Selasa, 17 Mei 2011

Zainab al ghazali

Nama lengkapnya adalah Zaenab Muhammad Al-Ghazali al-Jibili. la lahir pada tahun 1917 Masehi di desa Mayyet Ghamar di sebuah propinsi yang bernama Daqahliyah di Mesir. Ayahnya merupakan salah satu ulama Al-Azhar. la belajar di sebuah madrasah di kampung halamannya sendiri. la belajar ilmu-ilmu agama di bawah asuhan para ulama-ulama besar al Azhar. Di antara ilmu-ilmu yang ia pelajari adalah Ilmu Hadits, Tafsir, dan Fiqih.
la merupakan anggota termuda dari perkumpulan wanita-wanita Mesir di bawah pimpinan Hadi Sya’rawi. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari perkumpulan tersebut di saat mengetahui adanya perilaku-perilaku yang tak selaras dengan ajaran Islam. Ia kemudian mendirikan komunitas wanita-wanita muslim pada tahun 1937 di Kairo. Umurnya pada saat itu masih sekitar 19 tahun.
Adapun tujuan mendirikan komunitas itu agar diterapkannya syariat Islam dan didirikannya kekhalifahan Islam. Pada tiap-tiap tahunnya ia selalu mengirim 340-400 delegasi untuk melakukan ibadah Haji. la sendiri yang memimpin delegasi-delegasi itu.
Tujuan pengiriman delegasi-delegasi itu adalah untuk menemui sejumlah jamaah haji yang berasal dari penjuru dunia. Delegasi-delegasi itu selalu membahas masalah-masalah pokok dalam Islam dengan para jamaah haji tersebut. Isu-isu yang selalu mereka kembangkan adalah seputar perbaikan umat Islam, mengembalikan kembali kekhalifahan Islam, dan sekaligus bagaimana membangkitkan kembali masa keemasan Islam.
la bertemu dengan imam Syahid Hasan Al-Banna pada tahun 1941 Masehi. Hasan Al-Banna membaiat Zaenab untuk turut serta melakukan perjuangan bersama Ikhwanul Muslimin. Sebab, tujuan dan landasan perjuangan mereka adalah sama. Dan pada tahun 1980, ia mendirikan majalah perkumpulan wanita-wanita muslim (Sayyidah Muslimah), dan dibubarkan pada tahun 1985. la juga memimpin salah satu divisi yang ada dalam organisasi Ikhwanul Muslimin. la serta merta membantu keluarga Ikhwanul Muslimin di saat kelompok ini diintimidasi oleh pemerintah pada tahun 1954. Dan pada tahun 1964, perkumpulannya tersebut dibubarkan oleh tentara dengan menyita harta dan kepemilikan mereka.
Pada tahun 1965, ia ditangkap oleh pemerintah dengan tuduhan terlibat dalam sebuah kasus yang ada pada Ikhwanul Muslimin di saat bersitegang dengan pemerintah. Pemerintah menuntut kepada parlemen menjatuhi hukuman mati kepada Zaenab. la sebelum dipastikan sebagai tawanan perang, telah menerima berbagai macam siksaan di penjara.
la akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama 25 tahun, dan diharuskan melakukan kerja berat selama menjalani masa hukuman. la menulis kesengsaraannya itu dalam sebuah buku yang berjudul “Ayyam min Hayyati” (hari-hari dalam kehidupanku).
Zainab Al Ghazali (inet)
Melalui bantuan raja Faisal dari Arab Saudi, sekitar pada tahun tujuh puluhan, keluarlah ketetapan dari pemerintahan Anwar Sadat untuk membebaskan Zaenab dari penjara. la telah diampuni oleh pemerintah atas segala perbuatannya yang dianggap merugikan negara. Ini terjadi pada bulan Agustus tahun 1971, yaitu setelah menjalani masa-masa di penjara selama 6 tahun.
Setelah keluar dari penjara, ia dianjurkan untuk menghidupkan kembali majalah Sayyidat Muslimah dengan menjadikan dirinya sebagai direkturnya. la akan menerima kucuran dana sebanyak 300 Pounds perbulan, dengan catatan harus bersedia mengusung kepentingan-kepentingan pihak donatur. la serentak menolak, dan mengatakan bahwa mustahil baginya mendirikan sebuah penerbitan untuk mengusung pemikiran-pemikiran sekuler. la mengatakan pula bahwa penerbitan ini didirikan untuk kepentingan Islam dan bukan untuk kesesatan.
Setelah keluar dari penjara ia ingin meneruskan perannya dalam bidang dakwah. la melalui melakukan pengajian-pengajian dan seminar-seminar di Mesir sendiri maupun di luarnya.
Adapun negara-negara yang pernah ia kunjungi adalah Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, Al-Jazair, Turki, Sudan, India, Francis, Amerika, Kanada, Spanyol, dan lain sebagainya.
Suaminya yang berperan sebagai seorang ekonom yang bernama Haji Muhammad Salim meninggal dunia pada tahun 1966 Masehi. Yaitu di saat Zaenab masih berada di dalam penjara. la tak dikaruniai seorang anak pun. Namun, ia menganggap bahwa semua anak-anak Islam merupakan anak-anaknya juga.
la sangat memfigurkan seorang Hasan al Banna. la menganggap bahwa di antara orang-orang yang telah mempengaruhi kehidupannya, semisal Hasan Al-Hudhaibi, Umar  Tilmisani, Hamid Abu Nasir, dan Hasan Al-Banna lah yang paling banyak berpengaruh pada pembentukan jiwa dan sikap hidupnya. Di antara karya-karya tulisnya yang terkenal adalah “Ayyam min Khayati”, Nahwa Ba ‘su Jadid, Maa Kitabullah, Muskilatu Sabab wa Fatayat.”
disadur dari www.dakwatuna.com 

Selasa, 28 Desember 2010

Masalah Umum Anak di prasekolah

Selama masa awal sekolah, anak menghadapi lingkungan sosial baru dan sejumlah tantangan sosial yang berbeda dengan yang ia alami sebelum itu. Di rumah biasanya ia berada dalam suasana yang mengandaikan bahwa ia pasti dianggap sebagai anggota dan diterima oleh kelompok tersebut. Ini memberinya rasa aman yang wajar. Di rumah tentu saja ia masih harus menyesuaikan diri dengan orang tua, kakak serta adiknya. Tetapi keadaan di rumah lain dengan tantangan dan interaksi yang dihadapinya sewaktu berhubungan dengan 25 atau 30 teman kelas. Karena kondisi baru ini, perbedaan yang berkaitan dengan jenis kelamin dan umur akan diperjelas dan beberapa masalah akan timbul dalam kehidupan anak.

Perbedaan di kalangan anak yang mulai sekolah

Perbedaan jenis kelamin

Pada waktu mulai bersekolah anak perempuan tampak lebih matang daripada anak lelaki – dan memang demikianlah adanya karena selama masa ini mereka lebih cepat matang. Secara jasmaniah dan emosional anak perempuan lebih cepat mapan dan lebih siap mengerjakan tugas-tugas simbolik dan abstrak.

Sinta dapat menulis namanya dengan huruf cetak secara benar ketika masuk taman kanak-kanak. Azis yang mungkin sebaya hanya mengenal huruf pertama namanya. Ini tak berarti bahwa Sinta lebih cerdas daripada Azis. Ini semata-mata berarti bahwa seseorang menyempatkan diri untuk mengajar Sinta dan bahwa Sinta mungkin ingin sekali belajar. Sebaliknya, Azis mungkin mengetahui banyak hal lain. Teman-teman yang sekelas yang dapat menulis namanya dan guru yang suka membantu dapat mendorongnya belajar. Ia pun akan terdorong untuk berbagi pengetahuan dengan anak lain.

Anak lelaki memang mempunyai rasa ingin tahu intelektual yang besar, namun mereka sering kali lebih memusatkannya pada bidang jasmani, biologi dan mekanika. Mereka senang membongkar barang – seperti misalnya lampu senter, jam atau radio tua – untuk mengetahui bagian dalam serta cara kerjanya. Mereka menemukan dan menyelidiki apa saja dengan cara merombak. Besar kemungkinannya bahwa mereka akan berjalan dengan kaki basah di dapur dan bertanya, “Ke mana air mengalir setelah masuk pipa saluran?”

Ini tidak berarti bahwa anak perempuan setelahnya tidak menunjukkan minat semacam itu. Banyak yang demikian. Dan banyak pula anak perempuan yang menjadi ilmuwati.


Perbedaan umur

Betapa pun cerdasnya seorang anak, akan berbeda sekali bila umurnya kurang dari lima atau hampir enam tahun ketika masuk taman kanak-kanak. Anak yang lebih muda kurang matang dan kurang berpengalaman jika dibandingkan dengan teman kelasnya. Maka sering kali keadaannya kurang menguntungkan pada hari pertama masuk sekolah.

Sebagai misal, tanggal 1 Juli adalah tanggal terakhir penerimaan murid di sebuah sekolah. Ini berarti bahwa anak yang berumur lima tahun pada tanggal 2 Juli tahun lalu duduk di kelas yang sama dengan anak  yang berumur lima tahun pada tanggal 1 Juli tahun itu. Anak yang masuk taman kanak-kanak pada umur 69 bulan jelas lebih beruntung daripada temannya yang berumur 57 bulan. Anak yang besar lebih selaras, lebih mampu menguasai dorongan hati dan lebih mampu memusatkan perhatian pada tugas belajar. Jika anak yang muda itu lelaki, ia mungkin jauh lebih sulit bersaing dengan teman-temannya di kelas.

Bagaimanapun kemampuan intelektualnya, banyak anak taman kanak-kanak tidak dapat menjembatani kesenjangan kematangan umur mereka dengan teman-teman satu kelas yang lebih tua dan lebih matang. Mereka pun tak dapat menyesuaikan diri dengan jadwal belajar yang berlaku di kebanyakan sekolah. Meskipun guru dapat membantu anak yang paling muda dan paling belum matang, bantuan itu mungkin hanya bersifat sementara. Ujian sebenarnya ditemukan di kelas satu ketika kebanyakan sekolah menuntut anak belajar membaca. Seorang anak lelaki dengan sedih berkata, “Perutku selalu sakit sebelum ke sekolah. Tetapi aku berangkat juga. Perutku tambah sakit karena aku tak dapat mengikuti pelajaran. Dan semua orang tahu kalau aku tak dapat mengikutinya. Sungguh tidak menyenangkan.”

Guru sering kali sudah dapat menduga masalah ini. Ia meminta agar anak itu mengulang di taman kanak-kanak atau kelas lain supaya dapat “mengejar” teman-temannya yang lebih tua. Sayangnya, banyak orang tua yang sepakat dengan saran guru tersebut tetap juga menuntut agar anaknya dinaikkan kelas. (Minne P. Berson, Ed D.| Yuk-Jadi Orangtua Shalih)