Kamis, 26 Januari 2012

Menumbuhkan Kemampuan Menguasai Masyarakat

Penguasaan masyarakat akan sangat tergantung pada tumbuhnya lima jenis kader dakwah sebagai berikut, Pertama, al khotib al jamahiriy , tumbuhnya para khuthoba yang bersemangat, yaitu mereka yang mampu menyampaikan pesan-pesan Islam dengan jelas dan terang, penuh gairah dan dinamika. Para khotib bersemangat muda yang menyampaikan hikmah (pengetahuan) orang-orang tua yang penuh pengalaman (hikmatus syuyukh fi hamasatus syabab). Bukan semangat orang tua dengan pengetahuan pemuda yang dangkal. Para khutoba ini hendaknya mampu melakukan tahridh (pengerahan massa) dan menumbuhkan tahmis (semangat) berdasarkan iman dan pengetahuan bukan emosi dan kebencian. Kedua, al faqih asy sya'biy , orang-orang faqih di tengah masyarakat, yaitu para ulama yang takut pada Allah dan hidup di tengah-tengah masyarakat, memberikan bimbingan dan fatwa-fatwa yang lurus dan benar tentang masalah yang dihadapi masyarakat. Menjadi pendidik dan tempat bertanya yang tidak menimbulkan keraguan dan perpecahan. Selalu menghidupkan toleransi antar mazhab (fikih) yang menjadi titik temu yang mempersatukan ummat. Dari itu ia senantiasa dicintai, didukung dan dibela oleh masyarakatnya. Khotib jamahiriy menjadi pendorong masyarakat ke jalan Alloh sedang faqih sya'biy membimbing masyarakat dalam jalan Alloh. Dia bukan faqih jetset yang memberi fatwa berdasarkan order, tetapi benar-benar menyuarakan pimpinan Allah dan RasulNya. Ketiga, al-Amal atau at ta'awuni al khoiriy , aktifitas kejama'ahan sosial. Tujuan utama dari aktifitas ini adalah memfungsikan masjid-masjid sesuai dengan bimbingan Rasululloh. Untuk itu harus dibuat kerjasama sosial dengan berbagai lapisan masyarakat untuk mendekatkan ummat pada masjid. Sasaran program ini adalah ta'zizud da'iyah, memperkuat para da'i sebagai pelopor di berbagai bidang. Para da'i kita hendaknya didukung sepenuhnya agar mampu menyantuni massa umat sehingga ia memiliki gengsi dan prestise yang tinggi yang membuat umat ikut pada arahannya. Biasanya masyarakat kita sangat patuh bila dakwah dimulai dengan santunan yang memperhatikan kebutuhan mereka. Keempat, masyru 'al iqtishodis sya'biy , menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil. Harakah dakwah harus turut meningkatkan taraf ekonomi umat Islam yang pada umumnya masih sangat lemah.Usaha-usaha ekonomi hendaknya usaha yang ringan, mudah dijangkau dan memasyarakat. Berbagai klub, perhimpunan atau organisasi ekonomi kecil perlu ditumbuhkan dan dibimbing oleh para da'i yang sekaligus menjadi pembimbing rohani mereka. Sasaran program ini adalah agar masyarakat pendukung da'wah dapat iktifa 'dzati (mandiri) di satu sisi dan di sisi lain bisa mengendalikan laju ekonomi secara keseluruhan.Kelima, al I'lam as sya'biy , penerangan yang memasyarakat. Potensi I'lam hendaknya tumbuh dari orang-orang yang memahami aqidah, fikrah dan manhaj serta mundhobith (disiplin) kebijaksanaan jama'ah, agar pembentukan ro'yul 'aam (opini umum) sesuai dengan rencana da'wah. Sebab bidang ini merupakan titik rawan amni suatu gerakan da'wah. Pers yang ditumbuhkan dari dalam adalah pers yang murah dan mudah dibaca oleh masyarakat. Bukan penampilan elite yang membuat umat enggan membacanya atau menyedot potensi harakah dalam mengerjakannya. Yang penting bukan nama besar tetapi kemampuan menyebar dan meluas dengan cepat dalam berbagai bentuknya yang ringan; buletin, brosur, informasi, majalah, koran dan aneka bentuk lainnya yang murah dan terjangkau, menyebar dari berbagai sumber dan dikerjakan cukup oleh setiap rumah tangga.Selain itu perlu juga mendukung pers umat Islam yang telah ada agar memiliki ruh dan fikroh Islami. Para pakar jama'ah dakwah hendaknya menyumbangkan tulisan-tulisan bermutu pada pers yang dimiliki umat Islam. Kapan perlu kita mampu menumbuhkan pers kaum muslimin menjadi pers harakah. Yaitu pers yang dikendalikan oleh personil harakah kita. Dalam I'lam Sya'bi perlu pula dimunculkan pendidikan Islam melalui radio-radio, televisi dan sebagainya. Tentu melalui thoriqoh yang mungkin bisa ditempuh dengan tidak meninggalkan unsur-unsur syar'i dalam penyajiannya. [] *) http://al-intima.com/taujih-ust-hilmi-aminuddin/menumbuhkan-kemampuan-menguasai-masyarakat * posted by:Blog PKS Piyungan - Bekerja Untuk Indonesiahttp://www.pkspiyungan.org/2012/01/menumbuhkan-kemampuan-menguasai.html

Rabu, 21 Desember 2011

Sukses Kerja, Sukses Rumah Tangga ~ Fresh 'n Inspiring

Sukses Kerja, Sukses Rumah Tangga ~ Fresh 'n Inspiring

Setiap insan mendambakan kesuksesan dalam hidupnya. Termasuk sukses kerja dan sukses dalam berumah tangga. Namun, kenyataannya tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan, bukan? Inilah yang menjadi latar belakang diadakannya talkshow yang telah diselenggarakan Rabu (20/12) kemarin di Aula Gedung B DJBC.


Dalam rangka memeriahkan syiar menyambut Tahun Baru islam, DKM mengundang dua narasumber yang begitu romantis yaitu Satria Hadi Lubis (SHL) dan Kingkin Anida yang notabene adalah pasangan suami istri. Jarang-jarang melihat sepasang suami istri satu panggung untuk menjadi narasumber sekaligus.

Dalam atmosfer yang fresh dan santai kedua narasumber menyampaikan materi terkait kesuksesan dalam bekerja dan berumahtangga. Ditambah Om Momod (Moderator,-red) yang mampu memutar jalannya talkshow dengan lebih segar dan menarik. Siapa lagi kalo bukan, the one and only Mr.Ardani.

Talkshow dimulai dengan penjelasan pa SHL terkait defini sukses. Bukan kaya? bukan pangkat? bukan juga popularitas? kali ini saya setuju dengan dosen STAN ini yang juga merupakan trainer life improvement. Sukses dapat diartikan sebagai berikut:
1. Keseimbangan Hidup
2. Bermanfaat Bagi Orang Lain
3. Proses Mencapai Cita-cita Mulia
4. Menikmati Kemenangan-kemenangan
5. Akhir yang Baik

Penekanan makna sukses adalah dalam hal menuju keseimbangan hidup. Keseimbangan internal terkait akal yang cerdas, hati yang hidup dan jasad yang sehat. Sedangkan, keseimbangan eksternal adalah keseimbangan peran dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.

Terkait sukses dalam keluarga Ibu Kingkin Anida menjelaskan JANGAN jadikan keluarga seperti uraian berikut ini:
- Keluarga Kuburan yang kering akan sentuhan spiritual,
- Keluarga Televisi yang kering akan sentuhan intelektual tanpa budaya membaca atau diskusi. Atau dengan kata lain hanya standby di depan TV.
- Keluarga Terminal yang kering dengan sentuhan emosional, rumah hanya sebagai tempat singgah untuk rehat dan tidur saja.
- Keluarga Rumah Sakit yang tidak memperhatikan kesehatan tubuh.

Tetapi, Jadilah layaknya Keluarga Surga seperti yang diajarkan Nabi, "Baiti Jannati" Rumahku Surgaku tempat berbagi kasih sayang juga tempat menempa spiritual, akal dan emosional.

Selama pemaparan, sepasang narasumber ini beberapa kali saling berkomentar terkait rahasia-rahasia diantara mereka berdua (tentunya bukan aib ya). Sempat beberapa momen mereka beradu argumen tentang watak suami begitu sebaliknya uniknya watak istri. Hingga sampailah pada sesi terakhir yaitu, setiap peserta diminta menuliskan surat cinta kepada pasangannya (tentunya suami/istri yang sah ya).

Hebohnya, sang moderator Pak Ardani diminta untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada sang istri yang memang hadir juga sebagai peserta. Dengan wajah tersipu beliau menyampaikan isi hatinya,
"Jujur baru kali ini saya harus mengekspresikan rasa cinta kepada istri dengan kata-kata."
"I love you full"
Sontak audiens tertawa mendengar ekspresi cinta beliau yang singkat namun mendalam

pa Ardani katakan cinta

Tak lupa, salah satu Direktur diadulat untuk maju ke depan guna mengekspresikan rasa cintanya kepada sang istri. Awalnya beliau menolak untuk blak-blakan, namun akhirnya luluh juga. Sang istri yang juga hadir mewakili ibu-ibu dharmawanita tak kuasa untuk berdiri, meski akhirnya maju juga. Jangan tanya ya kata-kata yang diucapkan sang Direktur? Very Romantic sampai sang Istri berkaca-kaca.

salah satu direktur katakan cinta

Jujur, ini acara talkshow kantor yang begitu mengesankan. Alhamdulillah, tidak rugi untuk meluangkan waktu selama dua jam (secarra gratis pula hehe). Terima kasih kepada Pak SHL dan Bu Kingkin Anida serta seluruh panitia yang terlibat guna suksesnya acara ini.

Best Regards
Iswandi Banna
Rawamangun, 21/12/11