Rabu, 02 Mei 2012

Anak Pintar atau Anak Bahagia


Catatan di Tengah Hiruk Pikuk UN
Oleh Haidar Bagir
Sumber: http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=plong&id=43
 
Setiap orang tua yang mendapatkan pertanyaan ini, cepat atau lambat akan menjawab: “Anak bahagia.” Tapi, apakah benar anak pintar tak mesti bahagia? Jawabannya, ya. Anak pintar belum tentu bahagia. Bahkan, anak pintar yang tidak memiliki karakter-karakter tertentu, bisa diduga pasti tidak bahagia. Ya, anak bahagia belum tentu pintar. Anak yang memiliki karakter-karakter tertentu, meski tidak pintar, disuga pasti bahagia. Karakter-karakter itu terkait dengan kemampuan menghasilkan emosi-emosi positif, yang biasa disebut dengan emotional intelligence (EI atau EQ).
Jangankan kebahagiaan, kesuksesan saja tak selalu ada hubungannya dengan kepintaran. Suatu penelitian di Harvard University, atas mahasiswa kedokteran, hukum, bisnis, dan keguruan menunjukkan bahwa kesuksesan tak ada hubungannya sama sekali dengan kepintaran -sebagimana diukur dengan IQ.
Daniel Goleman menemukan: “… Kecerdasan emosional kita menentukan potensi kita untuk belajar keterampilan praktis... Kompetensi emosional kita menunjukkan berapa banyak potensi kita yang telah diaplikasikan menjadi kemampuan yang bisa dipakai saat bekerja.” Clifton dan Rath percaya bahwa emosi positif merupakan kebutuhan penting sehari-hari untuk kelangsungan hidup, dan untuk hidup bahagia.
Tapi, jangan khawatir. Jika dibarengi dengan kepemilikan karakter-karakter tertentu, kepintaran membantu kebahagiaan. Orang pintar yang memiliki karakter-karakter tertentu itu masih punya peluang bahagia lebih besar dibanding yang kurang pintar.
Masalahnya, mendorong anak untuk pintar, dengan cara-cara yang tidak bijaksana (push parenting atau push teaching), bisa menyebabkan anak kehilangan peluang untuk memiliki karakter-karakter yang mendukung kebahagiaan. Kenapa? Karena cara-cara yang tidak bijaksana– menekan, menuntut secara berlebihan, membebani anak dengan kegiatan belajar sehingga merampas waktu luang mereka – demi mengejar kepintaran adalah bertentangan dengan cara-cara untuk mengembangkan karakter yang mendukung kebahagiaan.
Menurut Daniel Goleman lagi, karakter-karakter itu adalah :
     Self Control: Kemampuan untuk mengelola emosi dan impuls yang mengganggu, secara efektif.
     Trustworthiness: Kejujuran dan integritas.
     Conscientiousness: Keteguhan dan tanggung jawab dalam memenuhi kewajiban.
     Adaptability: Fleksibilitas dalam menagani perubahan dan tantangan.
     Innovation: Keterbukaan terhadap ide-ide, pendekatan, dan informasi baru.
Sedangkan menurut psikologi positif (positive psychology), karakter-krakter itu adalah :
   Wisdom and Knowledge: Kreativitas, rasa ingin tahu, keterbukaan pikiran, cinta belajar, kejrnihan perspektif  (dalam melihat segala hal), inovasi.
      Courage: Keberanian, ketekunan, integritas, vitalitas.
      Humanity: Cinta, kebaikan, kecerdasan sosial.
      Justice: Kewarganegaraan, keadilan, kepemimpinan.
      Temperance: Rasa maaf dan kemurahan hati, kerendahan hati, kebijaksanaan, kontrol diri.
  Transcendence: Apresiasi terhadap keindahan dan keluhurnrasa syukur, harapan, humor, spiritualitas.
Sayangnya, terkadang kita harus memilih antara mendorong anak untuk pintar dan mendorong anak untuk memiliki karakter-karakter yang dapat menentukan kebahagiaan mereka. Kita memang perlu waktu banyak untuk menanamkan karakter-karakter ini sampai ia menjadi habit. Lebih dari itu, proses ini membutuhkan penciptaan suasana yang nyaman dan menenteramkan. Bukan tekanan. Sudah pasti suasana seperti ini tak diperoleh dengan terburu-buru dan pemaksaan.   (Sampai di sini kita ingat beban kurikulum di sekolah-sekolah kita yang amat tidak proporsional, dan berbagai jenis penilaian/tes yang tidak tepat-guna)     
Tak kalah pentingnya, kita juga perlu memastikan self esteem (harga diri) anak agar terus terpelihara. Hak ini merupakan syarat utama, bahkan bagian dari tjuan pendidikan untuk menanamkan karakter-karakter ini. Studi dari  Dr. Elizabeth Hurlock menunjukkan pentingnya menerapkan psikologi positif – sebuah aliran psikologi yang percaya bahwa semua manusia berbakat baik dan bahagia -- di sekolah dan keluarga. Mengabaikan atau mengkritik siswa dapat menghambat pendidikan mereka. Emosi positif memungkinkan individu untuk belajar dan bekerja dengan kemampuan mereka yang maksimal.
Dr. Elizabeth Hurlock menyimpulkan hal ini dari studi yang pernah dilakukannya. Ini merupakan studi yang dilakukan terhadap siswa antara kelas empat sampai enam. Studi itu dilakukan untuk melihat bahwa pujian, kritik dan sikap tak acuh guru terhadap kerja siswa bisa berefek pada siswa itu. Untuk percobaan ini sekelompok siswa diminta menyelesaikan soal matematika tertentu dalam beberapa hari. Anak-anak yang mendapat nilai tinggi, dipanggil dan dipuji di depan kelas. Mereka yang dapat nilai buruk, secara terbuka dimarahi di depan kelas. Sedangkan mereka yang dapat nilai sangat buruk, diabaikan. Hasilnya, siswa yang dipuji meningkat dengan 71%, siswa yang dikritik meningkatkan kinerja mereka dengan 19% dan mereka yang diabaikan meningkat sebesar 5%.
Untuk membesarkan anak berkarakter, kita juga perlu memberikan ruang seluas-luasnya untuk mereka untuk berekspresi, dan membuat kesalahan-kesalahan serta belajar darinya. Juga untuk belajar apa yang dia senangi.  Dan untuk bermain-main serta bersosialisasi, agar dapat terus belajar keterampilan sosial. Kita juga perlu memberikan ruang seluas-luasnya bagi mereka untuk aktif dalam berorganisasi, untuk punya waktu cukup menjalani hobinya, untuk belajar agama dan spiritualitas, untuk dilibatkan dalam aktivitas-aktivitas menolong orang lain, dan untuk dibawa ke tempat orang-orang yang kurang beruntung agar punya rasa syukur dan untuk belajar seni serta mengapresiasi keindahan
Nah, untungnya, emosi positif dapat menular. Sehingga, memiliki orang tua, anggota keluarga, teman, guru, murid, atau siapa saja di dekatnya yang mengemvangkan emosi positif dapat membantu siswa untuk menjadi positif dan bekerja dengan kemampuan mereka yang terbaik. Sebaliknya, jika ada satu saja yang negatif, hal itu dapat merusak seluruh suasana positif dalam suatu lingkungan.
Kesimpulan yang lain, menurut Clifton dan Rath, 99 dari 100 orang lebih suka berada di sekitar orang positif.Mereka percaya bahwa mereka bekerja lebih produktif ketika mereka berada di sekitar orang positif. Memang, seberapa pintar seseorang, hanyalah orang yang memiliki emosi positif yang akan disukai dan dicintai oleh orang lain. Inilah modal utama untuk sukses di mana saja, sekaligus untuk hidup bahagia.
Maka, marilah kita ubah paradigma kita dalam mendidik anak, dan memfokuskan proses pendidikan kepada pemenuhan syarat-syarat untuk bahagia, ketimbang sekadar untuk pintar. Marilah kita menekankan proses pendidikan pada penanaman karakter-karakter positif anak. Mari juga menjadi orang tua yang selalu memfasilitasi suasana yang nyaman bagi anak-anak kita, selalu memelihara harga diri mereka, dan selalu member ruang seluas-luanya bagi anak-anak kita untuk mencoba dan salah. Hanya dari itu semualah, kreativitas bisa lahir. Dan hanya dengan kreativitas, kita bias unggul berharap banyak kebahagiaan hidup menanti anak-anak kita.
Karena, jika bukan kebahagiaan, apalagi yang dicari orang tua untuk anak-anaknya.

Senin, 16 April 2012

Budaya menghakimi dan Menghukumi


Ada satu tulisan  yg ditulis oleh Prof. Rhenald kasali yg diposting di blog Ayah Edi, yang membuat saya tertarik untuk mempostingnya di blog ini. http://ayahkita.blogspot.com/2012/04/budaya-menghakimi-dan-menghukumi-para.html
Selain sebagai pembenaran terhadap apa yg saya lakukan dahulu terhadap anak  saya juga sebagai pencerahan bagi orang tua lain di masa yang akan datang. Saya bercerita sedikit tentang anak saya yg perempuan. Karena ayahnya yg harus pindah tugas ke daerah lain sehingga kami sekeluarga pun mengikuti pindah. Kepindahan ini kemudian mengharuskan anak saya untuk pindah sekolah, yg pada awalnya bersekolah di sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu, kemudian pindah ke sebuah sekolah negeri yang katanya favorite di kota itu. Hari pertama anak saya semangat untuk masuk di sekolah barunya, namun ketika pulang wajahnya sangat sedih dan meminta saya untuk mendampinginya selama di sekolah. Esoknya sayapun mendampinginya, setelah minta idzin kepada gurunya sayapun mendampingi anak saya selama waktu sekolahnya.Singkat kisah selama pindah sekolah di sekolah yg baru anak saya cenderung mengeluh dan tdk suka, terhadap segala hal yg ada di sekolahnya yg baru. Dia sering membandingkannya dg guru dan teman temannya di sekolahnya yg lama. Dan akhirnya puncak dari ketidaksenangannya anak sayapun tdk mau lagi bersekolah. Saya pun kemudian bertanya mengapa dia tak mau bersekolah, katanya  gurunya suka marah dan membentak, temannya tdk ada yg empati dg dirinya...demikianlah akhirnya sayapun memutuskan untuk home schooling untuk anak saya dan tdk menyekolahkannya lagi disekolah tersebut sampai kami pindah kembali ke kota yg lama dan kini anak saya enjoy lagi dg sekolahnya yg lama. Saya mengambil hikmah bahwa sesungguhnya guru dan lingkungan amat mempengaruhi perkembangan jiwa anak anak, sy lebih memilih menyekolahkan anak saya di sebuah sekolah yg memiliki guru dan lingkungan yg ramah terhadap anak-anak ketimbang sekolah yg katanya favorite namun sama sekali tdk ramah terhadap anak anak. Sekolah yg baik menurut saya bukanlah yg memajang piala anak anak yg ratusan jumlah di sekolah namun tak akan dingat lagi oleh para muridnya. Guru yang baik adalah guru yg senantiasa dingat kebaikannya walaupun muridnya sdh tdk bersekolah di sana lagi. Ini lah postingan yg sy ambil dr blog ayah Edy, yang  Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa....Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”“Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.BUDAYA MENGHUKUM Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesiayang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.***Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Adasemacam balas dendam dan kecurigaan.Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.MELAHIRKAN KEHEBATANBisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.