Kamis, 09 Juni 2011

Memasak itu menyenangkan

Anda tak suka memasak atau tak pernah memasak? Mengapa? Karena memang tak pernah tertarik dengan memasak? Enak tidak enak, yang penting tinggal makan, tidak repot, tidak perlu berkotor-kotor dan berlelah-lelah. Atau karena terlalu sibuk? Lebih baik melakukan pekerjaan lainnya daripada memasak, yang memakan waktu lama, sementara menghabiskannya hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Atau karena merasa tak bisa memasak? Sudah pernah mencoba? Berapa kali mencoba memasak lalu gagal? Atau karena khawatir masakan anda tak enak, hingga keinginan memasak anda urungkan? Daripada dicaci, diprotes, melihat wajah-wajah jadi berubah bentuk ketika memakan masakan anda? Atau karena rasa malas yang begitu kuat membelenggu? Dari berbelanja bahan masakan, menyiapkan lalu memasaknya. Ribet dan bisa ruwet.
Memasak itu menyenangkan dan mengasyikkan. Gembirakan hati sebelum memasak, agar memasak tak dirasakan sebagai beban. Jika perlu, libatkan anggota keluarga untuk memasak. Libatkan juga mereka saat berbelanja. Itu juga akan menjadi ajang rekreasi  keluarga.  Memasak bersama pasangan akan menjadi variasi dalam menjaga  hubungan agar tak membosankan. Saling berbagi cerita ketika memasak. Wah… akan memberikan romansa tersendiri. Anak-anak pun bisa dilibatkan dalam kegiatan memasak. Anak mulai usia tiga tahun sudah cukup mampu diajak turun dapur. Selain melatih gerak motoriknya,  memasak juga dapat dijadikan sebagai sarana  belajar matematika, bahasa, pengetahuan alam dan pengetahuan lainnya. Mereka akan menikmati, karena seperti sedang bermain. Ya, bermain masak-masakan. Bukan hanya anak perempuan yang bisa dilibatkan dalam kegiatan memasak, anak laki-laki pun bisa. Dapur bukan hanya milik perempuan. Gelar Master Chef justru banyak dimiliki oleh laki-laki  . Untuk anak-anak yang beranjak remaja, memasak sebagai sarana mengajarkan mereka mandiri.
Memasak itu seru.  Dari berburu bahan masakan, menyiapkan hingga memasak, terkadang membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Ketika tidak menemukan bahan masakan yang dicari, kreativitas diuji. Jika tak ingin lelah berburu di tempat lain, yang belum tentu ada, harus memikirkan bahan penggantinya. Memilih bahan masakan pun haruslah cermat, agar mendapatkan daging, ikan, sayuran, buah atau bumbu masakan dengan kualitas yang baik. Belum lagi ketika mencoba resep baru, menjadi sebuah  tantangan untuk bisa menghasilkan masakan yang lezat. Tidak jarang untuk mendapatkan hasil yang memuaskan harus mencobanya berkali-kali. Hal tersebut membutuhkan kesabaran dan ketekunan.  Dan sebuah kepuasan ketika berhasil. Apalagi memasak makanan yang membutuhkan ketelitian, ketekunan dan kreativitas tinggi. Menjadi tantangan juga, bagaimana mengolah sisa makanan menjadi makanan baru agar tidak terbuang. Bagaimana dapat menyajikan masakan dengan cepat, sementara waktu sangat terbatas. Seru!
Kehebohan memasak bersama pasangan atau buah hati, merupakan petualangan yang seru. Keributan-keributan kecil di dapur karena perselisihan memasak, riuhnya anak-anak, jangan dianggap sebagai sesuatu yang menyebalkan. Nikmati kebersamaan itu, yang bisa jadi langka. Dan suatu saat anda akan merindukan saat-saat memasak  bersama pasangan atau buah hati.
Memasak itu membahagiakan. Seorang teman saya adalah wanita karir. Hampir tak ada waktu baginya untuk memasak. Sebenarnya ia bisa memasak. Suatu saat, ia sangat ingin memasak untuk keluarganya. Hanya tempe goreng dan sambal yang sempat dibuatnya. Apa kata anak-anaknya? “Ummi, tempe gorengnya enak sekali. Aku mau Ummi memasak lagi untukku.” Hanya tempe goreng. Tapi dilihatnya mata sang anak berbinar-binar. Ia menceritakan kisahnya dengan mata berkaca-kaca. Sejak itu, setiap kali ada waktu luang, ia memasak untuk keluarganya. Bisa memasak untuk orang-orang yang dicintai dan disayangi memberikan kebahagiaan tersendiri. Hilanglah penat kala melihat binar di mata mereka menikmati masakan yang kita buat. Waktu berjam-jam yang dihabiskan untuk berkutat di dapur terbayar.
Memasak sebagai terapi. Memasak sebagai terapi? Ya. Lindsay Lohan, artis terkenal, telah membuktikannya. Untuk mengatasi depresi karena bertumpuknya masalah yang dihadapi, ia sering memasak. “Saya suka memasak. Saya memasak setiap malam. Terkadang saya memasak untuk teman-teman. Saya merasakan kenikmatan tersendiri ketika memasak. Itu merupakan terapi bagi saya,” ungkap Lindsay yang dirilis Femalefirst. Kesibukan memasak akan mengalihkan perhatian dari masalah yang membelenggu. Melihat ekspresi kepuasan di wajah yang menikmati masakan, menghadirkan rasa senang dan bahagia yang dapat mengurangi kesedihan dan kegalauan.
Memasaklah dengan hati. Bagaimanapun kondisi hati, memasaklah dengan hati. Sesederhana apa pun masakan, jika memasaknya dengan hati, akan menghasilkan rasa yang luar biasa. Dan sebaliknya, semewah apa pun masakan, jika memasaknya tidak dengan hati, rasanya akan sangat mengecewakan. Hati yang tenang, riang, apalagi disertai dengan cinta, akan menghadirkan semangat dan membantu untuk dapat konsentrasi memasak. Ya, memasak juga membutuhkan konsentrasi. Jika tidak, dapat terjadi kecelakaan, salah memasukkan bumbu, atau ada yang terlupa tidak dimasukkan.
Memasak bukanlah hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang sulit. Tergantung dari mana melihatnya. Jika ingin menjadi Master Chef memang bukan hal yang mudah. Harus memiliki kemampuan meramu masakan, inovasi, kreatif dan mampu menyajikan masakan dengan cepat. Jika hanya ingin bisa memasak makanan sehari-hari, mudah koq. Merasa tidak punya bakat? Tidak perlu bakat hanya untuk memasak makanan sehari-hari. Dan jangan mudah berputus asa jika mengalami kegagalan. Teruslah mencoba. Ibarat orang yang mengendarai kendaraan, memasak butuh kebiasaan untuk melatih rasa. Semakin sering memasak, akan semakin pandai mengetahui masakan yang kurang bumbu hanya melalui aromanya,semakin tahu trik-trik memasak, juga  akan semakin mahir. Man jadda wa jadda, barang siapa bersunguh-sungguh, maka akan berhasil.
Selamat memasak dengan gembira!

sungguh semua anak mau belajar

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
email. inspirasipspa@yahoo.com

Asal metodenya tepat, ketahuilah semua anak mau belajar. Sebagian orangtua mengatakan anaknya begitu malas sekali untuk membuka buku pelajaran. Harus disuruh-suruh terus mengerjakan PR jika ada PR. Seperti cerita berikut ini:

"Assalamu'alaikum. Abah saya mau tanya, putra saya yg pertama sekarang sudah kelas 3, tapi sejak beberapa bulan ini kadang-kadang mulai agak malas untuk belajar, harus diingatkan dulu kecuali kalau ada PR. Apa saya yang salah mendidiknya? Menurut Abah bagamana caranya supaya anak mau belajar tanpa disuruh?  Terima kasih Abah."

Anak yang malas ngerjain PR belum tentu malas belajar. PR itu sendiri sebenarnya tidak tepat diberikan anak-anak kelas 1-3 karena konsep berpikir mereka yang masih ekploratif bukan akademik. Fase kelas 1-3  fase transisi. Coba tanya pada diri kita sendiri, apakah waktu kita sekolah dulu menyukai PR? berapa banyak dari kita yang senang jika dikasi PR? Senang loh ya bukan rajin mengerjakan PR? Adakah diantara kita yang mengharapkan dikasi PR?  Adakah diantara kita yang hobby mengerjakan PR.

Sebagian kita memang ada yang dari kecil rajin mengerjakan PR. Tapi rajin mengerjakan PR bukan berarti kita begitu menyenanginya bukan?

Karena itu mari paradigmanya kita rubah. Semua anak mau belajar asal diberikan metode yang tepat. UNDANG ANAK BELAJAR, bukan SURUH ANAK BELAJAR!

Tidak bisa dipungkiri, ada anak istimewa yang mau belajar sendiri meski tak disuruh. Tetapi meski mereka mau belajar sendiri tanpa diminta orangtuanya sekalipun, yang ideal semua anak SD saat belajar itu sebenarnya ditemani, dibimbing, bukan disuruh-suruh. Inilah fungsi kita sebagai orangtua. Mencari nafkah bagi abah adalah kewajiban. Tapi mencari nafkah tidak menggugurkan kewajiban abah yang lain ketika punya anak: mendidik anak!

Karena itu meski mungkin kadang lelah setelah seharian bekerja. Menyempatkan waktu untuk menemani dan membimbing anak belajar juga tak boleh dilepaskan.

Sebenarnya anak-anak itu secara alamiah senang belajar. Dan jika metodenya tepat, bahkan yang bergembira dengan belajar, bukan hanya anak, tapi abah yang menemaninya pun mendapatkan banyak kegembiraan.

Misalnya, saat hari ini anak abah yang kelas 2 SD (salma) belajar tentang AIR (sains). Worksheet (buku pelajaran anak) anak abah bisa jadi bahan seru untuk belajar.

Abah mulai dari bercerita tentang air. Kita boleh namakan air itu dengan sebutan Ara, Aira, Al-Water. Sebut saja, "ada setetes air bernama al-water."

"Ia kadang diam, kadang bergerak! Saat di danau dan kolam, al-water senangnya diam. Tapi saat di sungai al water senangnnya bergerak."

"Awal water klo bergerak senangnya itu bergerak (mengalir) dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah!"

"Menurut kamu, bisakah al water bergerak dari tempat yang rendah ke tinggi?"

Dan seterusnya, bahkan saat semalam belajar ini, subuh tadi salma meminta lagi untuk belajar. Ia benar-benar ketagihan belajar! karena ini membuatnya PENASARAN! membuatnya ingin tahu lebih banyak!

Apalagi ketika abah memperlihatkan percobaan dengan gelas tentang sifat-sifat air, memperlihatkan bola dunia yang ternyata bagian air jauh lebih banyak darpada bagian daratan dst.

JAdi, tak ada lagi istilah anak tidak senang belajar! Apalagi divonis malas belajar! yang ada adalah orangtua ynag hanya nyuruh-nyuruh belajar! Tapi tidak mendampingi belajar!

Tak ada lagi anak yang ogah-ogahan belajar, yang ada adalah kita yang menggunakan metode belajar 'akademik' yang sesuai dengan otak dewasa , dipaksakan dengan otak anak-anak.

Apakah harus ditemani terus belajar?! Tidak! Tapi fase SD adalah fase untuk anak pengenalan belajar akdemik. Fase ini adalah fase dimana anak dilatih untuk menyukai belajar akdemik. Insya Allah pada waktunya nanti (mulai SMP) anak-anak karena sudah terlatih tidak usah lagi ditemani pun sudah terlatih bagaimana menggali bahan ajar sehingga menarik minat dia terus bereksplorasi.