Minggu, 26 Desember 2010

Di balik kerudung

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita mukmin agar mereka mengulurkan atas diri mereka jilbab mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab [33]:59)

Ketika Hayrunnisa Gul, istri dari presiden Turkey, Abdullah Gul ditanya dalam sebuah wawancara dengan majalah Time beberapa waktu yang lalu, kenapa ia mengenakan jilbab, ia mengatakan bahwa ia sangat yakin islam mengenal perbedaan antara sebuah ruang ‘private’ dan ruang ‘public’. Yang satu adalah keizinan dari Yang Maha Kuasa untuk diperlihatkan kepada khalayak dan yang satu lagi adalah previlese yg hanya dimiliki oleh muhrim (baca: suami). Dan ketika media tersebut mencecarnya dengan pertanyaan bahwa begitu banyak kaum feminis dan modernis Turkey menentangnya (ia sebagai satu-satunya istri presiden Turkey yang berjilbab sejak Republic of Turkey di deklarasikan oleh Kemal Ataturk), dengan enteng ia menjawab, “Apa yang membungkus tubuh saya tidak sama dengan apa yang membungkus otak saya!” Jawaban ini adalah sebuah suara protes darinya akan sebuah pemahaman bahwa jilbab adalah identik dengan kebodohan, penindasan perempuan dan pengekangan seksualitas.


Suatu saat di belahan negeri barat yang terkenal sebagai sebuah kota fesyen dunia, penulis berada di belantara billboard yang hampir kesemuanya menampilkan gambar wanita yang (maaf) lebih kepada titik-titik tubuh yang dapat membangkitkan fantasi seksual. Demikian juga wanita yang lalu lalang disekitar penulis, hampir semuanya mengenakan rok mini, celana sangat pendek dan tanktop. Hal ini adalah sebuah kehidupan sehari-hari yang suka atau tidak suka selalu dapat dinikmati di kota-kota di barat dan menyebar mendunia. Semuanya adalah demi falsafah hidup dengan jargon kata “MODE” yang sedang melanda.

Bagi barat, Mode adalah ideologi. Tempat dimana kebebasan menemukan muaranya, tempat dimana bisnis dengan jaminan jutaan dollar dapat terus menangguk keuntungan setiap tahunnya. Dan yang pasti ideologi ini selalu menjadikan tubuh wanita sebagai simbol utama sekaligus pasar utamanya pula. Dimana peran kaum pria? Disadari atau tidak, pria adalah penentu arah kebijaksanaan kemana arah ideologi “mode” ini membahana. Bukankah seorang pria hampir pasti selalu berada dibelakang rumah mode dunia seperti Gucci, Louis Vuitton, Prada dll? Sekaligus pria juga berperan sebagai penikmat dan pengamatnya

Hal inilah yang dapat dipahami, ketika wanita-wanita muslim di Perancis makin banyak yang menggunakan jilbab dalam kehidupan mereka sehari-hari, maka pemerintahnya (dengan dukungan pebisnis mode Perancis) bagaikan kebakaran jenggot sehingga melarang penggunaan kerudung di sekolah dan untuk kemudian melarang penggunaan cadar ditempat-tempat umum. Bukankah Perancis selama ini telah menjadi kiblat mode dunia? Dan yang pasti tidak ingin kehilangan muka sekaligus kehilangan jutaan dollar dari apa yang selama ini telah dinikmati dari binis mode yang mendunia tersebut. Hal ini membawa kepada diciptakannya sebuah perang idelogi untuk membendung penggunaan jilbab dengan memberi stempel pada wanita-wanita muslim yang berjilbab sebagai bentuk kebodohan, pengekangan seksualitas dan penindasan hak-hak kebebasan mereka dalam mengekspresikan diri.

Ada yang amat menarik dari tafsir ayat ke 59 dari surah Al Ahzab diatas. Ayat ini turun pada waktu yang amat kondusif dalam priode Madinah ketika perang Ahzab (Khandak) telah usai (setelah tahun ke-6 H). Priode ini ditandai dengan terusirnya kabilah besar kaum yahudi Madinah dan menjadi sebuah priode yang damai dan tenang. Ayat ini tidaklah turun pada masa priode Mekah yang sangat kacau ataupun diawal-awal priode Madinah yang masih membutuhkan kesabaran dalam membangun sebuah masyarakat yang bermoral dan madani. Dapat kita bayangkan jika penerapan hukum jilbab pada priode Mekah atau di awal priode Madinah akan menjadikannya sebuah keputusan emosional dan jauh dari rasionalitas.

Allah Azza wa Jalla ingin memberi pemahaman kepada kita bahwa jilbab adalah sebuah identitas. Penerapan hukum Jilbab bukan ditentukan dengan dasar emosional dan bukan pula untuk melindungi wanita dari gangguan pria-pria musyrik atau kafir saja tapi lebih kepada identitas yang rasional untuk menyatakan jatidiri dan hak untuk dipandang baik oleh siapapun.

Ayat ini juga tidak seperti ayat-ayat lainnya di dalam Al Quran yang menetapkan hukum dengan mengajak kaum mukmin dengan kata-kata”Ya ayyuhalladzi na ‘amanu” (wahai orang-orang yang beriman) tetapi membebankan hal itu kepada Nabi Saw sebagai pemimpin umat untuk mengajak istri dan anak-anak perempuannya terlebih dahulu untuk menutup diri mereka dengan jilbab dan untuk kemudian mengajak laki-laki mukmin agar melakukan hal yang sama terhadap ‘wanita-wanita’ (tafsir: istri dan anak-anak) mereka. Ini memberi pemahaman kepada kita bahwa ada kondisi psikologis yang harus dimiliki seorang suami/ayah sebelum mengajak istri dan anak-anaknya untuk memakai jilbab. Pria sebagai suami atau ayah harus terlebih dahulu merasakan sebuah kondisi yg kondusif dimana ia sangat menginginkan istri dan anak-anak perempuannya untuk menutup aurat mereka sebagai bentuk ketundukkannya kepada Allah dan mematuhi segala perintah-Nya. Jadi tanggung jawab penerapan jilbab ini sebenarnya ada pada pria (baca: suami atau ayah) bukan pada diri wanita (istri dan anak-anak perempuan).

Seorang teman bercerita ketika ia memutuskan dirinya untuk berjilbab, justru ditentang oleh suaminya sendiri tanpa alasan yang jelas. Yang menyebabkan pada akhirnya mereka sering bertengkar dan membuatnya harus mengalah dengan membuka jilbabnya. Hal ini dapat terjadi karena sang suami belum memahami keadaan dan tanggung jawabnya.

Pada dasarnya ada sebuah keengganan bagi pria untuk melihat istri dan anak-anak perempuannya menutup aurat. Ini lebih disebabkan kepada kondisi kejiwaan. Dalam pikiran seorang pria, wanita adalah sebuah keindahan yang selalu dapat mempengaruhi ‘mood’ sang pria. ‘Mood’ ini bergantung kepada pikiran positif ataupun negatif yang ada dalam benaknya. Ketika pikiran positif yang lebih mendominasi, maka ia lebih melihat pada ‘inner beauty’ sang wanita. Ia tidak lagi memandang apa yang dikenakan ataupun tampilan luar dari wanita yang ada dihadapannya tapi lebih kepada ‘aura’ yang dipancarkan oleh wanita tersebut. 'Inner beauty' yang diwakili oleh kecerdasan, kelembutan dan lain-lain. Tapi jika pikiran negatif yang mendominasi, maka yang selalu muncul adalah tampak luar dari apa yang terlihat dan lebih kepada hubungan nafsu hewani yang berdasar pada hubungan ‘jantan’ dan ‘betina’ yang berpengaruh pada (maaf) fantasi seksualnya.

Al Quran dengan bahasanya yang indah menuturkan ‘AGAR MEREKA MUDAH UNTUK DIKENAL.”

Apa yang menjadikan mereka mudah untuk dikenal......?? Adalah pada dasarnya wanita itu memiliki keindahan dengan segala sifat-sifatnya yang positif seperti kelembutan dan kecerdasan. Allah Azza wa Jalla menginginkan hendaklah sifat-sifat ini yang terpancar dari seorang wanita setiap saat. Jika seorang wanita menutup auratnya, maka aura yang terpancar pada dirinya lebih kepada yang bersifat positif sehingga kesan yang timbul adalah baik. Hal ini berbeda jika wanita menonjolkan sisi sensualitasnya maka bisa jadi yang tercermin adalah penonjolan titik-titik tubuh yang dapat membangkitkan fantasi seksual pria. Karena bisa jadi apa terlihat adalah bagai sebuah aura negatif yang bagi pria dapat dijadikan ‘bahan godaan’. Dalam hal ini Al Quran memakai kata-kata “SEHINGGA MEREKA TIDAK DIGANGGU”

Seorang Feminis berkebangsaan Amerika yang bernama Naomi Wolf yang beragama yahudi dalam sebuah artikelnya di sebuah majalah wanita di Amerika pernah menulis, “Saya mengalaminya sendiri. Saya mengenakan jilbab yang serba menutup tubuh saya (kecuali muka dan tangan) dalam sebuah kunjungan ke pasar tradisional Maroko. Memang, sejumlah kehangatan yang saya peroleh dari setiap padangan yang diarahkan kepada saya mungkin berasal dari rasa takjub menyaksikan seorang wanita barat mengenakan pakaian tertutup seperti itu. Namun begitu saya terus berjalan dipasar, disaat belahan dada saya tertutup, bentuk kaki saya tersamar dan rambut panjang saya tidak berkibar, saya menikmati sebuah perasaan nyaman dan tenteram. Saya merasa merdeka (dari rasa was-was) dalam cara tertentu.”

Wolf melanjutkan: “Banyak perempuan muslim yang saya ajak bicara tidak merasa tertindas oleh cadar dan kerudung. Sebaliknya mereka merasa terbebas dari penindasan kaum pria yang dalam budaya Barat menjadikan perempuan sebagai komoditas seksual. Mereka mengatakan, “Ketika saya mengenakan pakaian ala Barat, pria menatap saya, menjadikan saya sebagai obyek, sehingga saya terpaksa membandingkan diri saya dengan standar model di majalah, yang susah sekali disamai. Dan itu akan semakin sulit ketika anda menjadi semakin tua. Semakin melelahkan untuk berusaha menjadi pajangan yang dinilai indah sepanjang hari. Ketika saya mengenakan kerudung atau cadar, orang memandang saya sebagai individu, bukan obyek. Saya merasa dihargai.”

Dalam pandangan Allah Azza wa Jalla, sebuah masyarakat yang baik itu dimulai dari pribadi-pribadi yang baik. Sehingga pribadi-pribadi yang baik inilah kelak akan membentuk sebuah rumah tangga yang menjadi cikal bakal sebuah masyarakat yang bermoral dan madani. Pakaian bagi seorang muslimah adalah sebuah identitas yang membatasi antara ranah ‘public’ dari ranah ‘private.’ Ketika seksualitas dibiarkan berada dalam wilayah pribadi dan diarahkan dalam cara yang menjadikannya suci, hal ini menyebabkan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Ketika sang suami terjaga dari melihat wanita lain dengan aurat yang terbuka sepanjang hari, maka yang terjadi adalah hasrat dan intensitas yang dahsyat ketika kerudung sang istri dilepaskan di rumah yang mewakili ranah ‘private’. Ketika sexualitas sudah menjadi sebuah komoditas sehari-hari (baca: public) maka apa yang terjadi adalah menurunnya libido dan segala penyakit sexual yang menyertainya.

Dalam sebuah pertemuan dengan para sahabat nya, Rasulullah Saw berpesan, “Sesungguhnya dunia ini indah dan mempesonakan, dan sesungguhnya Allah menyerahkannya kepada kalian. Kemudian Allah akan melihat bagaimana kalian berbuat atas dunia ini. Karena itu berhati-hatilah dalam urusan dunia dan terhadap wanita.” (HR Muslim)

Sabtu, 25 Desember 2010

Mengenali Gaya Belajar Anak Anda

MENGENALI GAYA BELAJAR ANAK
Oleh Ike Sugianto, Psi.(Psikolog anak) : 
6 Kunci sukses Orang Tua dlm mendidik anak :
1. Memahami gaya belajar anak
2. Memahami tahap perkembngn anak
3. Melejitkan potensi kecerdasan anak
4. Kenyamanan & Kegembiraan anak
5. Keteladanan bg anak
6. kekuatan doa bagi anak
Bahasan ini berbicara bagaimana memahami Gaya belajar anak kita.Sudahkah Anda mengenali gaya belajar anak di rumah? Siapa tahu selama ini kita salah menuduhnya malas belajar. Meski bersekolah di sekolah yang sama dan duduk di kelas yang sama, gaya belajar setiap anak ternyata tidak pernah sama. Perbedaan itu bahkan ada pada anak-anak dari satu keluarga, seperti beda dengan kakak, adik atau saudara kembar sekalipun.
Contohnya saat mengikuti pelajaran di kelas, menurut pakar psikologi, ada murid yang begitu tekun menyimak meski si guru menyampaikan materi pelajaran tak ubahnya seperti ceramah selama berjam-jam. Ada yang terkesan hanya memperhatikan sepintas lalu, meski sebetulnya mereka membuat catatan-catatan kecil di bukunya. Namun jangan ditanya berapa banyak anak yang merasa bosan dengan pendekatan belajar yang menempatkan murid sebagai pendengar setia.
Secara keseluruhan, ada anak yang lebih mudah menangkap isi pelajaran jika disertai praktek. Siswa seperti ini lebih suka berkutat di laboratorium mengamati dan mempelajari berbagai hal nyata ketimbang mendengar penjelasan si guru. Sedangkan temannya yang lain mungkin lebih tertarik mengikuti pelajaran yang disertai berbagai aspek gerak. Contohnya, guru yang menerangkan materi pelajaran kesenian sambil sesekali diselingi nyanyian dan tepuk tangan.
Tidak hanya itu. Ada anak yang harus bersemedi dan tutup pintu kamar rapat-rapat supaya bisa konsentrasi belajar. Akan tetapi cukup banyak yang mengaku justru terbuka pikirannya bila belajar sambil mendengarkan musik, entah yang mengalun merdu atau malah ingar-bingar. Sementara sebagian lainnya merasa perlu untuk mengubah materi pelajaran menjadi komik atau corat-coret yang gampang “dibaca”.
KONTRIBUSI ORANG TUA 
Apa pun gaya belajar yang dipilih pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu agar yang bersangkutan bisa menangkap materi pelajaran dengan sebaik-baiknya dan memberi hasil optimal. Bukankah masing-masing pelajaran juga disampaikan oleh orang yang berbeda dengan karakter mengajar yang berbeda pula.
Itulah mengapa, perlu menggarisbawahi agar setiap orang tua turun tangan mengamati gaya belajar masing-masing anak. Dengan memahami hal itu, sebetulnya orang tua sudah memberi kontribusi besar dalam keberhasilan belajar anaknya karena si anak jadi mudah menangkap materi pelajaran.
Buktinya, ketidakpahaman orang tua dan guru terhadap gaya belajar anak kerap menimbulkan kesalahpahaman. Ada guru yang tidak senang melihat muridnya asyik bikin coretan-coretan selagi di kelas. Atau ada juga guru yang langsung menegur anak yang terlihat tak bisa diam saat sedang diajar.
Padahal, perilaku corat-coret saat belajar tak mesti berarti ia enggan belajar. Bisa jadi, ia justru tengah berusaha menangkap materi pelajaran lewat corat-coretnya tadi. Tidak sedikit anak yang cepat ngerti kalau materi pelajarannya disampaikan lewat gambar atau ilustrasi.
Demikian pula dengan anak-anak yang terlihat aktif bergerak ke sana kemari selama di kelas. Anak seperti ini boleh jadi merupakan tipe aktif yang selalu kelebihan energi. Ia menyukai aktivitas fisik dan mudah bosan pada omongan/penjelasan panjang lebar.
MASUK TIPE YANG MANA ANAK ANDA?  
Ada 3 tipe gaya belajar yang biasa dijumpai:
1.     Visual Learner  
Gaya belajar visual (visual learner) menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar si anak paham.
Ciri-ciri anak yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum ia memahaminya.
Konkretnya, yang bersangkutan lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar. Selain itu, ia memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, disamping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. Hanya saja biasanya ia memiliki kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif terhadap suara, sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah menginterpretasikan kata atau ucapan.
Untuk mendukung gaya belajar ini, ada bbbrp pendekatan yang bisa dipakai yaitu caranya gunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi/materi pelajaran. Perangkat grafis tersebut bisa berupa film, slide, ilustrasi, coretan atau kartu-kartu gambar berseri yang dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan.
2.     Auditory Learner  
Gaya belajar ini mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya. Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah mendengarnya lebih dulu. Mereka yang memiliki gaya belajar ini umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk tulisan, selain memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Untuk membantu anak-anak seperti ini, orang tua bisa membekali anaknya dengan tape untuk merekam semua materi pelajaran yang diajarkan di sekolah. Selain itu, keterlibatan anak dalam diskusi juga sangat cocok untuk anak seperti ini. Bantuan lain yang bisa diberikan adalah mencoba membacakan informasi, kemudian meringkasnya dalam bentuk lisan dan direkam untuk selanjutnya diperdengarkan dan dipahami. Langkah terakhir adalah melakukan review secara verbal dengan teman atau pengajar.
3.     Kinesthetic/Tactile Learner  
Gaya belajar ini mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya.
Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.
Karakter berikutnya dicontohkan sebagai orang yang tak tahan duduk manis berlama-lama mendengarkan penyampaian pelajaran. Tak heran kalau individu yang memiliki gaya belajar ini merasa bisa belajar lebih baik kalau prosesnya disertai kegiatan fisik.
Kelebihannya, mereka memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim disamping kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability). Tak jarang, orang yang cenderung memiliki karakter ini lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk kemudian belajar mengucapkannya atau memahami fakta.
Nah, mereka yang memiliki karakteristik-karakteristik di atas dianjurkan untuk belajar melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model peraga, semisal bekerja di lab atau belajar yang membolehkannya bermain. Cara sederhana yang juga bisa ditempuh adalah secara berkala mengalokasikan waktu untuk sejenak beristirahat di tengah waktu belajarnya.
Hanya saja dalam kenyataannya, pengelompokan ketiga gaya belajar ini tidaklah sederhana. Terbukti, pada beberapa anak ditemukan kombinasi antara satu gaya belajar dengan gaya belajar lainnya. Contohnya adalah anak-anak yang gemar membuat gambar/ilustrasi selagi belajar, tapi juga sibuk merekam pelajaran gurunya. Kendati begitu, “Pasti ada gaya belajar yang dominan dan subdominan. Untuk mengetahui mana yang dominan dan mana yang subdominan, harus dilakukan observasi menyeluruh.”
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH  
Kapan gaya belajar ini mulai dimiliki anak? “Sebenarnya, gaya belajar anak dipengaruhi oleh faktor bawaan atau sudah dari sananya.” Ada anak-anak yang memang memiliki fisik kuat dan prima sehingga cenderung memiliki gaya belajar kinestetik. Atau ada juga anak yang memiliki rasa seni tinggi sehingga gaya belajar visual lebih melekat dalam dirinya.
Jika salah satu indra kurang berfungsi secara maksimal, maka umumnya indra lain akan menggantikannya. Jika penglihatan seorang anak kurang berfungsi, maka indra pendengarannya lebih menonjol sehingga ia lebih peka terhadap suara atau bunyi-bunyian. Contohnya, para penyandang tunanetra biasanya memiliki indra pendengaran yang sangat tajam.
Selain itu, pola asuh juga memegang peran penting dalam kemunculan gaya belajar seseorang. Maksudnya, gaya belajar ditentukan oleh sejauh mana orang tua melakukan stimulasi terhadap masing-masing indra anaknya. Anak yang sejak kecil terbiasa dibacakan dongeng, boleh jadi akan terbiasa untuk mengasah kemampuan pendengarannya. Ia juga bisa cepat mencerna ucapan sang pendongeng. Akibatnya, anak akan cenderung menjadi seorang auditory learner dalam gaya belajarnya. Sementara anak seorang pelukis yang mayoritas waktunya lebih tercurah untuk mengamati detail-detail gambar orang tuanya biasanya akan menjadi seseorang dengan tipe belajar visual. Nah, bagaimana dengan anak Anda?

KENALI CIRI-CIRINYA 
Ciri-ciri dari masing-masing gaya belajar.
  • Auditory Learner, Cirinya :  
   -  Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok  atau kelas.
   -  Mengenal banyak sekali lagu atau iklan TV, bahkan dapat menirukannya secara tepat dan komplet.
   -  Cenderung banyak omong.
   -  Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.
  -  Kurang cakap dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.
-    Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, seperti hadirnya anak baru, adanya papan    pengumuman di pojok kelas dan sebagainya.
  • Visual Learner, Cirinya : 
 -  Senantiasa berusaha melihat bibir guru yang sedang mengajar.
 -  Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya anak akan
 -  Melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak.
 -  Cenderung menggunakan gerakan tubuh (untuk mengekspresikan dan menggantikan kata-kata) saat mengungkapkan  sesuatu.
 -  Tak suka bicara di depan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain.
 -  Biasanya kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
 -  Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan.
 -  Biasanya dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa merasa terganggu.
  • Kinesthetic/Tactile Learner, Cirinya :
  -  Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya.
  -  Amat sulit untuk berdiam diri/duduk manis.
  -  Suka mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya  sedemikian aktif
  -  Memiliki koordinasi tubuh yang baik.
  -  Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar.
  -  Mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika, peta, dan sebagainya) dirasa amat sulit oleh anak dengan gaya belajar ini.
 -  Cenderung terlihat “agak tertinggal” dibanding teman sebayanya. Padahal hal ini disebabkan oleh tidak cocoknya gaya  belajar anak dengan metode pengajaran yang selama ini lazim diterapkan di sekolah-sekolah.