sultan Abdul Aziz digulingkan kemudian dibunuh oleh musuh politik Khilafah Utsmaniyyah. Khalifah setelah Abdul Aziz adalah Sultan Murad V, putra Abdul Aziz. Namun kekuasaannya tidak berlangsung lama dan digulingkan setelah 93 hari berkuasa karena dianggap tidak becus menjadi khalifah.

Sultan Abdul Aziz mewariskan negara dalam kondisi yang carut marut. Tunggakkan hutang luar negeri, parlemen yang mandul, campur tangan asing di dalam negeri, tarik menarik antar berbagai kepentingan Dewan Negara dan Dewan Menteri serta birokrat-birokrat yang korup.

Pada 41 Agustus 1876 (1293 H), Sultan Abdul Hamid dibai’at sebagai Khalifah. Saat itu usianya 34 tahun. Dia menyadari bahwa pembunuhan pamannya serta perubahan-perubahan kekuasaan yang terjadi saat itu merupakan konspirasi global melawan Khilafah Islamiyah. Namun Sultan Abdul Hamid II dapat menjalankan roda pemerintahannya dengan baik, sering berbicara dengan berbagai lapisan masyarakat, baik birokrat, intelektual, rakyat jelata maupun dari kelompok-kelompok yang kurang disukainya (lihat Shaw, 1977:212).

Kebijaksanaannya untuk mengayomi seluruh kaum Muslimin membuat ia populer. Namanya sering disebut dalam doa-doa di setiap shalat jumat diseantero bumi. Penggalangan kekuatan kaum Muslimin dan kesetiaan mereka terhadap Sultan Abdul Hamid II ini berhasil mengurangi tekanan Eropa terhadap Utsmaniyyah.

Abdul Hamid mengemban amanah dengan memimpin sebuah negara adidaya yang luasnya membentang dari timur dan barat. Di tengah situasi negara yang genting dan kritis. Beliau menghabiskan 30 tahun kekuasaan sebagai Khalifah dengan dikelilingi konspirasi, intrik, fitnah dari dalam negeri sementara dari luar negeri ada perang, revolusi, dan ancaman disintegrasi dan tuntutan berbagai perubahan yang senantiasa terjadi.

Termasuk upaya-upaya sistematis yang dilakukan kaum Yahudi untuk mendapatkan tempat tinggal permanen di tanah Palestina yang masih menjadi bagian dari wilayah kekhalifahan Utsmaniyyah. Berbagai langkah dan strategi dilancarkan oleh kaum Yahudi untuk menembus dinding khilafah Utsmaniyyah, agar mereka dapat memasuki Palestina.

Pertama, pada tahun 1892, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan kepada sultan Abdul Hamid, untuk mendapatkan ijin tinggal di Palestina. Permohonan itu dijawab sultan dengan ucapan “Pemerintan Ustmaniyyah memberitahukan kepada segenap kaum Yahudi yang ingin hijrah ke Turki, bahwa mereka tidak akan diijinkan menetap di Palestina”, mendengar jawaban seperti itu kaum Yahudi terpukul berat, sehingga duta besar Amerika turut campur tangan.

Kedua, Theodor Hertzl, penulis Der Judenstaat (Negara Yahudi), founder negara Israel sekarang, pada tahun 1896 memberanikan diri menemuai Sultan Abdul Hamid sambil meminta ijin mendirikan gedung di al Quds. Permohonan itu dijawab sultan “Sesungguhnya imperium Utsmani ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri”.

Melihat keteguhan Sultan, mereka kemudian membuat strategi ketiga, yaitu melakukan konferensi Basel di Swiss, pada 29-31 agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan Khilafah Ustmaniyyah.

Karena gencarnya aktivitas Yahudi Zionis akhirnya Sultan pada tahun 1900 mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi di Palestina untuk tinggal disana lebih dari tiga bulan, paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas khilafah terkait. Dan pada tahun 1901 Sultan mengeluarkan keputusan mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina.

Pada tahun 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap Sultan Abdul Hamid untuk melakukan risywah (Menyogok). Diantara risywah yang disodorkan Hertzl kepada Sultan adalah :

1. 150 juta poundsterling Inggris khusus untuk Sultan.

2. Membayar semua hutang pemerintah Ustmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling Inggris.

3. Membangun kapal induk untuk pemerintah, dengan biaya 120 juta Frank

4. Memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga.

5. Membangun Universitas Ustmaniyyah di Palestina.

Semuanya ditolak Sultan, bahkan Sultan tidak mau menemui Hertzl, diwakilkan kepada Tahsin Basya, perdana menterinya, sambil mengirim pesan,

“Nasihati Mr Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silakan menyimpan harta mereka!! Jika Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari, maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.”

Sejak saat itu kaum Yahudi dengan Zionisme melancarkan gerakan untuk menumbangkan Sultan. Dengan menggunakan jargon-jargon “liberation”, “freedom”, dan sebagainya, mereka menyebut pemerintahan Abdul Hamid II sebagai “Hamidian Absolutism”, dan sebagainya.

“Sesungguhnya aku tahu, bahwa nasibku semakin terancam. Aku dapat saja hijrah ke Eropa untuk menyelamatkan diri. Tetapi untuk apa? Aku adalah Khalifah yang bertanggungjawab atas umat ini. Tempatku adalah di sini. Di Istanbul!” Tulis Sultan Abdul Hamid dalam catatan hariannya.

Malam itu, 27 April 1909 Sultan Abdul Hamid dan keluarganya kedatangan beberapa orang tamu tak diundang. Kedatangan mereka ke Istana Yildiz menjadi catatan sejarah yang tidak akan pernah terlupakan. Mereka mengatasnamakan perwakilan 240 anggota Parlemen Utsmaniyyah—di bawah tekanan dari Turki Muda—yang setuju penggulingan Abdul Hamid II dari kekuasaannya. Senator Sheikh Hamdi Afandi Mali mengeluarkan fatwa tentang penggulingan tersebut, dan akhirnya disetujui oleh anggota senat yang lain. Fatwa tersebut terlihat sangat aneh dan setiap orang pasti mengetahui track record perjuangan Abdul Hamid II bahwa fatwa tersebut bertentangan dengan realitas di lapangan.

Keempat utusan itu adalah Emmanuel Carasso, seorang Yahudi warga Italia dan wakil rakyat Salonika (Thessaloniki) di Parlemen Utsmaniyyah (Meclis-i Mebusan) melangkah masuk ke istana Yildiz. Turut bersamanya adalah Aram Efendi, wakil rakyat Armenia, Laz Arif Hikmet Pasha, anggota Dewan Senat yang juga panglima militer Utsmaniyyah, serta Arnavut Esat Toptani, wakil rakyat daerah Daraj di Meclis-i Mebusan.

“Bukankah jam-jam seperti ini adalah waktu dimana aku harus menunaikan kewajibanku terhadap keluarga. Tidak bisakah kalian bicarakan masalah ini besok pagi?” Sultan Abdul Hamid tidak leluasa menerima kedatangan mereka yang kelihatannya begitu tiba-tiba dan mendesak. Tidak ada simpati di raut wajah mereka.

“Negara telah memecat Anda!” Esat Pasha memberitahu kedatangannya dengan nada angkuh. Kemudian satu persatu wajah anggota rombongan itu diperhatikan dengan seksama oleh Sultan.
“Negara telah memecatku, itu tidak masalah,…. tapi kenapa kalian membawa serta Yahudi ini masuk ke tempatku?” Spontan Sultan marah besar sambil menundingkan jarinya kepada Emmanuel Carasso.
Sultan Abdul Hamid memang kenal benar siapa Emmanuel Carasso itu. Dialah yang bersekongkol bersama Theodor Herzl ketika ingin mendapatkan izin menempatkan Yahudi di Palestina. Mereka menawarkan pembelian ladang milik Sultan Abdul Hamid di Sancak Palestina sebagai tempat pemukiman Yahudi di Tanah Suci itu. Sultan Abdul Hamid menolaknya dengan tegas, termasuk alternatif mereka yang mau menyewa tanah itu selama 99 tahun.

Pendirian tegas Sultan Abdul Hamid untuk tidak mengizinkan Yahudi bermukim di Palestina, telah menyebabkan Yahudi sedunia mengamuk. Harganya terlalu mahal. Sultan Abdul Hamid kehilangan takhta, dan Khilafah disembelih agar tamat riwayatnya.

Jelas terlihat bahwa saat tersebut adalah saat pembalasan paling dinanti oleh Yahudi, dimana Abdul Hamid II yang telah menolak menjual Palestina pada mereka, telah mereka tunjukkan di depan muka Abdul Hamid II sendiri bahwa mereka turut ambil bagian dalam penggulingannya dari kekuasaan. Mendung menggelayuti wajah Abdul Hamid II dan wajah Khilafah Islamiyah.

“Sesungguhnya aku sendiri tidak tahu, siapakah sebenarnya yang memilih mereka ini untuk menyampaikan berita penggulinganku malam itu.” Sultan Abdul Hamid meluapkan derita hatinya di dalam catatan hariannya.

Rencana menggulingkan Sultan sebenarnya sudah disiapkan lama sebelum malam itu. Beberapa Jumat belakangan ini, nama Sultan sudah tidak disebut lagi di dalam khutbah-khutbah.

“Walaupun Anda dipecat, kelangsungan hidup Anda berada dalam jaminan kami.” Esat Pasha menyambung pembicaraan.

Sultan Abdul Hamid memandang wajah puteranya Abdul Rahim, serta puterinya yang terpaksa menyaksikan pengkhianatan terhadap dirinya. Malang sungguh anak-anak ini terpaksa menyaksikan kejadian yang memilukan malam itu.

“Bawa adik-adikmu ke dalam.” Sultan Abdul Hamid menyuruhh Amir Abdul Rahim membawa adik-adiknya ke dalam kamar.

“Aku tidak membantah keputusanmu. Cuma satu hal yang kuharapkan. Izinkanlah aku bersama keluargaku tinggal di istana Caragan. Anak-anakku banyak. Mereka masih kecil dan aku sebagai ayah perlu menyekolahkan mereka.” Sultan Abdul Hamid meminta pertimbangan. Sultan sadar akan tidak ada gunanya membantah keputusan yang dibawa rombongan itu. Itulah kerisauan terakhir Sultan Abdul Hamid. Membayangkan masa depan anak-anaknya yang banyak. Sembilan laki-laki dan tujuh perempuan.

Permintaan Sultan Abdul Hamid ditolak mentah-mentah oleh keempat orang itu. Malam itu juga, Sultan bersama para anggota keluarganya dengan hanya mengenakan pakaian yang menempel di badan diangkut di tengah gelap gulita menuju ke Stasiun kereta api Sirkeci. Mereka digusur pergi meninggalkan bumi Khilafah, ke istana kumuh milik Yahudi di Salonika, tempat pengasingan negara sebelum seluruh khalifah dimusnahkan di tangan musuh Allah.

Khalifah terakhir umat Islam, dan keluarganya itu dibuang ke Salonika, Yunani. Angin lesu bertiup bersama gerimis salju di malam itu. Pohon-pohon yang tinggal rangka, seakan turut sedih mengiringi tragedi memilukan itu.

Di Eminonu, terlihat Galata di seberang teluk sedih. Bukit itu pernah menyaksikan kegemilangan Sultan Muhammad al-Fatih dan tentaranya yang telah menarik 70 kapal menyeberangi bukit itu dalam tempo satu malam. Mereka menerobos teluk Bosphorus yang telah dirantai pintu masuknya oleh Kaisar Constantinople. Sejarah itu sejarah gemilang. Tak akan pernah hilang.

Terhadap peristiwa pemecatannya, Sultan Abdul Hamid II mengungkap kegundahan hatinya yang dituangkan dalam surat kepada salah seorang gurunya Syekh Mahmud Abu Shamad yang berbunyi :

“…Saya meninggalkan kekhalifahan bukan karena suatu sebab tertentu, melainkan karena tipu daya dengan berbagai tekanan dan ancaman dari para tokoh Organisasi Persatuan yang dikenal dengan sebutan Cun Turk (Jeune Turk), sehingga dengan berat hati dan terpaksa saya meninggalkan kekhalifahan itu. Sebelumnya, organisasi ini telah mendesak saya berulang-ulang agar menyetujui dibentuknya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. Saya tetap tidak menyetujui permohonan beruntun dan bertubi-tubi yang memalukan ini. Akhirnya mereka menjanjikan uang sebesar 150 juta pounsterling emas.

Saya tetap dengan tegas menolak tawaran itu. Saya menjawab dengan mengatakan, “Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu. Tiga puluh tahun lebih aku hidup mengabdi kepada kaum Muslimin dan kepada Islam itu sendiri. Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah Islam yang telah dirintis oleh nenek moyangku, para Sultan dan Khalifah Uthmaniah. Sekali lagi aku tidak akan menerima tawaran kalian.”

Setelah mendengar dan mengetahui sikap dari jawaban saya itu, mereka dengan kekuatan gerakan rahasianya memaksa saya menanggalkan kekhalifahan, dan mengancam akan mengasingkan saya di Salonika. Maka terpaksa saya menerima keputusan itu daripada menyetujui permintaan mereka.

Saya banyak bersyukur kepada Allah, karena saya menolak untuk mencoreng Daulah Uthmaniah, dan dunia Islam pada umumnya dengan noda abadi yang diakibatkan oleh berdirinya negeri Yahudi di tanah Palestina. Biarlah semua berlalu. Saya tidak bosan-bosan mengulang rasa syukur kepada Allah Ta’ala, yang telah menyelamatkan kita dari aib besar itu.

Saya rasa cukup di sini apa yang perlu saya sampaikan dan sudilah Anda dan segenap ikhwan menerima salam hormat saya. Guruku yang mulia. mungkin sudah terlalu banyak yang saya sampaikan. Harapan saya, semoga Anda beserta jama’ah yang anda bina bisa memaklumi semua itu.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

22 September 1909

ttd

Pelayan Kaum Muslimin
(Abdul Hamid bin Abdul Majid)