Kamis, 09 Juni 2011

sungguh semua anak mau belajar

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
email. inspirasipspa@yahoo.com

Asal metodenya tepat, ketahuilah semua anak mau belajar. Sebagian orangtua mengatakan anaknya begitu malas sekali untuk membuka buku pelajaran. Harus disuruh-suruh terus mengerjakan PR jika ada PR. Seperti cerita berikut ini:

"Assalamu'alaikum. Abah saya mau tanya, putra saya yg pertama sekarang sudah kelas 3, tapi sejak beberapa bulan ini kadang-kadang mulai agak malas untuk belajar, harus diingatkan dulu kecuali kalau ada PR. Apa saya yang salah mendidiknya? Menurut Abah bagamana caranya supaya anak mau belajar tanpa disuruh?  Terima kasih Abah."

Anak yang malas ngerjain PR belum tentu malas belajar. PR itu sendiri sebenarnya tidak tepat diberikan anak-anak kelas 1-3 karena konsep berpikir mereka yang masih ekploratif bukan akademik. Fase kelas 1-3  fase transisi. Coba tanya pada diri kita sendiri, apakah waktu kita sekolah dulu menyukai PR? berapa banyak dari kita yang senang jika dikasi PR? Senang loh ya bukan rajin mengerjakan PR? Adakah diantara kita yang mengharapkan dikasi PR?  Adakah diantara kita yang hobby mengerjakan PR.

Sebagian kita memang ada yang dari kecil rajin mengerjakan PR. Tapi rajin mengerjakan PR bukan berarti kita begitu menyenanginya bukan?

Karena itu mari paradigmanya kita rubah. Semua anak mau belajar asal diberikan metode yang tepat. UNDANG ANAK BELAJAR, bukan SURUH ANAK BELAJAR!

Tidak bisa dipungkiri, ada anak istimewa yang mau belajar sendiri meski tak disuruh. Tetapi meski mereka mau belajar sendiri tanpa diminta orangtuanya sekalipun, yang ideal semua anak SD saat belajar itu sebenarnya ditemani, dibimbing, bukan disuruh-suruh. Inilah fungsi kita sebagai orangtua. Mencari nafkah bagi abah adalah kewajiban. Tapi mencari nafkah tidak menggugurkan kewajiban abah yang lain ketika punya anak: mendidik anak!

Karena itu meski mungkin kadang lelah setelah seharian bekerja. Menyempatkan waktu untuk menemani dan membimbing anak belajar juga tak boleh dilepaskan.

Sebenarnya anak-anak itu secara alamiah senang belajar. Dan jika metodenya tepat, bahkan yang bergembira dengan belajar, bukan hanya anak, tapi abah yang menemaninya pun mendapatkan banyak kegembiraan.

Misalnya, saat hari ini anak abah yang kelas 2 SD (salma) belajar tentang AIR (sains). Worksheet (buku pelajaran anak) anak abah bisa jadi bahan seru untuk belajar.

Abah mulai dari bercerita tentang air. Kita boleh namakan air itu dengan sebutan Ara, Aira, Al-Water. Sebut saja, "ada setetes air bernama al-water."

"Ia kadang diam, kadang bergerak! Saat di danau dan kolam, al-water senangnya diam. Tapi saat di sungai al water senangnnya bergerak."

"Awal water klo bergerak senangnya itu bergerak (mengalir) dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah!"

"Menurut kamu, bisakah al water bergerak dari tempat yang rendah ke tinggi?"

Dan seterusnya, bahkan saat semalam belajar ini, subuh tadi salma meminta lagi untuk belajar. Ia benar-benar ketagihan belajar! karena ini membuatnya PENASARAN! membuatnya ingin tahu lebih banyak!

Apalagi ketika abah memperlihatkan percobaan dengan gelas tentang sifat-sifat air, memperlihatkan bola dunia yang ternyata bagian air jauh lebih banyak darpada bagian daratan dst.

JAdi, tak ada lagi istilah anak tidak senang belajar! Apalagi divonis malas belajar! yang ada adalah orangtua ynag hanya nyuruh-nyuruh belajar! Tapi tidak mendampingi belajar!

Tak ada lagi anak yang ogah-ogahan belajar, yang ada adalah kita yang menggunakan metode belajar 'akademik' yang sesuai dengan otak dewasa , dipaksakan dengan otak anak-anak.

Apakah harus ditemani terus belajar?! Tidak! Tapi fase SD adalah fase untuk anak pengenalan belajar akdemik. Fase ini adalah fase dimana anak dilatih untuk menyukai belajar akdemik. Insya Allah pada waktunya nanti (mulai SMP) anak-anak karena sudah terlatih tidak usah lagi ditemani pun sudah terlatih bagaimana menggali bahan ajar sehingga menarik minat dia terus bereksplorasi.

Selasa, 17 Mei 2011

Warisan Kartini

Alhamdulillah bisa nulis lagi, walaupun mungkin temanya udah basi kali yee, maklum dah masuk bulan mei, cuman sayang kalo ide kecil ini terbuang percuma nggak menjadi jejak-jejak sejarah. Awalnya dari jadi moderator di acara seminar memperingati hari kartini, idenya muncul untuk menulis rekaman materi dan diskusi yang terjadi pada saat seminar tersebut, kemudian baca sana, sini lalu  muncullah ide ini
.Kartini,  siapa sih orang Indonesia yang tdk mengenalnya, ketenarannya bahkan melebihi para pahlawan perempuan lainnya seperti cut nyak dien dan  dewi sartika, bahkan anak kecil seperti anakku pun mengenalnya lewat lagu. Bisa jadi faktor  lagu inilah yang turut andil mempepolerkan Kartini
Menyebut Kartini kadang dinterpretasikan dengan kain kebaya, konde dan emansipasi. Bahkan kadang-kadang menurut saya banyak orang memanfaatkan nama Kartini sesuai dengan kepentingannya masing-masing (egois ya) Jika dia ingin diakui keberadaannya sebagai perempuan bekerja mengatakan khan Kartini menyelamatkan kaum perempuan sehingga tidak hanya mengurusi dapur,kasur dan sumur saja atau ada yang mengatakan kita tak butuh laki-laki dech dalam kehidupan ini semuanya bisadi urus oleh perempuan, bahkan berlomba-lomba dan bangga menjadi single parents, perceraian meningkat dan perselingkuhanpun hal yang biasa. naudzubillahi min dzalik, mengapa Allah menciptakan laki-laki jika memang tidak dibutuhkan keberadaannya.sesungguhnya Allah mampu dan berkuasa hanya menciptakan satu jenis manusia saja dan Allah tidak perlu malu dan sungkan karenanya, tetapi Allah menciptakan laki-laki dan perempuan agar mereka bisa saling bekerja sama memakmurkan bumi...itulah hikmah yang hendak di cari oleh Kartini namun sayang dia mati muda ....
Menurut saya warisan yang paling berharga dari Kartini adalah pemikiran perlunya Pendidikan yang berkelanjutan bagi perempuan, pendidikan yang berkelanjutan maksudnya adalah pendidikan yang terus menerus tanpa henti bagi perempuan sebagai upaya meningkatkan kualitas dirinya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya, kita simak surat Kartini kepada sahabatnya Prof Anton dan Nyonya tertanggal 4 oktober 1904 "   Kami di sini memohon diusahakan pengajaran &; pendidikan anak perempuan bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yg besar sekali bagi kaum perempuan agar perempuan lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya, menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama.
Membaca surat tersebut tersirat makna bahwa Kartini memahami dengan benar bahwa sebagai seorang ibu perlu mendapatkan pengajaran dan pendidikan yang layak dalam mengemban tugas mulia dan berat yaitu sebagai pendidik manusia pertama 
Sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya seorang ibu harus mempersiapkan sebaik mungkin dirinya , bukan hanya ketika anaknya lahir sebelum lahirpun pada masa perencanaan dan masa kehamilan seyogyanya sudah menempa diri dg keikhlasan niat, kebaikan akhlak, kekhusyu'an ibadah dan ketrampilan lainnya demi lahirnya anak yang berkualitas. 
Pemikiran semacam ini adalah suatu hal yang baru di masa Kartini, dimana ketika itu  sang ibu mendidik anaknya apa adanya, hanya berdasarkan pengetahuan turun temurun , Kartini ingin mendobrak hal tersebut dia ingin para perempuan dimasanya belajar banyak hal dan menerima perlakuan yang sama dlm pendidikan dan pengajaran. 
Kartini juga memprotes tentang tatacara pengajaran  Al-Qur'an yang menurutnya tidak berimbang. Mereka diwajibkan untuk bisa membaca dan menghafal Alqur'an tanpa tahu apa maknanya. Inilah warisan kedua yang sama pentingnya dengan warisan pertama bahkan menjadi pemicu lahirnya warisan pertama, yaitu sikap kritis terhadap lingkungan., kegelisahan Kartini terhadap pola pengajaran Al-Qur'an yg  tanpa kefahaman , sebagaimana surat yang ia kirimkan kepada sahabatnya Stella tertanggal : 6 november 1899 "bagaimana aku dapat mencintai agamaku bila aku tidak mengerti dan tidak boleh memaknainya, di sini orang diajar membaca al-Qur'an tetapi tidak diajar makna yang dibacanya, sehingga ketika Kartini mengikuti pengajian di rumah Kyai Sholeh dan mendengar makna surah Al-Fathihah ia tertegun, hatinya bergetar dan jiwanya berontak sambil mengucap syukur sedalam-dalamnya kepada Allah karena diberi kesempatan untuk belajar makna surah al fatihah.
Demikianlah bagi Kartini kebangkitan seorang manusia ditandai dengan kebangkitan cara berfikirnya, sehingga salah kaprah bila orang-orang yang mengatasnamakan "pejuang Kartini mendengung-dengungkan persamaan hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki dalam segala hal....jika laki-laki bisa perempuan pun pasti bisa.
Karena sesungguhnya Allah telah menetapkan perempuan dan laki-laki dengan beberapa perbedaan fisik, perasaan dan selerasehingga jika menyamakan keduanya berarti menafikan fitrah penciptaan perempuan dan laki-laki itu sendiri... (dari jenis nama aja sudah dibedakan masa mau di samakan.. kalau sama mengapa Allah menciptakannya berbeda)
Satu hal lagi mengenai keterlibatan kaum perempuan diruang publik sering mengabaikan tugas dan kewajiban di ruang privat, yaitu sebagai ibu dan istri , yang menurut sebagian orang adalah warisan Kartini menurut saya sangat naif karena keterlibatan Kartini diruang publik masih kalah jauh dengan Cut Nya' Dien. Cut Nya' Dien  berada di barisan terdepan dalam memimpin peperangan melawan Belanda....oleh karena itu kalau ingin mencari simbol perempuan perkasa saya kira beliau cocoklah.....
Demikian sekelumit jejak jejak kecil sejarah yang saya torehkan  mengenai Kartini dan perjuangannya, sebenarnya masih banyak lagi perempuan selain  Kartini yang lebih hebat, lebih kuat dan lebih berdaya yang perlu kita eksplorasi. Ada kisah tentang ibunda Khadijah binti khuwailid istri dari Rasulullah SAW yang mulia, profilnya bisa menjadi teladan kita bagaimana menjadi seorang istri yang terbaik bagi suaminya. Adapula kisah tentang Fathimah Azzahra....teladan seorang anak dari ayah yang mulia Muhammada bin Abdullah SAW,  salah satunya salah seorang pejuang Muslimah di mesir bernama Zainab al Ghazali yang profilnya dapat dilihat di label kisah....beliau banyak menginspirasi saya dalam perjuangan menapaki kehidupan ini. Yang jelas saya bangga menjadi perempuan karena dengan menjadi perempuan saya bisa menjadi ibu bagi generasi ini.....